Inspirasi

Benny Nurhuda : Kunci Sukses Miliki Mental Baja

Sekarang ini nampaknya makin banyak kalangan muda tertarik berbisnis ketimbang bekerja di kantoran. Salah satunya adalah Benny Nurhuda, yang kini menekuni bisnis craft batik kayu di Yogyakarta. Menariknya, meski Benny (30 tahun) meneruskan bisnis ayahnya, namun dia berhasil  mengembangkan bisnis tersebut sehingga kokoh dan tetap eksis di tengah persaingan yang semakin tajam.

Bahkan di tengah kelesuan ekonomi seperti sekarang dan pengusaha menjerit karena ‘sepi order’, Benny justru  mengaku, ia kerap kali kewalahan mengerjakan orderan dari customer dari dalam dan luar negeri.

inspirasi-2

Benny Nurhuda didampingi adiknya Betty

“Iya memang banyak yang mengaku sepi orderan, bahkan tahun 2016 yang sudah masuk semester dua, belum ada perkembangan yang berarti atau masih sepi. Tapi usaha saya, alhamdulilah, tetap stabil. Saya ndak tahu kenapa, mungkin karena saya pedagang grosiran sedang yang merasakan lesu adalah mereka yang retail. Malah saya, terus terang saja,  sampai sekarang masih sering kewalahan terima orderan,” ungkap Benny yang juga menekuni bisnis souvenir pernikahan.

“Beberapa pelanggan saya juga mengaku sepi order, tapi nyatanya mereka tetap meminta pengiriman barang secara rutin, bahkan jumlah pesanan pun tidak dikurangi. Kalau sepi pembeli, kok order jalan terus, kan aneh juga,” ujarnya.

Benny  mengaku sejak kecil telah ikut terjun membantu orangtuanya dalam bisnis kerajinan, namun baru tahun 2007 lah dia men-take over secara penuh bisnis tersebut. “Ayah saya memulai bisnis kerajinan tahun 90-an tapi ketika itu kerajinan kulit sapi, yang dibuat wayang, kap lampu, kipas, dan aksesoris rumah tangga lainnya. Tahun 2008, kami beralih ke bisnis kerajinan batik kayu,” tuturnya.

Ketika itu, ‘pemain’ di bisnis ini tidak banyak sehingga usaha ini bisa melenggang bagus, bahkan bisa ekspor ke mancanegara. Namun, katanya, makin lama  jumlah pengusaha yang bergerak di kerajinan batik kayu semakin meningkat.

“Persaingan makin keras dan tajam, itu terasa sekali bagi saya. Misalnya saja soal harga. Mereka itu bisa lho menjual dengan harga yang menurut kita sangat tidak masuk akal. Misalnya saya menjual harga Rp100 , mereka bisa menjual dengan harga Rp90. Saya benar-benar ndak habis pikir, padahal dari hitung-hitungannya saja –ongkos produksi–sudah tidak masuk. Saya saja menjual dengan harga Rp100 dengan keuntungan yang sangat tipis,” jelas Benny.

Tapi biasanya, kata Benny, mereka yang ‘banting’ harga seperti itu tidak akan bertahan lama. “Dia bisa jual lebih murah karena mungkin hanya menghargai tenaga saja, tapi material—yang mudah didapat— tidak dihitung. Biasanya pengusaha yang seperti itu rontok satu per satu, karena memang tidak mungkin,” tuturnya.

Benny sendiri mengaku tidak mau terpengaruh dengan cara-cara seperti itu. Dia tetap menjalankan usahanya sebagaimana mestinya, seraya terus melakukan inovasi produk. “Saya kira kunci bisa survive di tengah persaingan selain marketing yang baik juga rajin melakukan inovasi produk, kreatif. Kita harus rajin mengeluarkan produk baru. Jangan takut ditiru karena itu memang sudah ‘hukum’ nya. Itulah yang saya lakukan,” kata Benny yang meski usianya baru 30 tahun namun tampak fasih dalam bisnis yang tengah digelutinya ini.

Menurut Benny, kunci sukses menjalani bisnis salah satunya adalah harus memiliki mental baja, apalagi di bisnis yang ia tekuni bukan saja banyak persaingan namun kadang ada saja yang bersaing secara tidak fair. “Kalau ada yang seperti itu ya kita nggak perlu ikut-ikutan. Karena biasanya yang seperti itu tak lama bertahan,” tutur pemuda yang berlatar belakang pendidik teknik mesin, ini.

