Connect with us

Inspirasi

Benny Nurhuda : Kunci Sukses Miliki Mental Baja

Published

on

Sekarang ini nampaknya makin banyak kalangan muda tertarik berbisnis ketimbang bekerja di kantoran. Salah satunya adalah Benny Nurhuda, yang kini menekuni bisnis craft batik kayu di Yogyakarta. Menariknya, meski Benny (30 tahun) meneruskan bisnis ayahnya, namun dia berhasil  mengembangkan bisnis tersebut sehingga kokoh dan tetap eksis di tengah persaingan yang semakin tajam.

Bahkan di tengah kelesuan ekonomi seperti sekarang dan pengusaha menjerit karena ‘sepi order’, Benny justru  mengaku, ia kerap kali kewalahan mengerjakan orderan dari customer dari dalam dan luar negeri.

inspirasi-2

Benny Nurhuda didampingi adiknya Betty

“Iya memang banyak yang mengaku sepi orderan, bahkan tahun 2016 yang sudah masuk semester dua, belum ada perkembangan yang berarti atau masih sepi. Tapi usaha saya, alhamdulilah, tetap stabil. Saya ndak tahu kenapa, mungkin karena saya pedagang grosiran sedang yang merasakan lesu adalah mereka yang retail. Malah saya, terus terang saja,  sampai sekarang masih sering kewalahan terima orderan,” ungkap Benny yang juga menekuni bisnis souvenir pernikahan.

“Beberapa pelanggan saya juga mengaku sepi order, tapi nyatanya mereka tetap meminta pengiriman barang secara rutin, bahkan jumlah pesanan pun tidak dikurangi. Kalau sepi pembeli, kok order jalan terus, kan aneh juga,” ujarnya.

Benny  mengaku sejak kecil telah ikut terjun membantu orangtuanya dalam bisnis kerajinan, namun baru tahun 2007 lah dia men-take over secara penuh bisnis tersebut. “Ayah saya memulai bisnis kerajinan tahun 90-an tapi ketika itu kerajinan kulit sapi, yang dibuat wayang, kap lampu, kipas, dan aksesoris rumah tangga lainnya. Tahun 2008, kami beralih ke bisnis kerajinan batik kayu,” tuturnya.

Advertisement

Ketika itu, ‘pemain’ di bisnis ini tidak banyak sehingga usaha ini bisa melenggang bagus, bahkan bisa ekspor ke mancanegara. Namun, katanya, makin lama  jumlah pengusaha yang bergerak di kerajinan batik kayu semakin meningkat.

BACA  Motivasi Aura Alam

“Persaingan makin keras dan tajam, itu terasa sekali bagi saya. Misalnya saja soal harga. Mereka itu bisa lho menjual dengan harga yang menurut kita sangat tidak masuk akal. Misalnya saya menjual harga Rp100 , mereka bisa menjual dengan harga Rp90. Saya benar-benar ndak habis pikir, padahal dari hitung-hitungannya saja –ongkos produksi–sudah tidak masuk. Saya saja menjual dengan harga Rp100 dengan keuntungan yang sangat tipis,” jelas Benny.

Tapi biasanya, kata Benny, mereka yang ‘banting’ harga seperti itu tidak akan bertahan lama. “Dia bisa jual lebih murah karena mungkin hanya menghargai tenaga saja, tapi material—yang mudah didapat— tidak dihitung. Biasanya pengusaha yang seperti itu rontok satu per satu, karena memang tidak mungkin,” tuturnya.

Benny sendiri mengaku tidak mau terpengaruh dengan cara-cara seperti itu. Dia tetap menjalankan usahanya sebagaimana mestinya, seraya terus melakukan inovasi produk. “Saya kira kunci bisa survive di tengah persaingan selain marketing yang baik juga rajin melakukan inovasi produk, kreatif. Kita harus rajin mengeluarkan produk baru. Jangan takut ditiru karena itu memang sudah ‘hukum’ nya. Itulah yang saya lakukan,” kata Benny yang meski usianya baru 30 tahun namun tampak fasih dalam bisnis yang tengah digelutinya ini.

