Buleleng

Petani Mangga Depeha Terancam Gagal Panen

I Made Wira menunjukkanMangga Depeha miliknya yang tidak dikultar

Mangga merupakan salah satu komoditi buah yang mempunyai prospek cerah untuk dikembangkan di berbagai daerah. Cara pemeliharaan yang tidak begitu sulit membuat beberapa daerah di Buleleng menjadikan mangga sebagai buah lokal unggulan untuk mendongkrak perekonomian. Terlebih masing-masing daerah memiliki varian mangga lokal dengan keunggulan tersendiri. Salah satunya adalah mangga harum manis Depeha asal Desa Depeha Kabupaten Buleleng.

Menurut Prebekel Desa Depeha I Made Semaraguna, keunikan mangga Depeha terletak pada campuran dua rasa pada daging buahnya yaitu manis dan masam (kecut). Perpaduan dua rasa tersebutlah yang menyebabkan mangga Depeha banyak dicari bahkan hingga ke luar Bali. Selain perpaduan dua rasa tersebut, mangga harum manis dari Depeha memiliki keunggulan lain yakni tekstur daging yang tebal dan halus dan biji yang kecil.

Beberapa tahun belakangan produksi mangga Depeha menurun sangat drastis. Penurunan produksi diakibatkan perubahan iklim yang cukup ekstrem. “Dulu, kalau panen tiba, petani bisa mendapat hasil hingga beberapa ton. Sekarang dapat beberapa kilo saja sudah syukur,” jelasnya.

Karena kondisi tersebut, banyak petani yang beralih menggunakan pupuk nonorganik untuk menghindari gagal panen. Bahkan untuk merangsang pertumbuhan dan buah, petani mengunakan sistem kultar yang sangat berpengaruh terhadap kualitas mangga yang dihasilkan. “Kultar ini bertujuan untuk merangsang pohon mangga agar cepat berbuah. Kalau biasanya panen dilakukan di akhir tahun dengan kultar, panen dapat dilakukan pada bulan November,” jelasnya.

Efek tidak baik tentu ditimbulkan oleh sistem kultar tersebut. Buah mangga akan terasa lebih asam dan daya tahan setelah paskapanen yang relatif singkat. “Rata-rata mangga yang sudah matang setelah panen akan bertahan sampai satu minggu. Akan tetapi setelah ada sistem kultar, mangga hanya mampu bertahan dua sampai tiga hari,” imbuhnya.

Hal inilah yang membuat ketenaran mangga Depeha mulai menyurut sehingga produksi dan pemasarannya tidak lagi tinggi. Pihaknya sangat mengharapkan janji pemerintah yang akan merevitalisasi keberadaan mangga Depeha agar tetap dapat mempertahankan pamornya sebagai mangga yang memiliki citarasa tinggi dari Buleleng. “Katanya, di tahun 2017 nanti akan dijadikan pilot project, ya semoga saja benar,” tegasnya.

Sementara itu, ketika kebanyak petani memilih sistem kultar untuk menghindari gagal panen, Made Wira salah seorang petani yang tetap menggunakan cara organik dalam pemeliharaan mangganya. Ia  mengklaim bahwa dirinya merupakan petani satu-satu dari Desa Depeha yang selama ini menghindari sistem kultar untuk merangsang buah pada mangganya.

Menurutnya, akan sangat terlihat perbedaan antara mangga organik dan yang dikultar dari segi rasa, bentuk, dan daya tahan paskapanen. Ia tidak menampik jika dengan cara organik, produksi buah jauh di bawah dari hasil dikultar. Bahkan waktu panen pun lebih lama dari hasil pengkultaran. “Dari lima puluh empat pohon paling-paling menghasilkan beberapa kilo saja,” ungkapnya. Hal tersebut dikarenakan cuaca yang tidak menentu dan serangan dari hama penyakit. “Kalau kena hujan beberapa hari saja langsung busuk,” tambahnya.

Beberapa tahun belakangan ini dirinya mengatakan sudah mengalami gagal panen beberapa kali. Atas kerugian tersebut, bukan tidak mungkin dirinya juga akan ikut menggunakan sistem kultar. “Hasil produksi sedikit dibarengi dengan harga anjlok, bagaimana petani bisa untung. Niat untuk mengkultar memang ada kalau terus-terusan merugi,” paparnya.

Petani kelahiran 31 Desember 1958 tersebut sangat mengharapkan bantuan dan solusi permasalahan tersebut dari dinas terkait. “Ya untuk dinas terkait mudah-mudah bisa segera ke lapangan untuk mencari solusi dari permasalahan ini,” tandasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

 

To Top