Terkait latar belakang pendidikannya, anak pertama empat bersaudara pasangan Bambam-Sugiyani ini mengaku, ia menggemari mesin khususnya bidang otomotif. “Dulu saya sempat menyambi, coba-coba bisnis aksesoris otomotif, namun ketika bisnis kerajinan kayu batik ini makin berkembang, akhirnya bisnis itu saya tinggal, karena sudah ndak ada waktu lagi. Jadi otomotif itu sekarang hanya hobi thok,” katanya.

PENGRAJIN ADALAH ‘RAJA’

Hal lain yang terungkap dari percakapan dengan Benny adalah soal jumlah pengrajin yang kian terbatas. Pasalnya, bukan karena jumlah pengrajin  yang menyusut tapi jumlah pengusaha yang bergerak di bidang kerajinan semakin banyak sementara pertambahan jumlah pengrajin tidak terlalu banyak. Jadi katanya, demi kelancaran usaha, pengusaha harus pandai-pandai ‘merawat’ para pengrajin itu.

“Saya punya pengrajin tetap di Bantul, Yogyakarta. Disana lah barang-barang saya diproduksi. Nah sebisa mungkin saya harus mencari order secara rutin sehingga mereka tetap bekerja pada saya. Alhamdulilah sampai saat ini berjalan dengan baik, bahkan dengan orderan saya saja mereka sudah kewalahan,” tuturnya.

Bukan hanya itu upaya dalam ‘merawat’ para pengrajin ini agar tetap setia. Sebagai pengusaha katanya ia juga harus memahami kearifan lokal. “Kita tidak bisa semaunya meski kita punya banyak orderan,” ucapnya. Misalnya, saat musim hujan adalah waktu para pengrajin itu beralih pekerjaan sebagai petani.

Salah satu contoh, kata Benny, ketika mereka (pengrajin) memiliki kesibukan bertani, lalu kebetulan saat itu dirinya mendapat orderan dari customer yang harus dikerjakan selama satu bulan. “Hal ini lalu saya diskusikan pada para pengrajin. Mereka bilang tidak bisa karena sedang sibuk, kalau mau 40 hari. Nah saya harus menegosiasikan kepada pembeli tentang pengunduran waktu ini. Jadi saya sebagai pengusaha juga harus pintar-pintar nego. Untungnya kebanyakan  customer bisa mengerti. Jadi memang kalau urusan bertani dan memang sedang musimnya, kita tidak bisa ganggu gugat sekalipun kita punya uang,” paparnya.

Jadi dari kondisi ini, ia pun jadi memahami bahwa uang bukan lah segalanya. Istilah ‘Pembeli’ adalah ‘Raja’ seolah  tak berlaku pada keadaan ini. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya bisa saja saya cari pengrajin lain, tapi kan berisiko, bagaimana dengan mutu atau kualitas produk. Saya tidak mau hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kualitas produk. Karena dalam bisnis ini adalah kepercayaan customer, apalagi pelanggan setia, harus dijaga betul. Jadi karena saya sudah tahu kualitas karya para pengrajin saya, maka saya ikuti ‘aturan’ main mereka, sejauh ini tidak masalah. Tinggal pintar-pintarnya saya saja bernegosiasi dengan pembeli,” katanya.

Begitu juga, tambah Benny, kalau ada hajatan kampung dimana para pengrajin pasti akan minta libur untuk ikut hajatan dan itu bisa berhari-hari. “Ini pun saya harus maklum. Jadi begitulah kita sebagai pengusaha harus mengerti adat istiadat setempat juga,” katanya.

Yang menariknya, tambah Benny, sekalipun begitu dibutuhkan sehingga kita terpaksa menuruti kemauan mereka, namun para pengrajin ini tidak ‘mentang-mentang’,  dalam artian minta ongkos kerja tinggi. “Itu tidak. Ongkos kerjanya wajar saja. Mereka tidak menuntut ongkos tinggi hanya saja kita yang harus pengertian dengan kebutuhan mereka menjalani aktivitas lain,” tambahnya.

Tapi kata Benny lagi, dia pun tak mau berdiam diri mengatasi masalah tersebut. Salah satu siasat yang dijalankan adalah pada saat musim panas, produksi ditingkatkan sebanyak-banyaknya untuk stok. “Jadi saat itu kita produksi sekencang-kencangnya,” kata Benny yang secara rutin mengekspor produknya ke beberapa kota di Malaysia. –dianaruntu@cybertokoh.com

To Top