Menurut Benny, kunci sukses menjalani bisnis salah satunya adalah harus memiliki mental baja, apalagi di bisnis yang ia tekuni bukan saja banyak persaingan namun kadang ada saja yang bersaing secara tidak fair. “Kalau ada yang seperti itu ya kita nggak perlu ikut-ikutan. Karena biasanya yang seperti itu tak lama bertahan,” tutur pemuda yang berlatar belakang pendidik teknik mesin, ini.

Advertisement

Terkait latar belakang pendidikannya, anak pertama empat bersaudara pasangan Bambam-Sugiyani ini mengaku, ia menggemari mesin khususnya bidang otomotif. “Dulu saya sempat menyambi, coba-coba bisnis aksesoris otomotif, namun ketika bisnis kerajinan kayu batik ini makin berkembang, akhirnya bisnis itu saya tinggal, karena sudah ndak ada waktu lagi. Jadi otomotif itu sekarang hanya hobi thok,” katanya.

BACA  Jessica Iskandar: Mendidik tanpa Marah

PENGRAJIN ADALAH ‘RAJA’

Hal lain yang terungkap dari percakapan dengan Benny adalah soal jumlah pengrajin yang kian terbatas. Pasalnya, bukan karena jumlah pengrajin  yang menyusut tapi jumlah pengusaha yang bergerak di bidang kerajinan semakin banyak sementara pertambahan jumlah pengrajin tidak terlalu banyak. Jadi katanya, demi kelancaran usaha, pengusaha harus pandai-pandai ‘merawat’ para pengrajin itu.

“Saya punya pengrajin tetap di Bantul, Yogyakarta. Disana lah barang-barang saya diproduksi. Nah sebisa mungkin saya harus mencari order secara rutin sehingga mereka tetap bekerja pada saya. Alhamdulilah sampai saat ini berjalan dengan baik, bahkan dengan orderan saya saja mereka sudah kewalahan,” tuturnya.

Bukan hanya itu upaya dalam ‘merawat’ para pengrajin ini agar tetap setia. Sebagai pengusaha katanya ia juga harus memahami kearifan lokal. “Kita tidak bisa semaunya meski kita punya banyak orderan,” ucapnya. Misalnya, saat musim hujan adalah waktu para pengrajin itu beralih pekerjaan sebagai petani.

Advertisement

Salah satu contoh, kata Benny, ketika mereka (pengrajin) memiliki kesibukan bertani, lalu kebetulan saat itu dirinya mendapat orderan dari customer yang harus dikerjakan selama satu bulan. “Hal ini lalu saya diskusikan pada para pengrajin. Mereka bilang tidak bisa karena sedang sibuk, kalau mau 40 hari. Nah saya harus menegosiasikan kepada pembeli tentang pengunduran waktu ini. Jadi saya sebagai pengusaha juga harus pintar-pintar nego. Untungnya kebanyakan  customer bisa mengerti. Jadi memang kalau urusan bertani dan memang sedang musimnya, kita tidak bisa ganggu gugat sekalipun kita punya uang,” paparnya.

BACA  "Aku Disini" dari Arina, Ini Inspirasinya

Jadi dari kondisi ini, ia pun jadi memahami bahwa uang bukan lah segalanya. Istilah ‘Pembeli’ adalah ‘Raja’ seolah  tak berlaku pada keadaan ini. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya bisa saja saya cari pengrajin lain, tapi kan berisiko, bagaimana dengan mutu atau kualitas produk. Saya tidak mau hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kualitas produk. Karena dalam bisnis ini adalah kepercayaan customer, apalagi pelanggan setia, harus dijaga betul. Jadi karena saya sudah tahu kualitas karya para pengrajin saya, maka saya ikuti ‘aturan’ main mereka, sejauh ini tidak masalah. Tinggal pintar-pintarnya saya saja bernegosiasi dengan pembeli,” katanya.

