Bunda & Ananda

Kenali Penanganan Bayi Prematur

Indonesia berada di urutan kelima terbesar penyumbang bayi prematur. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah menambah pengetahuan perawat, bidan, dokter umum, maupun spesialis anak tentang perawatan bayi prematur.

“Jika perawatan sudah dari awal dilakukan, pemberian nutrisi yang lebih bagus, kemudian stabilisasi yang lebih bagus, deteksi jantung lebih cepat kita lakukan sehingga nanti tumbuh kembangnya akan menjadi lebih baik. Jadi harapan kita untuk generasi yang akan datang tidak kalah bersaing dengan generasi yang dari luar,” ujar dr. I Wayan Dharma Artana, Sp.A(K), Ketua Panitia Seminar Ilmiah yang dilaksanakan RSIA Puri Bunda, Sabtu (5/11).

Ia menambahkan seminar ini dalam rangka untuk menurunkan angka mortalitas dari bayi-bayi prematur itu, karena bayi prematur di Indonesia masih cukup tinggi angka kejadiannya yakni kurang lebih 20%. Di Bali juga masih cukup tinggi. “Bayi terlahir prematur karena beberapa faktor. Ada karena faktor ibu, misalnya ibu yang memiliki hipertensi, menderita gula darah, berusia diatas 40 tahun atau ibu terlalu muda. Ada pula karena faktor bayi itu sendiri, misalnya memiliki kelainan bawaan penyakit jantung, serta faktor plasenta yang terlalu kaku atau terjadi pengapuran,” jelasya.

Seminar ilmiah membahas materi “Nutrisi pada Bayi Prematur dan Permasalahannya” yang disampaikan Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) dari RSCM/FK UI  serta “Deteksi Dini Penyakit Jantung pada Bayi Baru Lahir” yang dipaparkan Dr. dr. Ni Putu Venny Kartika Yantie, Sp.A(K), M.Sc dari RSUP Sanglah/FK Unud.

Salah satu materi yang disampaikan Dr. dr. Rinawati berkaitan dengan air susu ibu (ASI). ASI merupakan yang terbaik karena nutrisi lengkap, mengandung faktor immunoglobulin, jarang terjadi intoleransi, dan dapat menurunkan NEC. Namun perlu hati-hati terkontaminasi oleh kuman dan atau faktor alergen yang dikonsumsi ibunya.

“ASI adalah pilihan utama sebagai proteksi imunologis (angka sepsis dan NEC lebih rendah), bioavailabilitas nutrien lebih tinggi daripada formula, toleransi lebih baik (gastric emptying 2x lebih cepat daripada formula), efek neurodevelopmental lebih baik daripada formula, efek kesehatan jangka panjang lebih baik,” jelas dr. Rinawati.

Dokter Rina yang menyelesaikan Pendidikan Program Doktor Ilmu Kedokteran FKUI memberi kesimpulan, kebutuhan metabolik dan nutrisi tidak berhenti dengan adanya kelahiran. Hitungan jam bukan hari merupakan periode terlama bayi tidak mendapatkan nutrisi baik parenteral atau enteral. “Pengetahuan tentang pemilihan nutrisi oral/enteral atau parenteral serta rute pemberian sangat penting dalam memperpendek lama rawat, menurunkan angka infeksi aliran darah serta mencapai tumbuh kembang optimal,” tegasnya.

 

SKRINING SEDINI MUNGKIN

Sementara itu dr .Venny menjelaskan Indonesia dengan penduduk 200 juta, kejadian penyakit jantung bawaan (PJB) 8 tiap 1000 kelahiran hidup. Yang menjadi mimpi buruk adalah beberapa anak PJB kritis tidak bergejala, fisis normal dan dipulangkan. Beberapa jam/hari kemudian kritis atau meninggal jika tidak dikenali.

“Karena itu skrining PJB kritis, bagian dari PJB dengan gejala mengancam jiwa yang memerlukan intervensi dini. Skrining dilakukan pada bayi sehat dan perawatan intermediate dan lakukan deteksi sedini mungkin,” ujar dr. Venny.

Direktur Utama RSIA Puri Bunda, dr. I.G.A. Putu Yudihartini berharap pihaknya selalu bisa menjadi pembelajar terhadap keilmuwan baru untuk kemudian dibagikan kepada tenaga kesehatan lainnya. Dengan demikian, para tenaga kesehatan termasuk juga masyarakat bisa mendapatkan update keilmuwan. Bila bicara materi seminar ilmiah, tentu update mengenai penanganan bayi prematur dan deteksi dini terhadap pasien khususnya bayi.

Ia menambahkan RSIA Puri Bunda memiliki ekokardiografi untuk anak, jadi bisa dilakukan skrining pada bayi baru lahir apakah memang ada kelainan jantung atau tidak. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top