Connect with us

Pelesir

Secret Garden Village: Selaraskan Budaya dan Perkembangan Zaman

Published

on

Guna menyeimbangkan ketimpangan perekonomian di Bali, Secret Garden Village hadir sebagai destinasi baru yang akan menjadi ikon tujuan wisata di Bedugul, Tabanan. Wahana ini mengusung konsep kunjungan edukasi factory & outlet untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada generasi muda yang mulai condong ke kebudayaan luar. Tur edukasi yang disuguhkan meliputi beauty, coffee, dan resto.

Black Eye Coffee and Roastery

Black Eye Coffee and Roastery

Pertama para pengunjung akan diedukasi mengenai cara pembuatan kosmetik dari bahan-bahan alam. Hal ini dikarenakan perusahaan tersebut pertama kali berdiri di bidang kosmetik utamanya lulur yang berlabel Herborist. Pengunjung akan diajak ke Oemah Herborist Beauty Factory Outlet. Pengunjung akan melihat pabrik kosmetik Herborist yang terkenal dengan lulur Balinya. Ada Beauty Heritage Museum tempat khusus menyimpan sejarah kosmetik kecantikan Indonesia sejak zaman dahulu kala sampai perkembangan dunia kosmetik modern.

Pengunjung juga diajak mengunjungi Mini Plant, tempat para turis akan diajari cara membuat kosmetik dengan bahan alami khas nusantara, seperti pembuatan sabun, lulur, dan seterusnya. Tempat berikutnya adalah teater, tempat pengunjung bisa melihat film dengan durasi pendek sekitar 5 menit.

BACA  Gebyar Pasar Merdeka Sunday Market Secret Garden Village

Tur kedua dilanjutkan ke Black Eye Coffee and Roastery. Di tempat ini khusus menyediakan suguhan kopi kualitas tinggi. Semua produk kopi yang dipakai adalah kopi hasil dalam negeri sendiri, tapi mesin yang digunakan memakai teknologi terkini yang modern dan standar internasional.  Selain kedua tempat tersebut, Secret Garden juga memiliki venue menarik lainnya antara lain, Rice View Resto khusus untuk BBQ dan The Luwus Resto yang menyediakan menu nusantara seperti makanan khas Bali dan menu masakan Asia.

Menurut Assisten Marketing Manager Darren Firmansyah, Secret Garden memiliki resto dengan menu andalan yaitu Bebek Timbungan. “Ini merupakan cara memasak dari zaman kerajaan dengan memadukan bersama dua puluh macam rempah dan dimasukkan ke dalam bambu,” jelasnya.

Advertisement

Dengan luas 4 hektare, Secret Garden Village merupakan destinasi baru yang akan menjadi ikon di Bali dengan mengusung visi dan misi menjaga kelestarian budaya bangsa, tapi tetap selaras dengan perkembangan zaman. Jangan heran jika nanti akan melihat bangunan megah dengan desain modern kontemporer berdiri di bukit indah nan alami. “Desainnya dipadukan dengan alam yang sangat kuat, seperti air, kayu, besi dan beton,” jelas Darren. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

BACA  Mengunjungi Gunung Nokogiri: Buat Permohonan dengan Lempar Koin

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pelesir

Agenda Liburan Pun Dijadwal Ulang

Published

on

Ubud merupakan salah satu lokasi yang diminati saat liburan Nataru di Bali (cybertokoh/Ngurah Budi)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Liburan Natal dan Tahun Baru menjadi perhatian pemerintah. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah naiknya angka kasus Covid-19. Salah satunya pelarangan cuti bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan karyawan swasta selama periode libur Nataru ini.

“Om, kami positif batal ke Bali. Daddy tidak boleh cuti. Salam sehat untuk semuanya.” Begitu pesan singkat yang dikirim Jonathan Hutaruk kepada Mahendra, Om-nya yang tinggal di Bali, Rabu (1/12).

“Sejak September lalu kami sudah merancang agenda liburan, menyewa villa di Ubud, naik sepeda keliling Ubud, dan kulineran. Namun, semua harus dibatalkan. Kami mematuhi aturan pemerintah, demi keamanan dan kesehatan kita semua,” ungkap Mahendra.