Begitu juga, tambah Benny, kalau ada hajatan kampung dimana para pengrajin pasti akan minta libur untuk ikut hajatan dan itu bisa berhari-hari. “Ini pun saya harus maklum. Jadi begitulah kita sebagai pengusaha harus mengerti adat istiadat setempat juga,” katanya.

Yang menariknya, tambah Benny, sekalipun begitu dibutuhkan sehingga kita terpaksa menuruti kemauan mereka, namun para pengrajin ini tidak ‘mentang-mentang’,  dalam artian minta ongkos kerja tinggi. “Itu tidak. Ongkos kerjanya wajar saja. Mereka tidak menuntut ongkos tinggi hanya saja kita yang harus pengertian dengan kebutuhan mereka menjalani aktivitas lain,” tambahnya.

Tapi kata Benny lagi, dia pun tak mau berdiam diri mengatasi masalah tersebut. Salah satu siasat yang dijalankan adalah pada saat musim panas, produksi ditingkatkan sebanyak-banyaknya untuk stok. “Jadi saat itu kita produksi sekencang-kencangnya,” kata Benny yang secara rutin mengekspor produknya ke beberapa kota di Malaysia. –dianaruntu@cybertokoh.com

Advertisement

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Inspirasi

Belajar Arti Keikhlasan dan Kebahagiaan dari Pak Ubay

Published

on

Mitra Juara Pilihan Gojekers adalah Jubaeroni dari layanan GoRide. Ia dipilih oleh ratusan ribu masyarakat Indonesia karena menjadi pahlawan karena banyak membantu pasien Covid-19 di Pontianak.

Denpasar (cybertokoh.com) –

Gojek kembali menggelar ajang Mitra Juara Gojek 2021 untuk keempat kalinya. Program ini adalah penghargaan tahunan Gojek bagi para mitra inspiratif yang terus menunjukkan optimisme, kerja keras, serta ketekunan.

Dengan tema “Pejuang Pandemi”, secara khusus Mitra Juara Gojek tahun ini mengapresiasi mitra yang menunjukkan ketangguhan dalam bertahan dan/atau menginspirasi lingkungan sekitar mereka untuk bergotong royong meringankan beban pandemi. 24 mitra mendapat gelar Mitra Juara Gojek dari seluruh layanan Gojek di tempat Gojek beroperasi, yaitu Indonesia, Singapura, dan Vietnam.

“Tahun ini adalah tahun keempat kami memberikan penghargaan kepada mitra yang terus menginspirasi. Upaya para mitra yang menunjukkan ketangguhan mereka telah menjadi penyemangat bagi kami untuk selalu mendukung mitra di ekosistem agar bertahan dan pulih di masa pandemi sekaligus tetap berinovasi untuk membantu mitra dan konsumen dalam mempermudah hidup mereka,” ungkap Kevin Aluwi, CEO Gojek.

Advertisement

Salah satu kisah inspiratif yang menjadi Mitra Juara Pilihan Gojekers adalah Jubaeroni dari layanan GoRide, yang dipilih oleh ratusan ribu masyarakat Indonesia. Mitra driver yang akrab disapa Pak Ubay ini ‌menjadi‌ ‌pahlawan‌ ‌bagi‌ ‌masyarakat‌ ‌yang‌ ‌sedang‌ menjalani ‌isolasi‌ ‌mandiri‌ ‌akibat‌ Covid-19‌‌. Ia mengantarkan lebih dari 200 tabung oksigen dalam dua bulan.

“Di‌ ‌saat‌ ‌tingginya‌ ‌kebutuhan‌ ‌akan‌ ‌tabung‌ ‌oksigen‌ ‌di‌ ‌Pontianak,‌ ‌saya ikut antri ‌mengisikan‌ ‌dan‌ ‌mengantar‌ ‌tabung‌ ‌oksigen‌ kepada mereka yang menjalani isolasi mandiri. Saya melakukannya ‌tanpa‌ ‌memungut‌ ‌biaya,” ungkapnya dalam tayangan video press conference secara daring, Jumat (5/11).

