Life Story

Berjuang Melawan Mitos Bibir Sumbing

Dokter Farida bersama salah seorang pasiennya

Sebagai volunteer dalam melakukan operasi bibir sumbing selama delapan tahun terakhir di Nusa Tenggara Barat, drg. Farida Istiarini, Sp.Ort, memiliki banyak pengalaman yang kemudian dijadikannya pelajaran berharga dalam hidupnya. Demi melihat senyum anak-anak NTB dan membantu para penderita bibir sumbing lainnya, orthodontist putra daerah NTB ini rela menghabiskan sebagian waktunya di meja operasi untuk memperbaiki kekurangan pasien penderita bibir sumbing. Banyak pengalaman menarik dialami Farida selama delapan tahun menjadi volunteer. Selain telah melakukan operasi bibir sumbing bagi ratusan penderita sumbing di NTB, ia juga aktif mensosialisasikan tentang banyak hal berkaitan dengan bibir sumbing dengan turun dari satu desa ke desa lainnya.

Di samping itu ia kerap turun langsung ke masyarakat untuk mencari pasien bibir sumbing yang menurutnya, ternyata tidak semudah seperti yang dibayangkannya. Bahwa penderita bibir sumbing maupun keluarganya akan gembira dan menerimanya dengan bahagia karena ia dan rekan-rekannya akan memberikan pelayanan gratis mulai dari operasi dan perawatan sampai sembuh. “Jangankan mau dioperasi, didata saja sangat sulit. Keluarga penderita bibir sumbing sangat tertutup, khususnya di awal kami melakukan bakti sosial,” ungkapnya.

Di masa awal ia dan timnya turun untuk menemukan para penderita bibir sumbing untuk dibantu operasi secara gratis, Farida harus mengalami penolakan dari masyarakat yang terbilang tertutup dalam hal ini. Tertutupnya masyarakat tentang bibir sumbing ini lebih karena ada mitos turun temurun yang berkembang di masyarakat terutama di perdesaan tempat dimana banyak sekali ditemukan kasus bibir sumbing. Ada yang menganggap bahwa bibir sumbing itu lahir sebagai takdir dan takdir tersebut tidak boleh diubah alias jika terlahir sumbing maka itulah ketentuan dari Sang Pencipta dan tidak boleh diperbaiki dengan cara apapun termasuk operasi. “Selain itu ada pula mitos yang dipercaya bahwa anak yang lahir dengan bibir sumbing mendatangkan rezeki. Kalau sumbing ditutup (dioperasi-dijahit) maka rezeki juga akan tertutup,” ungkap Farida.

Yang lebih menyedihkan adalah pandangan bahwa bibir sumbing adalah dianggap tabu dan anak penderita bibir sumbing tersebut dianggap dapat membawa sial dalam keluarga. “Ini yang membuat di beberapa kasus banyak dikucilkan bahkan dipasung oleh keluarga. Ada juga yang dengan sadar mengucilkan diri dan setelah kakek-kakek nenek-nenek baru mereka keluar,” ungkap Farida dengan nada sedih. Sebagai seorang ibu, Farida tersentuh hatinya membayangkan betapa terlukanya anak-anak penderita bibir sumbing yang hidup tertekan dalam kungkungan pandangan seperti itu. Akibatnya mereka banyak yang tidak sekolah. Bahkan ada pasien yang dioperasinya setelah puluhan tahun mengucilkan diri dan ia baru bisa tersenyum bahagia di usia 60 dan 70 tahun. “Bisa dibayangkan mereka hidup tertekan selama masa itu,” katanya.

Hal inilah yang memicu semangat Farida untuk berjuang dan selalu menyiapkan waktunya guna melakukan operasi bibir sumbing gratis demi melihat anak-anak NTB dan juga ibu mereka serta keluarganya dapat tersenyum bahagia. Perjuangan Farida bersama timnya untuk menerobos kebiasaan pandangan turun temurun dalam masyarakat ini tidaklah mudah. “Sekalipun kami pernah mengalami masa-masa sulit menerobos mitos tersebut sampai pernah diusir dari sebuah kampung saat mencari penderita bibir sumbing untuk dioperasi, saya tidak ingin menyerah,” katanya. Karena itulah, sampai saat ini, Farida tetap memiliki waktu mengurus anak-anak penderita bibir sumbing.