Advertisement

Ia menambahkan, Jonathan dan keluarga di Surabaya sudah mempersiapkan diri untuk liburan ke Bali. Mereka juga sudah vaksinasi Covid-19 dosis lengkap. Agenda malam pergantian tahun yang akan dirayakan dengan membakar ikan pun sudah dirancang. “Awalnya mereka akan ke Bali pertengahan Desember, kebetulan pas dengan masa liburan kampus. Dari Surabaya naik mobil, lalu menginap sehari di Banyuwangi sambil jalan-jalan ke Ijen. Ternyata, ipar saya (ayahnya Jonathan) yang tidak diperkenankan cuti oleh kantor pusat. Mereka mengikuti aturan pemerintah. Agenda liburan pun kami jadwal ulang,” ujar Mahendra.

Liburan ke Bali sebelum pandemi Covid-19 menjadi tradisi bagi Jonathan dan keluarga. Mereka liburan sekaligus merayakan Natal dan Tahun Baru di Pulau Dewata. Namun, sejak pandemi, mereka hanya di Surabaya saja. Untuk mengobati rasa rindu dengan keluarga di Bali, mereka kerap melakukan video call.

Larangan cuti bagi ASN yang berimbas pada pembatalan liburan diakui Yenny, warga Denpasar yang mengelola restoran di Ketapang, Banyuwangi. “Kami awalnya optimis liburan Nataru bisa menambah omzet. Ini berdasarkan pengalaman setelah Juli-Agustus 2021, mulai ada peningkatan konsumen. Tetapi begitu ada aturan dilarang cuti, kami mulai pesimis. Mau gimana lagi, kami hanya berharap pandemi Covid-19 ini segera berlalu,” ujarnya.

BACA  Restoran Bebek Timbungan Siap Manjakan Lidah Konsumen

Restoran Yenny menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Jumlah pengunjung dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas. Cek suhu tubuh, penggunaan masker, menjaga jarak aman, dan selalu mencuci tangan dengan sabun di air mengalir menjadi prosedur wajib untuk konsumen dan staf restoran.

Yenny juga menuturkan ketika terjadi gelombang kedua Covid-19 di Indonesia sekitar Juni-Juli 2021 pergerakan masyarakat dibatasi. “Saya mau ke Denpasar dari Ketapang harus menunjukkan surat vaksin dosis kedua. Kalau ndak punya surat itu, ndak dikasi masuk ke Bali. Setelah vaksin kedua, saya balik lagi ke Ketapang. Penyeberangan sepi saat itu,” ungkapnya.

Advertisement

Sembari menunggu kepastian datangnya wisatawan yang berlibur, Yenny pun rehat sejenak. Ia pulang ke Denpasar untuk menengok rumahnya sekalian bertemu beberapa anggota keluarga. Yenny berencana kembali ke Ketapang pertengahan Desember.

Peniadaan Aktivitas Seni Budaya dan Olahraga
Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan Hari Raya Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 adalah ajang pembuktian, masyarakat Indonesia sendiri yang dapat menentukan kapan pandemi dapat berakhir di Tanah Air. Caranya dengan melakukan semua tindakan pencegahan, tetap disiplin protokol kesehatan agar tetap aman dari ancaman penularan Covid-19.

“Tetap gencarkan tes, lacak, dan isolasi atau 3T, testing, tracing, treatment, agar indikator PPKM tetap merefleksikan level 1 atau terkendali dan percepat program vaksinasi agar mencapai 70% sasaran di akhir tahun ini,” imbau dr. Reisa.

Ia percaya, masyarakat dapat beradaptasi dengan berbagai pengaturan yang tercantum dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 62 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Corona Virus Disease 2019 Pada Saat Natal Tahun 2021 dan Tahun Baru tahun 2022. Inmendagri tersebut menyatakan selama periode Natal tahun 2021 dan Tahun Baru tahun 2022 (Nataru) pada 24 Desember 2021 sampai 2 Januari 2022, semua pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan pemerintah kota untuk memastikan Satuan Tugas Penanganan Covid-19, sampai dengan ke tingkat terbawah—seperti di tingkat Rukun Tetangga (RT)/Rukun Warga (RW)—bekerja maksimal dan dalam kapasitas penuh.
Inmendagri juga meminta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pemangku kepentingan lainnya, dapat bekerja sama lebih erat dalam menyuarakan langkah pencegahan dan penegakan disiplin prokes.

