Connect with us

Edukasi

XL Pilih 10 Solusi Digital Terbaik Karya Mahasiswa

Published

on

Teknologi digital yang semakin maju membuka peluang luas untuk lahirnya berbagai solusi inovatif guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat. PT XL Axiata Tbk (XL) telah menetapkan 10 solusi digital terbaik karya para mahasiswa Indonesia untuk maju dalam babak final ajang Kompetisi “Smart Digitizing Your City 2016”. Karya-karya tersebut terpilih dari 1069 proposal yang masuk ke panitia sejak dibuka pada Maret 2016. Semua karya yang terpilih cukup inovatif dan mengacu pada problem masyarakat perkotaan, sekaligus menjadi usulan setiap peserta untuk ikut memecahkan masalah yang dihadapi oleh warga dan pemerintah kota tempat tinggal mereka.

Penilaian Dewan Juri di babak final telah menetapkan karya dari mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS) sebagai Juara 1, dengan karya solusi digital Safety Parking, Juara 2, Universitas Gajah Mada, dengan karya solusi digital TransApp dan Juara 3, Poltek Negeri Surabaya dengan karya solusi digital The Surface. Pada kesempatan ini XL juga memberikan penghargaan khusus kepada peserta ITS dengan karya Taponesia.

Chief Corporate Affairs Officer XL, ,  mengatakan, dari kompetisi ini lahir banyak ide hebat dari anak-anak muda Indonesia, mereka yang masuk generasi millennial, yang memang sejak lahir sudah ada di era digital. “Mereka memiliki begitu banyak ide dan gagasan dalam mengaplikasikan teknologi digital di kehidupan sehari-hari. Melalui kompetisi ini, mereka pun mendapatkan saluran untuk mengeksplorasi potensi teknologi digital yang sangat besar itu guna mencari solusi bagi problem sosial yang dihadapi masyarakat. Saya cukup surprise dengan ide-ide mereka, yang sangat original dan tak terbayangkan sebelumnya. Satu hal yang bisa kita petik, dengan memanfaatkan teknologi digital secara positif, sesuatu problem yang sepertinya tak mungkin diatasi bisa menjadi mungkin,” tegasnya.

Para peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di berbagai kota di Indonesia, termasuk dari Kawasan Timur Indonesia. Komposisi peserta 50% dari Jawa, 10% kalimantan, 25% Sumatera, 5% Bali dan NTB, 2% Maluku dan NTT, dan 8% dari Sulawesi. Kompetisi Digital Leaders ini diikuti dengan dua jenis kepesertaan, yaitu individual atau pribadi dan kelompok. Dari 1069 peserta yang mendaftar, sekitar kurang lebih 700 peserta mengikuti kompetisi untuk kategori perorangan dan sisanya grup kelompok yang terdiri dari 3 orang mahasiswa. Tahap berikutnya adalah panitia seleksi telah memilih 100 proposal untuk masuk dalam tahapan seleksi berikutnya.

Advertisement

Ada 3 kategori yang dikompetisikan dalam kompetisi ini. Pertama, e-public service atau bagaimana meningkatkan layanan publik dikotanya secara digital. Kedua, e-governance yakni bagaimana birokrasi dilakukan dengan efektif lewat digitalisasi. Ketiga, e-financial atau menggeliatkan sektor finansial dengan inovasi digital. Dari jumlah proposal inovasi yang masuk, sebagian besar atau 70 % peserta berkompetisi dalam kategori e-public service, 20 % memilih kategori e-finance, dan 10% e-governance.