BACA  Kemegahan Patung Sudirman di Jepang

Pak Ubay juga memberikan layanan GoFood gratis bagi orang-orang yang sedang menjalani isolasi mandiri. Juga untuk yang memesan obat melalui GoShop atau GoMedicine. “Saya tidak pernah menolak pesanan walaupun kondisi cuaca sedang tidak baik dan jarak yang jauh. Pastilah mereka sangat memerlukan obat,” ujarnya.

Ia menuturkan sebagai mahluk sosial, manusia punya tanggung jawab untuk saling tolong menolong. Menjadi driver Gojek membuat dirinya bisa mendapat penghasilan dan memiliki kesempatan untuk bertemu banyak orang dan turut membantu orang-orang yang memerlukan bantuan. Pak Ubay juga berterima kasih kepada istri yang selalu mendukung apa yang ia lakukan, walau harus berbagi waktu untuk bekerja.

“Saya belajar arti keikhlasan dan arti kebahagiaan dengan melihat orang lain tersenyum. Saya bersyukur Tuhan memberi saya kesempatan untuk bisa membantu sesama,” ungkap Pak Ubay.

Advertisement

Inisiatif Dukung Mitra UMKM dan Mitra Driver
Selama masa pandemi, Gojek telah mengeluarkan sekitar Rp 1 triliun untuk berbagai inisiatif mendukung mitra UMKM dan mitra driver. Inisiatif tersebut bertujuan membantu mitra bertahan, tumbuh, dan bangkit bersama menghadapi pandemi.

Berbagai inisiatif dukungan tersebut terbukti memberikan dampak positif bagi mitra driver dan mitra UMKM. Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menemukan bahwa 4 dari 5 mitra driver menyatakan tetap dapat memiliki pendapatan untuk menafkahi diri dan keluarga melalui kemitraan dengan Gojek. Tak hanya itu, 4 dari 5 UMKM percaya GoFood mendorong pertumbuhan usaha.

BACA  Ratih: Berusaha adalah Kunci Sukses, Juara adalah Bonus

Kevin Aluwi mengatakan, berkat dukungan mitra driver dan mitra UMKM selama 11 tahun ini, Gojek dapat terus memberikan dampak positif dalam memudahkan kehidupan sehari-hari masyarakat. “Ini tercermin melalui kontribusi ekosistem kami terhadap pertumbuhan dan pemulihan ekonomi nasional. Oleh karena itu, dengan memahami bahwa kondisi pandemi merupakan masa-masa sulit bagi mitra ekosistem kami, dalam dua tahun terakhir kami menjalankan berbagai inisiatif bantuan kepada mitra-mitra kami agar mitra driver bisa tetap memperoleh peluang pendapatan dan mitra UMKM tetap tumbuh usahanya. Semua ini merupakan bentuk dukungan berkelanjutan kami agar dapat #BangkitBersama,” ungkapnya.

Khusus bagi mitra UMKM, Gojek memiliki berbagai inisiatif untuk membantu agar bisnis pelaku UMKM di ekosistem Gojek tetap bertahan dan tumbuh. “Kami secara konsisten memberikan subsidi promo bagi mitra UMKM yang tidak hanya bertujuan mendorong daya beli konsumen, tetapi juga menimbulkan efek bola salju sehingga mitra usaha dan mitra driver tetap bisa mendapatkan order,” jelasnya.

Selain program subsidi promo, Gojek membekali mitra UMKM dengan membagikan paket protokol kesehatan supaya konsumen tetap merasa aman dan nyaman memesan GoFood. Para mitra UMKM antara lain memperoleh bantuan berupa aset digital dan perangkat fisik untuk menunjang protokol kesehatan seperti care kits, safety seal (selotip pengaman), kartu suhu tubuh, cairan pembersih, dll.

Advertisement

GoFood juga mendistribusikan tas pengantaran kepada para mitra driver untuk membantu menjaga higienitas makanan yang diantarkan. Selain itu, Gojek juga memfasilitasi akses vaksinasi Covid-19 untuk para mitra UMKM di berbagai daerah.