BACA  Sensasi Secret Garden: Oemah Herbolist Tawarkan Kecantikan Alam Sejati

“Bagi para pekerja, kami meminta menjadwal ulang tradisi pulang kampung atau mudik saat Natal dan Tahun Baru, untuk memastikan bahwa sirkulasi virus tidak berpindah dari kota ke desa, karena potensi kerumunan di berbagai moda transportasi akan berpotensi menimbulkan klaster baru kampung halaman, bahkan terlebih bahaya lagi, menciptakan klaster-klaster keluarga yang baru bermunculan,” tegas dr. Reisa.

Advertisement

Ia mengingatkan, bahwa sudah terbukti, dampak mudik Lebaran 2021 dan mobilitas tinggi di Nataru tahun lalu menimbulkan siklus penularan baru. Libur Idulfitri 2021 mencatatkan penambahan kasus harian sampai dengan kisaran 50 ribu atau naik lebih dari seribu persen dari periode bulan sebelumnya. Sedangkan libur kolektif Maulid Nabi dan Natal 2020 telah menambah lebih dari 5 ribu kasus harian baru, atau naik 100 persen dari bulan sebelumnya.

Karena itu, Inmendagri melakukan pelarangan cuti bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan karyawan swasta selama periode libur Nataru. Inmendagri juga meminta Pemda meniadakan kegiatan seni budaya dan olahraga pada tanggal 24 Desember 2021 sampai dengan 2 Januari 2022, menutup semua alun-alun pada tanggal 31 Desember 2021 sampai dengan 1 Januari 2022, dan mengatur aktivitas pedagang kaki lima di pusat keramaian agar tetap dapat menjaga jarak.

Kemudian Satpol PP, Satlinmas dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pemadam kebakaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan keterlibatan aktif dalam mencegah dan mengatasi aktivitas publik yang dapat mengganggu ketentraman dan ketertiban masyarakat. Termasuk mencegah dan mengatasi aktivitas berkumpul, kerumunan massa di tempat fasilitas umum, fasilitas hiburan (pusat perbelanjaan dan restoran), tempat wisata, dan fasilitas ibadah, selama Nataru.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menambahkan pemerintah telah mewajibkan Aparat Sipil Negara (ASN) menunda cuti pada Desember. Pihak keluarga ASN dan masyarakat secara umum diharapkan dapat memberikan dukungan implementasi salah satu kebijakan pengendalian Covid-19 tersebut.

BACA  Mengunjungi Gunung Nokogiri: Buat Permohonan dengan Lempar Koin

“Kami mengharapkan para ASN dan semua pihak yang terkait dengan kebijakan ini dapat mengerti kebijakan ini semata diambil untuk mendukung pengendalian Covid-19 di Indonesia. Kami berharap sanksi tegas yang sudah disiapkan tidak perlu diberikan kepada ASN manapun,” ujar Johnny.

Advertisement

Berdasarkan SE Menpan-RB No 13 Tahun 2021, ASN dilarang mengambil cuti dan bepergian ke luar daerah di minggu yang sama dengan hari libur nasional baik sebelum maupun sesudah mulai 20 Desember 2021. Selain itu, berdasarkan SE Menpan-RB No. 26 Tahun 2021 ASN dilarang mengambil cuti dan bepergian ke luar daerah selama periode Hari Raya Natal 2021 dan tahun baru 2022, yakni pada 24 Desember 2021-2 Januari 2022.

“Hal ini tentunya dilakukan sebagai langkah pencegahan dan penanggulangan Covid-19 yang berpotensi meningkat dikarenakan perjalanan orang selama Nataru,” katanya.

Disamping itu Menkominfo mengatakan bahwa pemerintah mengimbau seluruh ASN untuk tetap waspada dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Pemerintah mengajak semua pihak untuk sama-sama saling mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 belum selesai.

Sedangkan bagi umat Kristen yang akan beribadah dan merayakan Hari Raya Natal 2021, pemerintah meminta agar gereja membentuk Satuan Tugas protokol kesehatan penanganan Covid-19 yang berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 daerah, guna menjamin keamanan dan keselamatan jemaat selama pelaksanaan ibadah dan perayaan Natal.