Ke-10 peserta yang karyanya masuk babak final menyajikan ide solusi digital yang beragam. Mulai dari solusi untuk memberdayakan barang-barang pribadi yang tak terpakai di rumah, hingga solusi mengenai parkir yang aman. Ada juga ide solusi untuk mengatasi persoalan terkait kesehatan, yaitu bagaimana mengelola antrian pasien secara digital, juga solusi mendapatkan informasi ketersediaan bank darah. Proposal finalis lainnya mengajukan solusi yang bisa diterapkan oleh pemerintah daerah, antara lain untuk mengatasi masalah sampah, serta penyediaan transportasi umum yang informatif. Karya lainnya mengacu pada pelestarian lingkungan dengan menyediakan solusi untuk mengadopsi pohon dan membersihkan sampah di pantai.

Para finalis datang dari berbagai kampus di berbagai kota. Mereka adalah Aniza Azizah (ITB/Bandung), Azzura Yushara (Universitas Syiah Kuala/Banda Aceh), Eksan Anggara (Stikes Surya Global/Yogyakarta), I Gde Agus SN (Telkom University/Bandung), Ihsan Fikri (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya), Mutia F Putri (Universitas Sriwijaya/Palembang), Shierly Saraswati (ITS/Surabaya), Qonita Haula (UGM/Yogyakarta), Muhammad Ali Fikri (ITS/Surabaya), Muhammad Wiryo (UI/Depok).

Tahapan seleksi kompetisi Digital Leaders itu sendiri terdiri dari tiga tahap. Masing-masing terdiri dari seleksi administratif, yang menilai sisi orisinalitas, relevansi dengan problem yang dihadapi oleh kota asal peserta, dan feasibilitas dari inovasi digital yang ditawarkan untuk bisa direalisasikan. Selanjutnya, peserta yang lulus akan diminta membuat proposal detail dan e- poster. Terakhir, tahap final, yaitu presentasi dan interview.

Dewan Juri terdiri dari Teguh Prasetya – Deputy CEO PT Alita Praya Mitra dan Founder Indonesia Cloud Forum, Prasetya Andi W. ST, MT, Manajer Tim Pengembangan Teknologi Informasi Jakarta Smart City, Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H., Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif, Turina Farouk, Vice President Corporate Communication PT XL Axiata Tbk, serta Arifa, Head of Internet of Things PT XL Axiata Tbk.

Advertisement

XL menyediakan hadiah bagi tiga pemenang berupa uang tunai, masing-masing untuk Juara 1 Rp 30 juta; Juara 2 Rp 20 juta, dan Juara 3 Rp 10 juta. Selanjutnya, agar karya para peserta tidak berhenti pada ide dan kompetisi, XL akan memfasilitasi agar bisa diadopsi oleh pemerintah daerah masing-masing. Apabila ide tersebut sesuai dengan kebutuhan di kota asal, maka XL akan membantu untuk merealisasikannya melalui program XL XmartCity yang membantu pengembangan sejumlah kota dalam mengimplementasikan solusi digital untuk mengatasi problem perkotaan. (rls)

BACA  Undhira Bedah Buku Apokaliptik
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Dorongan Hati untuk Mengabdi, Hadirkan Kegembiraan dan Senyum

Published

on

Siswa bersama Relawan Pengajar & Relawan Jejak Literasi Bali (cybertokoh/ist)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 membuat sekolah ditutup dan pembelajaran dilaksanakan dari rumah (daring) sejak Maret 2020. Hal ini dilakukan Pemerintah Indonesia untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di lingkungan pendidikan. Melihat kondisi ini, Gede Andika pun menginisiasi program belajar yang berkorelasi dengan kepedulian lingkungan. Apa program Andika yang membuatnya meraih penghargaan Satu Indonesia Award dan bagaimana ia menyiapkan senyum masa depan anak-anak Pemuteran?

Tiap hari Minggu, anak-anak Desa Pemuteran sudah berkumpul. Mereka belajar bahasa Inggris yang dari pukul 09.00 sampai pukul 15.00 yang terbagi menjadi tiga sesi. Selain belajar bahasa Inggris, ada kegiatan lain. Jenjang SD (kelas 2-3) diajak untuk belajar memilah sampah, jenjang SD (kelas 4-6) diajak untuk membuat karya kerajinan dari sampah, dan jenjang SMP diajak pembersihan ke tempat umum untuk mengambil sampah plastik.

