Metropolitan

Cerita di Balik Penderita Kanker Payudara

Dua perempuan tampak lama mengamati foto-foto hitam putih yang menghiasi Alun-alun Indonesia,  Grand Indonesia, Jakarta. Dari satu foto pindah ke foto-foto lain dalam tempo lambat,  wajah mereka tidak nampak ceria. Sebaliknya terlihat muram ada tampak gurat kesedihan di sana.  Ada apakah?

Rupanya, dua perempuan yang ternyata ibu dan anak ini, begitu tersentuh melihat foto-foto yang mengambarkan perjalanan wanita-wanita penderita kanker payudara menghadapi penyakitnya. Bukan hanya para penderita kanker tapi juga bagaimana anggota keluarganya tampil mendampingi mereka.

“Sebenarnya saya datang ke sini untuk suatu keperluan, bukan mau melihat pameran karena memang tidak tahu, ya. Tapi saya jadi tertarik dan mampir lihat foto-foto itu, oh ternyata tentang penderita kanker. Foto-fotonya begitu mengharukan. Saya jadi sedih, ingat keponakan saya yang baru-baru ini divonis menderita kanker payudara stadium lanjut. Kami keluarga terkejut, karena memang sebelumnya tidak ada kabar tentang itu. Bahkan keponakan saya sendiri pun shock karena dia tidak mengira. Dia tidak ‘ngeh’ kalau tanda-tanda yang dia dapat selama itu adalah kanker,” ungkap Ny. Anita yang datang ke GI didampingi putrinya, Sara.

Keponakannya sempat terpikir soal gejala aneh itu, namun dia takut memeriksakan diri ke dokter. Jadi dia biarkan saja, sampai akhirnya penyakit itu sudah menjalar. “Saya sedih lihat dia sekarang, banyak mengurung diri, tidak ceria seperti dulu. Dia sudah menjalani kemo beberapa kali,” ungkap Ny. Anita dengan mata berkaca-kaca. Sara putrinya lantas memegang lengan sang ibu.

Dua puluh foto bernuansa hitam putih karya Margareth Horhoruw yang dipamerkan di Alun Alun Indonesia itu begitu menggugah para pemerhatinya. Foto-foto itu mengambarkan kisah perjuangan 11 orang perempuan usia (30-52 tahun) dalam menghadapi penyakit kanker payudara. Pameran foto yang digelar sejak 3 November hingga 15 November merupakan bagian dari kampanye Sadari (Pemeriksaan Payudara Sendiri) yang terus digalakkan.

Event yang mengangkat tema besar “#Sadari: Kenali Tubuhmu, Sadari Adanya Kelainan” ini bukan hanya menggelar pameran foto tapi juga sejumlah diskusi dengan sajian tema beragam namun semuanya terkait kanker payudara. Para pembicara di antaranya para pakar seperti  Dr. Arie Munandar dari Komite Penanggulangan Kanker Nasional, Prof. Zubairi Djoerban, dan dr. Inez Nimpuno MPS MA dari ACT Health, Canberra, Australia, dll. Hadir juga pihak YKPI serta komunitas-komunitas pendukung penyintas seperti Srikandi Bekasi & Bandung Cancer Society, juga komunitas Pink Shimmerinc, dll.

Margareth Horhoruw, sang fotografer, mengaku tertarik mengangkat isu ini karena dia melihat di Indonesia, isu kanker payudara belum banyak diangkat lewat media foto. Padahal penyakit ini begitu mempengaruhi semua aspek kehidupan orang terkait dan semua di sekitarnya.

Dengan adanya ini (foto-foto), ia berharap semakin banyak orang paham tentang penyakit tersebut, baik tentang pentingnya deteksi dini maupun faktor pendukung lain yang dapat membuat proses penyembuhan bisa lebih cepat. Di sisi lain, dengan menggarap pemotretan tersebut dia juga menjadi banyak belajar tentang semangat hidup dari para narasumbernya.