BACA  Motivasi Aura Alam

Catherine Hindra Sutjahyo, Chief Food Officer Gojek menambahkan, selama masa pandemi, Gojek memperkuat Komunitas Partner GoFood (KOMPAG) dengan beragam materi edukasi baru. “Dengan semua inisiatif ini, GoFood terus tumbuh menjadi layanan pesan-antar makanan andalan masyarakat dengan 1 juta mitra UMKM di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Gojek juga mengemas bantuan kepada mitra driver dalam bentuk Program Kesejahteraan Mitra Driver yang terdiri dari tiga program utama. Pertama, bantuan kebutuhan pokok yang mencakup uang belanja sembako, voucher belanja sembako, voucher potongan harga sembako dari GoPay, serta voucher makanan murah dan sehat untuk keluarga mitra driver.

Kedua, bantuan penyediaan layanan dan perlengkapan kesehatan yang terdiri dari pembagian masker, hand sanitizer, disinfektan, kegiatan operasional Posko Aman, edukasi dan sosialisasi vaksinasi, serta fasilitasi vaksinasi bagi ratusan ribu mitra driver di lebih dari 130 kota/ kabupaten lewat penyelenggaraan pos pelayanan vaksinasi melalui kerja sama dengan pemerintah maupun pihak swasta terkait.

Ketiga, bantuan pengganti pendapatan bagi mitra driver yang nonaktif sementara saat masa pemulihan dari Covid-19. “Semua kami lakukan karena mitra driver dan keluarganya adalah keluarga kami juga,” ujar Raditya Wibowo, Chief Transport Officer Gojek. (Ngurah Budi)

Advertisement

Continue Reading

Inspirasi

Keluar dari Zona Nyaman dan Bangkit bersama Ubi Madu Cilembu

Published

on

Ni Ketut Ekawati, pemilik Momay Snack

Denpasar (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 memberi dampak luar biasa bagi kehidupan masyarakat di Indonesia bahkan dunia. Sektor ekonomi terpuruk, kesehatan terguncang, pendidikan tersendat, bahkan pariwisata mati suri. Namun, ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari pandemi ini. Salah satunya pengalaman Ni Ketut Ekawati, pemilik Momay Snack di Bali.

Sebelum pandemi Covid-19, Ekawati bekerja di sektor pariwisata. Ia pernah bekerja di hotel di wilayah Jimbaran, perusahaan coklat di Tabanan, dan restoran di Kedonganan. “Bekerja di dunia hospitality sudah menjadi bagian hidup saya. Saya mencintai pekerjaan ini,” ungkapnya.

Maret 2020 menjadi titik balik perjalanan hidup ibu dua anak ini. Restoran tempatnya bekerja meliburkan karyawan hingga batas waktu yang tak dapat ditentukan. Ekawati pun memilih resign. Dua minggu pertama setelah resign, ia menikmati waktu di rumah untuk membuat aneka camilan.

Advertisement

“Anak saya suka pisang aroma. Saya pun mencari informasi tempat penjualan kulit lumpia sebagai bahan pembungkus pisang aroma. Setelah dapat pemasok, saya pun mulai jualan kulit lumpia. Saya posting di akun media sosial, hasilnya lumayanlah, peminatnya banyak. Ternyata pemasok saya yang kewalahan karena karyawannya banyak yang pulang kampung karena khawatir lockdown. Saya cari lagi pemasok sampai di luar Bali, ternyata ada kendala saat pengiriman karena penerapan PPKM,” kenang perempuan yang mengaku suka ngemil ini.

Ekawati kemudian melirik ubi madu Cilembu yang memang makanan favoritnya sejak lama. Ia mulai survei dimana ada penjual dan darimana pasokan ubi madu ini. Setelah merasa mantap dan mendapat dukungan suami, ia mulai jualan ubi madu Cilembu.