“Kegiatan belajar dievaluasi dengan ujian, setiap term terdapat ujian sekali dalam waktu 3 bulan. Pada akhir term, ada pembagian beras untuk lansia kurang mampu di Desa Pemuteran dari hasil sampah plastik yang ditukarkan ke Plastic Exchange,” ujar Andika, penerima Apresiasi Khusus Pejuang Tanpa Pamrih Pandemi Covid 19 dan Finalis Favorit ajang Satu Indonesia Award Astra.

Advertisement

Gede Andika

Andika sebagai inisiator program Kredibali mengajak perangkat desa dan lembaga peduli sampah di Desa Pemuteran untuk berkolaborasi. “Jadi ada saya dan rekan-rekan di komunitas yang saya dirikan tahun 2019 yaitu Jejak Literasi Bali, perangkat desa, pihak keamanan desa, dan Plastic Exchange. Selain itu, ada relawan dari anak muda asli Desa Pemuteran yang turut mengabdi untuk mengajar bersama saya,” ungkap Researcher Assistance & Founder Komunitas Jejak Literasi Bali ini.

Kredibali adalah Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan, penyelenggara kursus Bahasa Inggris bagi anak-anak SD sampai SMP yang diluncurkan bulan Mei 2020 di Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng, Bali. Siswa yang berminat kursus diminta membayar dengan sampah plastik yang dikumpulkan dari limbah rumah tangga masing-masing. Program ini diadakan sebagai respons terhadap pandemi Covid-19 yang membuat siswa tidak bisa belajar di sekolah.

Kredibali bekerjasama dengan Plastic Exchange, lembaga nirlaba di Bali yang mengelola bank sampah. Pertama sampah plastik yang dikumpulkan siswa ditimbang dengan satuan kilogram. Lalu sampah ditabung di Plastic Exchange untuk ditukar beras. Beras yang didapat akan dibagikan kepada penduduk lanjut usia yang kurang mampu di sekitar Desa Pemuteran. Acara pembgaian beras dilakukan setelah test kemajuan kompetensi di setiap semester.

BACA  Wujudkan.com – XL Gelar Crowdfunding School & Pitching Session untuk Filmmaker

Aktivitas Kredibali bisa lancar di tengah pandemi setelah berkoordinasi dengan perangkat desa Pemuteran. Syaratnya mematuhi protokol kesehatan dan semua pesertanya menjaga jarak. Pemerintah Desa Pemuteran bahkan mendukung dengan meminjamkan ruangan rapat untuk sarana belajar. Kredibali tidak saja mengajarkan bahasa Inggris, tapi juga edukasi untuk peduli lingkungan dengan mendaur ulang sampah plastik, dan masih ditambah mengasah kepekaan sosial dengan memberikan beras bagi sesama umat yang kurang mampu. Selain melibatkan anak-anak yang menjadi siswa, sedekah multilevel ini pun menyentuh orangtua mereka.

Salah satu siswa yang ikut dalam program ini adalah Kadek Anindya Sesa Iswandari, siswi kelas II SMP 2 Gerogak. Dara yang akrab disapa Anin ini menuturkan ikut pelajaran bahasa Inggris berkat dukungan ibunya. “Ibu saya dapat info di medsos sekitar 8 bulan lalu. Mr. Dika buka kursus gratis. Saya pun daftar via google form. Jadwal les tiap Minggu pukul 11,” ujarnya.

Anin yang memang senang bahasa Inggris sejak SD sangat bersemangat ikut les. Apalagi teman-temannya di sekolah juga ada yang ikut. Selain belajar bahasa Inggris, mereka juga mendapat motivasi dari Mr. Dika agar terus semangat belajar. “Mr. Dika memberikan kami motivasi, masa muda harus giat belajar,” imbuh Anin yang bercita-cita menjadi presenter dan ingin mempelajari bahasa asing lain.