“Saya banyak belajar dari para narasumber yang sudah stadium empat. Terlepas dari penyakit yang dideritanya, mereka tetap aktif menjalani rutinitas sehari-hari termasuk mendampingi para pasien yang tengah berjuang,” ungkap Maggy, begitu dia akrab disapa.

BEROBAT SETELAH STADIUM LANJUT

Berdasarkan data, kanker payudara merupakan jenis kanker tertinggi pada pasien rawat inap maupun rawat jalan di seluruh rumah sakit di Indonesia. Yang memprihatinkan, 70% pasien kanker payudara baru datang ke fasilitas kesehatan pada stadium lanjut.  Hal itu diungkap Linda Amalia Sari Gumelar, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). “Pada 2010, jumlah pasien kanker payudara sudah mencapai 28,7% dari total penderita kanker,” jelasnya.

Dikatakannya, secara umum, prevalensi penyakit kanker di Indonesia cukup tinggi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 dari 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Di seluruh dunia, 8,2 juta orang meninggal dunia setiap tahun akibat kanker. Diperkirakan pada 2025, jumlah yang meninggal akibat kanker meningkat menjadi 11,5% bila tidak dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian yang efektif.

“Di Indonesia, kasus kasus kanker payudara menjadi kasus kematian tertinggi dengan angka 21,5 pada setiap 100 ribu. Namun, mereka baru datang ke fasilitas kesehatan pada stadium lanjut,” ucap Linda yang juga pernah menderita kanker payudara. Bahkan dulu, Linda pernah bercerita bahwa ketika ia mengetahui dirinya menderita penyakit mematikan itu, dokter mengatakan harapan hidupnya tinggal 40%.

Untunglah berkat pengasihan Tuhan, juga upaya-upaya pengobatan yang dijalankan akhirnya ia berhasil sembuh. “Itulah pelajaran yang saya dapat dari perjalanan terkena kanker. Banyak hikmah yang saya dapat,” ungkapnya. Maka tak heran Linda sangat peduli dengan hal ini dan terus menggalakkan kampanye Sadari.

Dr. Inez Nimpuno dalam kesempatan berbeda sempat mengungkapkan kalau sebenarnya sampai kini belum ada teknologi yang bisa membuat 100% kanker sembuh. “Jadi pendekatannya, untuk yang stadium awal diambil jaringan tumornya via operasi, kemo untuk mematikan sel-sel yang diprediksi masih sisa dan ‘jalan-jalan’ di aliran darah supaya tidak membuat tumor baru tumbuh di tempat lain. Lalu diradiasi, disinar, untuk mematikan sel kanker di tempat dia tumbuh,” ungkap Inez yang kini bekerja di Kementerian Kesehatan Negara Bagian Australian Capital Territory.

Itu semua, tujuannya agar kanker yang stadium awal itu tidak muncul lagi dikemudian hari. “Keadaan orang dengan stadium awal kanker dan sesudah menjalani terapi, kemudian dilakukan beberapa tes dan hasilnya tidak ada lagi, ini yang dinamakan ‘sembuh’,” tambahnya.

Kata sembuh dengan tanda kutip dimaksudkan karena saat itu setelah dilakukan pengetesan memang kanker sudah tidak ada di badannya. Namun bisa saja atau ada kemungkinan kankernya kambuh lagi. “Dan biasanya bila hal itu terjadi,  kanker itu sudah masuk ke stadium lanjut, yaitu penyebarannya di tempat jauh dari tumor itu berasal,” ucapnya.

Sedang yang stadium lanjut, beda terapinya. Biasanya, tidak bisa dioperasi karena sudah menyebar ke mana-mana. “Jadi yang bisa dilakukan adalah kemo dan radiasi untuk menyusutkan tumornya dan memperpanjang hidup dengan memperbaiki kualitas hidup,” katanya. Jadi intinya, semakin dini kanker ditemukan maka angka harapan hidup bebas dari kanker akan semakin besar. (dianaruntu@cybertokoh.com)

To Top