BACA  Sabrina Bensawan dan Elena Bensawan: Ciptakan Agen-agen Perubahan

“Order pertama saya 50 kg. Saya jual yang mentah di temen-teman pengajian, sisanya saya masak di oven. Saya juga jualan di medsos. Tapi, rasanya kurang lengkap kalau hanya jualan online saja. Saya dan suami pun mencari emperan untuk tempat jualan. Kami tidak berani jor-joran karena baru mulai merintis. Lokasi pertama kami dekat rumah dengan alasan, kalau ubi habis, cepat bisa pulang mengambil lagi,” ujar Ekawati.

bulan setelah jualan di emperan, ia lalu mencari lokasi lain. Kebetulan ada toko kue milik kenalannya yang memberikan space. Sembari jualan ubi madu, Ekawati mengamati penjualan kue basah atau jajanan pasar. Ia melihat pasarnya sangat prospektif apalagi di Bali banyak kegiatan adat yang memerlukan kue basah.

Hanya beberapa bulan ngemper, Ekawati akhirnya mulai menyewa kios kecil. Selain menjual ubi madu Cilembu, ia juga menerima titipan kue basah. “Saya promo di media sosial lagi. Kombinasi online dan offline memang harus dilakukan. Ditambah aplikasi digital yang memudahkan konsumen untuk belanja tanpa perlu keluar rumah,” ujarnya seraya menyebut GoFood sebagai salah salah satu solusi.

Advertisement

Kios Momay Snack di Sesetan, Denpasar

Ekawati mengaku pandemi Covid-19 membawa hikmah bagi dirinya. Dulu ia terbiasa bekerja di tempat orang lain dan merasa menemukan zone nyaman. Kini, ia menjadi pemilik usaha. Sekecil apapun harus diperhitungkan. “Saya menjual kue yang murah tetapi tidak murahan. Bagi saya, rasa yang utama, bukan ukuran. Pandemi Covid-19 membangkitkan semangat dan passion saya di bidang kuliner. Dukungan teknologi digital juga sangat membantu usaha saya,” ungkap pemilik Momay Snack ini.

BACA  Jessica Iskandar: Mendidik tanpa Marah

Apa yang dilakukan Ekawati ini merupakan contoh makin bertumbuhnya sektor UMKM di tengah pandemi Covid-19. Layanan digital yang ia manfaatkan membuatnya mampu bangkit dan terus berkembang. Gojek, Tokopedia dan GoTo Financial mengajak seluruh masyarakat Indonesia bangkit dari pandemi Covid-19 melalui gerakan #BangkitBersama.

Saat ini aplikasi Gojek telah diunduh lebih dari 190 juta kali per Juni 2021. Riset terbaru Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) memperkirakan kontribusi ekonomi ekosistem digital Gojek dan GoTo Financial (di luar Tokopedia) menjadi 1,6% dari PDB Indonesia, atau sekitar Rp 249 triliun di tahun 2021. Kontribusi ekonomi ini meningkat 60% dibandingkan tahun sebelumnya. Riset yang sama juga menemukan bahwa mayoritas konsumen Gojek loyal, bahkan 86% pelanggan tetap terus menggunakan layanan Gojek meskipun tanpa promo.

Kevin Aluwi, Co-Founder dan CEO Gojek mengatakan, sejak Gojek lahir 11 tahun lalu, inovasi sudah menjadi bagian dari DNA mereka. “Kami terus hadirkan inovasi dan teknologi terbaru guna menjawab berbagai tantangan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Bahkan di tengah pandemi, kami tidak berhenti menghadirkan solusi untuk membantu masyarakat beradaptasi. Kami percaya melalui inovasi, kami bisa terus mempermudah keseharian hidup masyarakat termasuk mendukung jutaan mitra driver dan mitra usaha kami, khususnya pelaku UMKM untuk terus tumbuh meski di tengah pandemi,” ujarnya.

BACA  Ratih: Berusaha adalah Kunci Sukses, Juara adalah Bonus

Kevin yang didampingi Chaterine Hindra Sutjahjo, Chief Food Officer Gojek Group mengatakan, mereka tidak hanya memanjakan pelanggan dengan pengalaman kuliner terbaik. GoFood juga mendorong eksposur merchant UMKM lokal melalui teknologi personalisasi data yang memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan rekomendasi kuliner dari mitra UMKM yang berada di sekitar lokasi pelanggan, sesuai dengan preferensi mereka. Pendekatan hyperlocal ini memberikan merchant UMKM akses yang semakin luas kepada pelanggan sehingga meningkatkan peluang pendapatan mereka.