Advertisement

Kembangkan Potensi Desa
Sejak pandemi Covid-19 melanda, pembelajaran lebih banyak dilakukan secara daring. Strategi dan rencana awal yang baik untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh ini menjadi solusi pencegahan penyebaran Covid-19. Namun dibalik kebijakan tersebut, tidak semua anak siap untuk mengikuti kelas daring. Kendalanya, siswa sulit memahami materi sekolah, metode belajar yang terbilang mahal, dan fasilitas dukung yang tidak dimiliki oleh siswa.

“Desa Pemuteran adalah desa kecil yang berkembang karena pariwisata. Sejak Covid-19 diumumkan pertama kali masuk ke Indonesia sangat berdampak bagi perekonomian Desa Pemuteran yang basis ekonominya adalah pariwisata. Dengan tingkat rata-rata ekonomi menengah ke bawah dan menerima dampak pandemi, hal ini menjadi hal yang memaksa setiap keluarga harus memikirkan kebutuhan primer dari pangan terlebih dahulu daripada memfasilitasi anak-anak untuk dapat ikut belajar online dengan kebutuhan gawai atau laptop. Kemampuan orangtua untuk memenuhi kebutuhan anaknya dalam belajar online dan siswa juga yang merasa sulit belajar secara online karena masalah kuota yang mahal membuat banyak anak akhirnya tidak bisa ikut belajar online dari rumah,” ujar Andika.

BACA  XL Hadirkan Aplikasi “LISA” untuk Tingkatkan Produktivitas

Kekhawatiran mengenai keberlangsungan proses belajar siswa dengan keterbatasan yang dimiliki menjadi alasan yang mendorong pria kelahiran 21 April 1998 ini untuk melakukan kelas luring khususnya bahasa Inggris. Desa Pemuteran masuk dalam Desa Pariwisata sehingga mudah untuk menarik siswa dalam belajar bahasa Inggris. Bahasa menjadi kebutuhan penting bagi generasi Desa Pemuteran berikutnya, karena desa ini memiliki potensi yang dapat dikembangkan dalam mendukung pariwisata dan beberapa kali telah mendapatkan penghargaan nasional maupun internasional. Upaya antisipasi agar anak-anak tetap melakukan aktivitas positif dan proses belajarnya tetap berlangsung dengan baik, akhirnya Andika bekerjasama dengan desa untuk menginisiasi kelas bahasa Inggris.

“Respons semua pihak sangat baik, karena program ini juga berbasis pada keadaan dengan adanya data dukung yang menunjukkan kondisi kurang baik jika anak-anak tidak difasilitasi kelas belajar ditengah pandemi. Oleh karena itu, aparatur desa terus mendukung dan orangtua rutin melakukan pengawasan belajar siswa di rumah untuk memaksimalkan hasil capaian belajar,” jelas mahasiswa Magister Sains Ilmu Ekonomi – UGM ini.

Suka duka pun dialami Andika. Sukanya, selama ini selalu ada kebahagiaan bagi dirinya dan anak-anak karena kelas sangat interaktif. Walaupun awalnya belajar dengan keterbatasan yaitu tanpa kamus bahasa Inggris, namun proses pembelajaran dirancang agar tetap menarik, akhirnya setelah 3 bulan periode 1 berjalan mereka dapat memfasilitasi kamus untuk semua anak. Kemampuan anak-anak cenderung berbeda, sehingga harus ada usaha lebih untuk mengevaluasi kemajuan belajar per siswa. Dukanya ia katakan tidak ada karena semua hal yang dimulai dengan dorongan hati untuk mengabdi, membuat setiap momen berlalu dengan kegembiraan dan menghadirkan senyum bersama anak-anak.