Selain menjalankan tugasnya sebagai pegawai negeri di RS Daerah Lombok Barat, Farida bekerja sama dengan organisasi perempuan di NTB seperti bergerak bersama PKK yang memiliki kader hingga ke dusun-dusun, melakukan pendataan penderita bibir sumbing langsung dari rumah ke rumah serupa tengah menjemput bola. Ia minta bahwa semua kelahiran sumbing dapat segera dilaporkan agar bisa selekas mungkin ditangani sehingga tidak menimbulkan kerugian beruntun khususnya dalam hal psikologis terutama bagi si bayi. Ia bersama timnya juga melakukan pendekatan selain dengan keluarga penderita bibir sumbing juga kepada tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama terutama di tempat banyak ditemukannya kasus bibir sumbing.

Farida pernah menemukan dua kasus bayi lahir sumbing yang diabaikan oleh ibunya sendiri. Kasusnya terjadi di Lombok Barat. Begitu mendengar ada informasi bayi lahir sumbing, Farida mendatangi keluarga tersebut. “Karena shock melihat anaknya lahir sumbing, ibu si bayi membiarkan anaknya begitu saja bahkan tidak mau menyusui bayinya,” kata Farida. Berulang-ulang Farida memberitahukan dan meyakinkan ibu dan keluarga si bayi agar tidak bersedih karena sumbing anaknya sangat bisa diperbaiki lewat dioperasi.

Ia juga menekankan bahwa operasi bibir sumbing anaknya dilakukan tanpa biaya alias gratis. “Saya bahkan memberikan foto bayi sumbing yang lebih parah dari itu dan menjadi jauh lebih baik setelah dioperasi untuk meyakinkan bahwa kelak bayinya bisa menjadi jauh lebih baik dari kondisinya saat itu. Namun tetap susah mereka terima,” ungkapnya.

Farida sampai ikut membantu ibu bayi untuk menyusui anaknya dengan menutup sumbing di bayi dengan plester. Ia juga mengajari dengan detil ibu dan keluarga si bayi agar si bayi bisa menyusu dengan benar selama sumbing belum bisa dioperasi. Ia juga mengajari cara merawat si bayi agar tetap sehat sehingga operasi kelak bisa dilakukan dengan aman.

Pada kasus bayi sumbing yang terjadi pada bibir dan langit-langit harus menjalani setidaknya dua kali operasi dimana operasi pertama baru bisa dilakukan pada usia bayi minimal enam bulan dan bayi dalam kondisi sehat. Untuk mendapatkan kondisi bayi yang sehat dan siap operasi, tentu perawatan pada bayi tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dan yang bisa melakukan itu adalah ibu dan keluarga si bayi. Ia sangat berharap itu bisa dilakukan oleh si ibu dan keluarganya namun itu terabaikan. Bahkan sampai sempat diberi susu formula gratis untuk diberikan pada bayi, juga tidak dilakukan dengan baik. “Saya dapat kabar bayi tersebut akhirnya meninggal,” ujar Farida sedih.

Hal ini juga menjadi salah satu kendala untuk bisa menuntaskan bibir sumbing di Lombok. Dimana masih banyak perempuan yang menjadi ibu dalam usia yang sangat muda, sehingga ketika mendapatkan bayi menderita sumbing situasi psikologi si ibu tidak mampu menerima dengan bijaksana.

Begitulah pengalaman Farida selama ini. Ia memaknai benar proses hidupnya kala menjadi “ibu” bagi anak-anak sumbing di NTB. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga menengah ke bawah dan tinggal di pelosok-pelosok desa. “Pengalaman bersama mereka adalah pengalaman hidup yang tidak bisa saya dapatkan di sekolahan,” katanya. Dari sana ia mengaku dapat belajar melihat hidup yang sesungguhnya. Bahwa itu mengajarkannya untuk tidak melihat ke atas melainkan masih jauh lebih banyak dari mereka yang tidak beruntung dibandingkan dengan dirinya. “Jika saya merasa hidup ini berat maka saya langsung ingat bahwa masih ada yang lebih berat dari apa yang saya alami, yaitu mereka,” katanya. Itu membuatnya bisa lebih mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Sang Pencipta pada dirinya. (naniek.itaufan@cybertokoh.com)

 

 

To Top