Tidak berhenti disitu, GoFood juga mendukung mitra UMKM untuk bisa makin maju dengan melengkapi aplikasi untuk mitra usaha, GoBiz, dengan fitur inovatif BizTips yang berisi berbagai tips sukses mengelola bisnis secara mandiri. Fitur ini efektif dalam membantu para mitra UMKM kuliner untuk mengelola bisnisnya secara lebih baik dan efisien. Berkat ragam inovasi ini, GoFood terus menjadi platform andalan tidak hanya bagi pelanggan, namun juga bagi para mitra usaha untuk go online dan menumbuhkan usaha mereka di tengah pandemi.

Advertisement

Saat ini, sudah ada 1 juta mitra usaha kuliner yang memanfaatkan GoFood, yang 99% diantaranya berskala UMKM. Tercatat 250 ribu mitra usaha baru bergabung di GoFood pada 2020, dan 43% dari mereka adalah pengusaha pemula. Kehadiran GoFood tidak hanya mempermudah pengusaha pemula go-online tetapi juga mendukung pertumbuhan usahanya. Data internal perusahaan menunjukkan pendapatan rata-rata bulanan mitra usaha yang baru bergabung ke GoFood pada kuartal dua tahun 2020 tercatat meningkat hingga 7 kali lipat. (Ngurah Budi)

Continue Reading

Inspirasi

Pengusaha Muda Dilatih Siasati Bisnis di Tengah Pandemi

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang mengalami tekanan cukup berat saat pandemi Covid-19 terjadi. Survei Bank Indonesia pada Maret 2021 menunjukkan 87,5% UMKM Indonesia terdampak negatif pandemi, utamanya di sisi penjualan, dan hanya 12,5% yang bertahan karena melakukan transformasi digital. Padahal, enam dari sepuluh konsumen Indonesia telah mencoba perilaku belanja baru dengan metode daring sejak pandemi terjadi dan 88% di antaranya berniat melanjutkan setelah pandemi selesai.

Berinisiatif untuk turut serta mengatasi kesenjangan ini, Citibank N.A., Indonesia (Citi Indonesia), melalui Citi Peka (Peduli dan Berkarya) sebagai payung seluruh kegiatan CSR-nya serta dengan dukungan Citi Foundation, bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) mengimplementasikan program edukasi kewirausahaan Youth Entrepreneurship through A Digital Approach Initiative bagi 3.812 pelajar SMA/SMK di lima kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Denpasar).

Menjelang puncak program pada November mendatang, para pelajar dari 15 SMA/SMK di Semarang, Surabaya, dan Denpasar bersaing memaparkan kinerja bisnis mereka dalam kegiatan daring Regional Student Company Competition 2021, Sabtu (11/9). Tiga perusahaan siswa (student company) terbaik hasil penilaian juri kalangan profesional berhak mewakili daerahnya untuk memperebutkan tiket emas ajang bisnis Asia Pasifik di kompetisi tingkat nasional.

Advertisement

Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, Puni A. Anjungsari mengungkapkan, Citi Indonesia bersama PJI telah secara konsisten memberdayakan generasi muda untuk berwirausaha sejak tujuh tahun lalu, dengan nilai investasi hingga lebih dari Rp 18 miliar. “Para siswa tidak hanya dilatih untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam mengembangkan ide bisnis, namun juga dibina untuk mampu bersikap adaptif dan responsif dalam menghadapi tantangan, terutama dalam menghadapi kondisi disruptif seperti pandemi Covid-19 ini. Hal ini sejalan dengan prakarsa global Citi dan Citi Foundation yaitu Pathways to Progress, yang berupaya mendorong percepatan peningkatan taraf hidup dan peluang ekonomi bagi generasi muda,” ujarnya dalam siaran pers PJI.

