Buleleng

Lapas Singaraja Dukung Warga Binaan Buat Kerajinan

Jro Budiasa menunjukkan proses pembuatan kerajinan di dalam lapas

Mendengar Lembaga Permasyarakatan tentu membuat ngeri bagi sebagian orang. Sebab di dalamnya merupakan tempat orang-orang ‘pesakitan’ yang telah dijatuhkan vonis hukuman. Tetapi, lain halnya dengan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Singaraja, yang di dalamnya memberi pembinaan baik kepribadian maupun kemandirian bagi warga binaannya.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Singaraja, Sutarno, Bc, IP, SH, MH., mengatakan pembinaan kepribadian mencakup bidang kerohanian, kesenian dan olahraga sedangkan pembinaan kemandirian meliputi pelatihan tata boga, tata busana, tata rias, dan ketrampilan pembuatan kerajinan. Sutarno menambahkan tujuan pembinaan tersebut adalah memberi bekal ketrampilan khusus di dalam lapas. “Akan sangat dirasakan bagi mereka pascamenjalani masa tahanan.  Mereka sudah memiliki keahlian membuat kerajinan unik dan mampu membuka usaha sendiri nantinya,” jelasnya.

Warga binaan diberi ketrampilan menghindari rasa bosan saat menjalani hukuman. “Lapas ini kapasitasnya 78 orang namun saat ini ada 152 orang penghuni bahkan beberapa waktu lalu over kapasitasnya mencapai seratus persen,” ujar mantan Kepala Pengamanan LP kelas I Tangerang tersebut. Ketrampilan yang sangat diminati oleh warga binaan adalah membuat kerajinan, di antaranya membuat bokor, keben, lampu hias dan masih banyak lagi yang dibuat dari bahan stik es krim, batang korek api, dan koran bekas.

Sejumlah pameran sering dikuti perwakilan Lapas Kelas II B Singaraja. Petugas memamerkan hasil kerajinan warga binaan ke Taman Budaya Art Centre di Denpasar dan pertunjukan kesenian di perkotaan.  “Pameran hasil warga binaan baru-baru ini dipamerkan di Art Centre Denpasar. Tenaga warga binaan kami dalam membuat kerajinan mencapai 10 orang. Itu khusus membuat kerajinan berbahan kayu atau katik es krim. Membuat kerajinan memerlukan kesabaran tinggi,” paparnya. Ia menambahkan, hasil penjualan diberikan 50% kepada warga binaan. “Hasil kerajinan umumnya dipasarkan dijual kepada masyarakat. Kemudian hasilnya 50% kami beri kepada warga binaan dan sisanya untuk biaya pembinaan,” tambahnya.

Keahlian dimiliki dalam membuat ketrampilan diakui Sutarno menjadi kegiatan positif warga binaan. Hanya saja kendala dialami terbentur tempat latihan yang kurang memadai. “Kami juga ajarkan cara pembuatan batako dan pemasarannya cukup lumayan hanya saja terkendala tempat untuk pembuatan,” paparnya. Hal ini yang sangat disayangkan olehnya, satu sisi warga binaan mengakui kesalahan pelanggaran hukum dilakukan dan hendak berbenah diri menjadi individu lebih baik, namun saat itu pula ruang untuk mewadahi aktivitas positif mereka mengalami keterbatasan. “Sudah kami sampaikan agar lapas direlokasi ke tempat lain yang lebih representatif. Akan tetapi ketika sudah menemukan tempat, lokasinya terlalu jauh di Gerokgak sehingga belum bisa direlokasi ke sana sebab Lapas ini sekaligus sebagai Rutan,” imbuhnya.

Salah satu warga binaan yang membuat keben berbahan korek kayu api, Jro Budiasa mengaku sangat senang mendapat pembinaan ketrampilan tersebut. Dirinya mengaku dapat berkreasi membuat bokor dengan berbagai motif, keben, dulang, dan aneka jenis sarana upacara. Menjalani sisa masa hukuman menurutnya akan menjadi membosankan jika tidak melakukan hal yang bermanfaat. Selain, menghilangkan jenuh kegiatan ini juga dapat menghasilkan uang. “Satu produk harganya berbeda menurut ukuran dan tingkat kesulitan motif. Rata-rata dijual dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu,” jelasnya.

Pria yang berasal dari desa Kalibukbuk tersebut mengaku jika pihak Lapas memfasilitasi dari segi pemasaran. Beberapa kru bisnis sudah menjadi langganan produk buatannya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dirinya bersama teman-teman sesama warga binaan terus melakukan inovasi. “Kami minta bantuan kepada teman-teman di luar untuk mencari tahu motif yang sedang menjadi trend di masyarakat,” tambahnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

 

To Top