Advertisement

Sebagai warga asli Pemuteran, Andika punya harapan untuk anak-anak Pemuteran. “Ke depannya, semoga kelas bahasa Inggris ini dapat menjadi program yang baik untuk input belajar anak-anak dijenjang pendidikan formal dimulai dari mata pelajaran Bahasa Inggris dan nantinya mereka akan dapat menjadi pendukung bagi pengembangan sektor pariwisata di Desa Pemuteran,” ujar pemilik moto “Berkarya dan Berbagi untuk Menciptakan Legacy” ini.

BACA  PJI dan Citi Indonesia Gelar ‘Youth Sociopreneur Initiative’

Apresiasi Khusus Pejuang Tanpa Pamrih Pandemi Covid 19
Apresiasi pun diraih Andika dalam Program SATU Indonesia Award 2021 yang digagas Astra. Ia menjadi penerima Apresiasi Khusus Pejuang Tanpa Pamrih Pandemi Covid 19 dan Finalis Favorit.

“Awalnya saya daftar secara online, kebetulan mendapatkan informasi awards ini dari teman yang concern dengan bidang sosial juga. Akhirnya coba mendaftar tanpa ekspektasi akan lolos ke finalis dan bahkan menerima awards. Saya memulai program ini juga tanpa terpikirkan untuk mendapat apresiasi karena saya mengajar anak-anak. Bagi saya, mengajar anak-anak dan membagikan apa yang saya punya, sudah tugas wajib yang memang harus saya lakukan selagi mampu. Apalagi untuk desa kelahiran saya, karena kemajuan desa juga bagian kebanggaan saya,” ujarnya.

IB Astawa Suryaputra, Korwil Grup Astra Bali menjelaskan Astra International Tbk secara konsisten memberikan apresiasi SATU Indonesia Awards kepada anak bangsa yang tidak kenal lelah berkontribusi bagi masyarakat. “Astra percaya ada banyak anak muda di penjuru Indonesia terutama Bali yang selama ini rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi mewujudkan perubahan positif bagi lebih banyak orang, Grup Astra Bali sangat konsisten dan mendukung dari para finalis SIA untuk berkompetisi. Tahun ini Grup Astra Bali mampu mempertahankan kembali prestasi sama halnya dengan tahun lalu. Semoga ini dapat kembali menginspirasi pemuda-pemudi yang peduli akan sekitarnya, khususnya di tengah masa sulit ini dan tahun berikutnya dapat meraih prestasi di semua kategori,” ujar pria yang akrab disapa Ibhe ini.

Ia menambahkan tahun ini adalah tahun ke-12 pelaksanaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards dan Astra kembali memberikan apresiasi kepada generasi muda yang berkontribusi positif bagi masyarakat. (Ngurah Budi)

Advertisement

Continue Reading

Edukasi

PNB Siapkan Dua Langkah Strategis

Published

on

Direktur PNB I Nyoman Abdi, S.E., M.eCOM., dalam acara Media Gathering PNB di Sanur, Denpasar (cybertokoh/ist)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Sebagai perguruan tinggi vokasi, Politeknik Negeri Bali (PNB) terus berupaya meningkatkan kualitas. Ada dua langkah strategis yang mereka siapkan. Hal ini diungkapkan Direktur PNB I Nyoman Abdi, S.E., M.eCOM., dalam acara Media Gathering PNB di Sanur, Denpasar, Jumat (12/11). malam.

“Dua langkah strategis yang mulai kami gencarkan adalah memperkuat program SMK Diploma 2 (D2) Fast Track, dan internasionalisasi PNB, ” ujar Abdi.

Program D2 Fast Track ini, sebanyak 8 Program Studi yang diusulkan, sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Bahkan pada pertengahan tahun 2022, program rintisan ini sudah mulai akan digelar.