BACA  Siti Sunaryati: Awalnya “Ngutang”

Program Youth Entrepreneurship through A Digital Approach Initiative memfasilitasi pelajar SMA dan SMK untuk mengasah keterampilan kewirausahaan mereka melalui pengalaman langsung mengoperasikan sebuah usaha mikro secara mandiri di sekolah. Para pelajar diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan serta memecahkan masalah di komunitas serta mengoptimalkan teknologi digital dalam operasi dan strategi bisnis mereka.

Di awal program, mereka telah mendapatkan pembekalan dari sejumlah profesional bisnis, khususnya seputar pemanfaatan pemasaran digital, melalui Youth Entrepreneur Camp serta berlatih membuat keputusan bisnis melalui simulasi interaktif berbasis web JA Titan. Selama periode program, karyawan Citi Indonesia yang tergabung dalam Citi Volunteers juga terlibat aktif dalam memberikan pendampingan untuk berbagi pengalaman dan inspirasi.

Robert Gardiner, Co-Founder & Academic Advisor Prestasi Junior Indonesia menjelaskan, di tengah situasi pandemi yang penuh tantangan, pengusaha muda ini membuktikan kepekaan terhadap perubahan perilaku konsumen dan dinamika pasar dapat membantu mereka mengembangkan strategi jitu dalam menjangkau target pasar. “Selama empat bulan beroperasi, ke-15 usaha mikro ini berhasil memperoleh total pendapatan bisnis mencapai Rp 94,5 juta dengan mengandalkan pemasaran digital. Melalui program ini, para pelajar tidak hanya memperoleh pengalaman pertama berwirausaha tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 yang sangat dibutuhkan, seperti berpikir kritis dan pemecahan masalah yang kompleks, komunikasi, kolaborasi, serta kreativitas,” ungkapnya. Dengan dukungan Citi Indonesia, Citi Foundation, dan Dinas Pendidikan setempat, pihaknya berharap upaya berkelanjutan ini dapat terus menjadi wadah lahirnya wirausaha muda baru Indonesia sekaligus mengakselerasi peralihan UMKM ke era digital.

BACA  Kemegahan Patung Sudirman di Jepang

Salah satu usaha mikro binaan program Youth Entrepreneurship through A Digital Approach Initiative adalah Neon Student Company dari SMAN 2 Denpasar. Dengan misi melestarikan budaya Bali, bisnis yang dikelola oleh 18 pelajar ini menawarkan Your Hat, paket bucket hat dua sisi dan masker kain yang terbuat dari paduan kain drill dan kain endek. Aksesori yang banyak digunakan untuk padu padan busana ini diminati banyak remaja di Denpasar hingga Sumbawa.

Advertisement

Hanya dalam waktu empat bulan beroperasi, Neon Student Company berhasil menjual 107 paket Your Hat melalui marketplace dan media sosial dengan total pendapatan bisnis mencapai Rp 6 juta.

Lima belas sekolah dari Semarang, Surabaya (termasuk Sidoarjo), dan Denpasar yang berkesempatan mengikuti program tahun ini, antara lain SMAN 1 Semarang (One to Win SC), SMAN 3 Semarang (Wignesa SC), SMAN 5 Semarang (Gistace SC), SMKN 9 Semarang (Sasogi SC), SMK LPI Semarang (Nirkamada SC), SMAN 2 Surabaya (Leovulca SC), SMAN 8 Surabaya (Evodis SC), SMAN 16 Surabaya (Alanza SC), SMKN 2 Buduran (Zero to Hero SC), SMKN 3 Buduran (Syailendra SC), SMAN 2 Denpasar (Neon SC), SMAN 4 Denpasar (Arden SC), SMAN 5 Denpasar (CIS SC), SMKN 3 Denpasar (Bention SC), dan SMK Bintang Persada (Reach the Sky SC).

BACA  Rolland Ndoloe: Gali Bakat Seni Generasi Muda NTT

Satu sekolah terbaik akan mewakili kota masing-masing untuk bersaing dengan sekolah-sekolah dari regional lainnya dalam kompetisi bisnis tingkat nasional, Indonesia Student Company of the Year Competition 2021, yang akan diselenggarakan secara daring pada November mendatang. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Tren