Dokter Reisa kembali mengajak masyarakat untuk mencegah terjadinya gelombang ketiga kenaikan kasus, dengan tetap taat protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi. “WHO menjelaskan bahwa fungsi vaksin tidak hanya diukur dari efikasi namun dari kemampuan vaksinasi memberikan memori kepada sel tubuh kita untuk selalu membangun benteng pertahanan atau imunitas setiap kali virus yang sama datang menyerang. Ayo pakai masker, ayo segera vaksin bagi yang belum vaksin,” tegasnya.(Ngurah Budi)

Advertisement

Continue Reading

Pelesir

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 saat Libur Nataru, Ini Strateginya

Published

on

Suasana pantai Kuta yang mulai ramai dikunjungi wisatawan. Kuta merupakan destinasi favorit saat liburan Natal dan Tahun Baru (cybertokoh/Febrian Putra)

Badung (cybertokoh.com) –

Pemerintah tengah menyusun strategi untuk mengantisipasi potensi lonjakan kasus menjelang libur akhir tahun. Hal ini sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19 gelombang ketiga. Masyarakat pun diminta bijak bermobilitas, disiplin protokol kesehatan, dan melakukan vaksinasi.

“Aktivitas dan mobilitas masyarakat mulai ramai. Ini terlihat di jalan menuju Kuta. Kuta tetap menjadi lokasi favorit wisatawan domestik. Apalagi nanti liburan Nataru, bisa tambah ramai,” ungkap Made Saputra, seorang pekerja swasta di Kuta.

Ia pun berharap mobilitas ini dibarengi dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Baginya kesehatan dan ekonomi harus berjalan bersama. “Minimal pakai masker ketika bertemu orang lain. Jaga diri, jaga orang lain, jaga masyarakat,” ujarnya.

Advertisement

Saputra ingin situasi ekonomi masyarakat khususnya yang bergerak di sektor pariwisata bisa bangkit. Karena itu, liburan Nataru bisa menjadi harapan untuk mengumpulkan rupiah tanpa mengabaikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Sementara itu, dokter yang juga influencer kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi mengatakan kasus Covid-19 sering meningkat dengan bertambahnya mobilisasi. Namun dengan adanya vaksinasi, meskipun ada potensi kenaikan kasus, kasusnya mungkin naik namun gejalanya tidak berat.

Sebagai antisipasi naiknya kasus Covid-19 di akhir tahun, ia mendorong pengelola di area publik harus bertanggung jawab, bahkan berani menegur pengunjung yang abai terhadap prokes, misalnya tidak memakai masker. “Jika ada pengunjung yang tidak pakai masker, harus berani menegur. Akan sulit kalau hanya menyalahkan pengunjung namun pengusaha tidak mau kerja sama,” ujarnya dalam Dialog
Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN, yang dipantau dari Badung, Jumat (12/11)

BACA  Lomba Fashion Show di Secret Garden Village

Dia mengajak masyarakat jangan panik, namun tetap waspada dan jangan meremehkan Covid-19.
“Saat ini vaksinasi belum sesuai target. Dosis lengkap baru tercapai 39-40%. Meski berbagai tempat sudah dibuka namun Covid-19 belum hilang. Kita tidak mau ada gelombang ketiga,” tegas dr. Tirta.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry Harmadi menyampaikan, Indonesia berhasil mempertahankan momentum angka penularan Covid-19 tetap rendah sejak 15 Oktober 2021 di bawah 1000 kasus per hari, keterisian tempat tidur rumah sakit (BOR) di bawah 4%. Sedangkan jumlah orang yang divaksin mencapai 208 juta orang, dimana 80 juta sudah mendapatkan dosis lengkap.

Advertisement

“Dari segi kepatuhan masih sangat tinggi dengan skor 8,12 untuk pemakaian masker dari skala 1-10. Kepatuhan jaga jarak masih baik. Hanya saja memang 11% kabupaten/kota dengan skor pakai masker kurang dari 60%. Perlu menjadi perhatian kita untuk mendorong disiplin protokol kesehatan karena masih ada potensi gelombang ketiga, apalagi dengan adanya baru AY.4.2 meskipun belum masuk ke Indonesia,” ujar Sonny.