Advertisement

Program D2 Fast Track yang merupakan program pendidikan jalur cepat. PNB telah menggandeng Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam penyelenggaraannya nanti. Ada 172 SMK telah bermitra dengan PNB

Untuk upaya internasionalisasi PNB, Abdi mengatakan, telah menjalin kerjasama dengan sejumlah lerguruan tinggi di Eropa serta Amerika Serikat. Menurutnya kerjasama itu akan diikuti dengan program magang mahasiswa PNB di Benua Biru maupun Negeri Paman Sam. Mahasiswa diarahkan untuk bisa praktek kerja lapangan atau magang di Eropa. Tahun ini tujuannya ke Hungaria. Ke depan, akan ada program magang ke Jerman atau Swis.

BACA  Undhira Bedah Buku Apokaliptik

Abdi menambahkan, untuk mewujudkan semua program strategis dari PNB, dukungan media sangat diperlukan, guna lebih mendekatkan dengan masyarakat. “Informasi yang disampaikan media kepada masyarakat sangat perlu, sehingga ke depan anak muda semakin tinggi minat melanjutkan studi di PNB. Mari kita sama-sama bangun PNB agar lebih mendunia, agar mahasiswa asing juga bisa kuliah disini. (kmb)

Advertisement
Continue Reading

Edukasi

PTM Terbatas Dimulai, Penerapan Prokes Jadi Prioritas Utama

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Sejak 1 Oktober lalu Pemkot Denpasar resmi memulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas. Penerapan protokol kesehatan menjadi prioritas utama selain juga proses pendidikan. Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa mengingatkan bahwa tidak hanya murid dan orang tua murid saja yang mentaati protokol kesehatan, tetapi pihak penyelenggara pendidikan juga wajib mengikuti standar prosedur dari pemerintah.

“Karena kita ingin memaksimalkan pengendalian pandemi dengan pemenuhan hak pendidikan kepada masyarakat Kota Denpasar, dan kami tidak memaksa penggunaan seragam sekolah, dan kami mengapresiasi pengertian seluruh penyelenggara pendidikan terkait situasi ini,” ujarnya disela-sela meninjau hari pertama pelaksanaan Assesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) SMP di Kota Denpasar pada Senin (4/10). Sebanyak dua sekolah menjadi tujuan peninjauan, keduanya yakni SMPN 10 Denpasar dan SMP PGRI 9 Denpasar.

Dalam kesempatan tersebut, Wawali Arya Wibawa didampingi Ketua Komisi II DPRD Kota Denpasar, Eko Supriadi dan Plt. Kadisdikpora Kota Denpasar, IGN Eddy Mulya, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan, I Dewa Gede Rai berserta jajaran ini turut meninjau pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas di kedua sekolah tersebut.

Advertisement

Wawali Arya Wibawa mengatakan, program Assesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) SMP di Kota Denpasar dilaksanakan sebagai upaya untuk menjadi wahana pengembangan kompetensi dan karakter baik siswa maupun tenaga pendidik guna mendukung peningkatan mutu pendidikan.

BACA  Pengungsi Pelajar Diterima tanpa Syarat di Sekolah Terdekat

“Tentunya kami berharap melalui Assesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) SMP di Kota Denpasar ini mampu menjadi wahana pengembangan kompetensi dan karakter guna meningkatkan mutu pendidikan di Kota Denpasar,” jelasnya.

Plt. Kadisdikpora Kota Denpasar, IGN Eddy Mulya didampingi Kabid Pengembangan Pembinaan SMP, AA Gde Wiratama mengatakan, Asesmen Nasional merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Dimana, mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar seperti halnya literasi, numerasi, dan karakter serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.

“Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar yang dilaksanakan kepada sekolah melalui pelaksanaan test berbasis komputer kepada siswa kelas VIII, guru dan kepala sekolah,” jelasnya

Eddy Mulya mengatakan, Asesmen Nasional bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan harapan mampu menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.

Advertisement

“Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah satuan pendidikan yang diharapkan dapat mendorong satuan pendidikan dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran,” jelasnya. (Ngurah Budi)

BACA  XL Resmikan Pusat Layanan Mobile Broadband “Xplor” di Mataram

Continue Reading

Tren