Ia berharap masyarakat tetap taat menjalankan prokes ketat. Selain itu, harus dibarengi dengan pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi yang banyak digunakan oleh institusi. Kedisiplinan pakai aplikasi ini harus ditingkatkan.

BACA  Bali Safari Rayakan Hari Harimau Sedunia

Guna mencegah lonjakan kasus akhir tahun, Sonny menegaskan pemerintah juga tidak pernah
kendor dalam hal melakukan testing. “Kita belajar dari negara lain, saat kasus landai, penurunan kapasitas testing bisa memicu terjadinya lonjakan. Selain itu, pemerintah juga mendorong masyarakat disiplin dalam prokes melalui berbagai komunikasi risiko,” ujarnya. Libur akhir tahun tidak hanya dirayakan di dalam negeri, namun juga luar
negeri. Untuk itu, ada skrining ketat bagi pelaku perjalanan internasional.

Terkait dengan antisipasi lonjakan kasus di akhir tahun, Asisten Deputi Kedaruratan dan
Manajemen Pasca Bencana, Nelwan Harahap menyampaikan pemerintah telah melakukan
sejumlah langkah antisipasi, antara lain memangkas cuti bersama yang diharapkan dapat
mengurangi pergerakan masyarakat untuk memanfaatkan libur akhir tahun. Pemerintah juga membuat kebijakan larangan cuti di momen akhir tahun untuk menunda niat masyarakat bepergian.

“Hal yang menjadi kata kunci adalah konsisten dengan prokes, peningkatan cakupan vaksinasi
untuk semua kelompok umur guna menekan laju perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia,” ujar Nelwan.

Advertisement

Untuk itu, sosialisasi harus terus digencarkan dengan menjangkau komunitas-komunitas
agar lebih efektif. Ia mengingatkan dan mendorong masyarakat menjaga kedisiplinan dan kesadaran di tingkat individu dalam menjaga prokes.

BACA  Wedding Party Secret Garden Village

Menyoroti potensi gelombang ketiga, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane mengatakan saat ini belum terlihat ada indikasi ke arah itu. “Kecuali kalau pintu masuk kita loss-kan (dibuka bebas) karena subvarian Delta ini sudah dekat dengan Indonesia,” ujarnya.

Masdalina menilai, seandainya ada kenaikan kasus, namun tahun ini berbeda dengan situasi tahun lalu. Tahun lalu belum ada vaksin, tahun ini sudah ada. Yang penting, sinyal-sinyal terus dipantau agar Indonesia stabil terhadap standar pengendalian yang benar. Epidemiolog ini mengapresiasi pemerintah dalam mengambil keputusan untuk meniadakan cuti maupun libur akhir tahun.

“Kita sementara waktu ini harus berhati-hati. Jangan dulu berlibur dalam satu waktu, jangan menumpuk di Nataru. Bagi institusi untuk sementara sebaiknya tidak memberikan libur/cuti bagi karyawannya. Hal ini akan membantu mengurangi kerumunan warga saat liburan,” tandasnya. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Pelesir

Mau Liburan Nataru? Pantau Terus Perkembangan Regulasi

Published

on

Pantai Kuta merupakan salah satu tempat favorit saat liburan Nataru (tkh/Ngurah Budi)

Denpasar (cybertokoh) –

Desember merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu Triantini dan keluarganya. Liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dimanfaatkan untuk plesiran sekaligus pulang kampung ke Bali. Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda, ia pun memendam asa untuk berlibur ke Pulau Dewata.

Dalam percakapan di WA grup keluarga, Tria sebenarnya sudah merancang untuk ke Bali pada Desember 2021 ini. Suami dan anak-anaknya pun sudah sepakat, mereka libur Nataru di Bali. “Sudah dua tahun kami tidak ke Bali. Semoga tahun ini bisa terealisasi,” ujar warga asal Buleleng yang menetap di Surabaya ini.

Tria menuturkan selama pandemi Covid-19 mereka jarang keluar rumah. Suaminya bekerja dari rumah sedangkan anak-anak belajar dari rumah. Mereka semua juga sudah vaksinasi Covid-19 dan menerapkan protokol kesehatan di rumah. Namun, adanya aturan mobilitas selama Nataru membuat Tria kembali harus bersabar. “Kami mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah. Ini juga sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19,” ujar ibu rumah tangga yang selalu menerapkan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir) di rumahnya.

Advertisement

Sementara itu, guna menekan potensi yang disebabkan oleh peningkatan mobilitas masyarakat, khususnya periode Nataru pemerintah melakukan beberapa penyesuaian terkait aturan perjalanan. Agar regulasi yang ditetapkan dapat memberikan dampak optimal, diperlukan kerja sama yang baik dari pemerintah selaku pembuat kebijakan, pihak swasta yang menyediakan layanan portasi, serta masyarakat sebagai pelaku perjalanan.

BACA  Air Terjun Cinta, Objek Wisata dengan Konsep Alami

Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN, Rabu (3/11) menjelaskan aspek mobilitas memberikan peranan besar terhadap terjadinya kasus Covid-19. Karena itu, pemerintah menetapkan kebijakan untuk mengatur mobilitas ini sesuai dengan perkembangan situasi pandemi terkini, melalui koordinasi dan kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait, serta mempertimbangkan berbagai parameter. Selain itu, evaluasi penerapan dilakukan setiap minggu

“Tujuan utamanya, agar kasus Covid-19 tetap terkendali atau bahkan lebih baik dari sekarang. Nataru identik dengan peningkatan mobilitas di sektor pariwisata dan kegiatan sosial keagamaan. Belajar dari tahun lalu, kali ini pemerintah menyiapkan langkah antisipasi agar mobilitas tidak memicu lonjakan serupa. Langkah tersebut bisa berupa pembatasan mobilitas atau pengetatan syarat. Meski sekarang suasananya berbeda, seperti vaksinasi sudah meluas, prokes sangat dipahami, dan kasus sudah melandai, tapi kewaspadaan harus tetap ditingkatkan,” ujar Adita.

Ia menekankan, pengendalian pandemi membutuhkan kerja bersama dan semua pihak diharapkan memahami peran masing-masing. Regulator membuat kebijakan sebagai rem sesuai dinamika yang terjadi, sebagai cara mencegah hal-hal tidak diinginkan. Masyarakat pun diharapkan menyadari regulasi tersebut ditetapkan untuk kepentingan bersama.

BACA  Kemegahan Garuda Wisnu Kencana

Terkait antisipasi mobilitas masyarakat dalam Nataru, Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting menegaskan, selain penetapan kebijakan sebagai hasil kerja sama lintas lembaga dan kementerian terkait dalam menjaga mobilitas, PPKM juga digerakkan hingga level kabupaten/kota, desa/kelurahan untuk menjaga mobilitas supaya tidak terjadi kerumunan.

Advertisement

“Kebijakan ini harus disampaikan pada masyarakat terus-menerus. Komunikasi risiko memang harus selalu disosialisasikan kepada masyarakat. Salah satunya bahwa varian virus baru masih ada dan bertransmisi. Selain itu, vaksinasi masih memerlukan kerja keras karena capaian di kelompok rentan belum seperti yang diharapkan. Kepatuhan akan protokol kesehatan 3M harus tetap dijaga, termasuk dalam sarana transportasi,” jelasnya.

Melakukan perjalanan dalam situasi pandemi, proteksi kesehatan memang harus menjadi prioritas utama, seperti diungkapkan tenaga medis yang juga traveler, Ratih C. Sari. Ia mengingatkan, Indonesia telah merasakan dampak gelombang kedua Covid-19, sehingga seharusnya semua orang tidak menginginkan hal tersebut terulang kembali dan mematuhi aturan yang ditetapkan.

“Vaksin dan protokol kesehatan adalah kombinasi yang sangat diperlukan. Perhatikan dan update dengan peraturan terbaru supaya kita bisa jaga diri dan sekitar, agar selalu sehat. Ketika kita lalai akan protokol kesehatan, berterimakasihlah bila ada yang mengingatkan,” ungkap Ratih. (Ngurah Budi)

BACA  Wisata Alam Bawah Laut Daya Tarik Pulau Pahawang

Advertisement
Continue Reading

Tren