Mozaik

Talk Show “Bangga Jadi Petani” : Badung Siap Proteksi Petani dari Hulu sampai Hilir

Suasana Talk Show “Bangga Jadi Petani”

 

Pemerintah Kabupaten Badung menegaskan komitmen untuk menyelaraskan pertumbuhan antara sektor pertanian dengan sektor pariwisata. Salah upaya yang dikumandangkan adalah meningkatkan kualitas pertanian termasuk semangta bangga jadi petani. Hal ini terungkap dalam acara “Talk Show Pelaksanaan Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana di Kabupaten Badung dengan tema “Bangga Jadi Petani”, Kamis (10/11) di Puspem Badung. Talk show ini merupakan kerja sama Pemkab Badung dengan Kelompok Media Bali Post.

Dalam pemaparannya, Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta menjelaskan Badung mempunyai lima skala prioritas untuk mensejahterakan masyarakatnya. Pertama, sandang, papan, dan pangan. Kedua, kesehatan dan pendidikan. Ketiga, adat, agama, kesenian dan budaya. Keempat, jaminan sosial dan tenaga kerja. Kelima, pariwisata.

“Untuk menjalankan skala prioritas tersebut, kami berkomitmen untuk menjadikan masyarakat Badung bangga menjadi petani. Komitmen tersebut akan diproteksi dari hulu, tengah hingga hilir. Ketika kita ingin menjadikan petani bangga menjadi petani, disana kita berpikir bagaimana memproteksinya dengan pola pembangunan nasional semesta berencana dari hulu, tengah dan hilir. Hulu akan kami bantu dari segi penguatan modal dan pelatihan, tengah akan kami bantu dengan teknologi dan hilir kita bantu dengan proteksi harga pasar. Sehingga, manfaat dari hasil pertanian bisa dirasakan secara maksimal dan langsung oleh petani sesuai dengan harapan mereka,” tegas Giri Prasta di hadapan ratusan peserta talk show yang terdiri dari pekaseh se-Badung serta perwakilan anggota kelompok tani di Badung.

Giri Prasta menambahkan, pihaknya akan menganggarkan APBD khusus di bidang pertanian. Selain itu, membuat regulasi dan format yang tepat dan baik untuk anggaran tersebut. Sehingga, regulasi anggaran bisa berjalan sesuai dengan ketentuan dan bisa bermanfaat kemajuan dan kesejahteraan para petani di Kabupaten Badung. “Kami tidak hanya memikirkan dari segi input, proses dan output, tetapi lebih mementingkan outcome-nya. Dengan demikian, petani pasti akan bangga menjadi petani,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta talk show.

Terkait dengan pemasaran, Giri Prasta menjelaskan Badung mengembangan Badung Smart City di sektor pertanian. Dinas Pertanian akan mempunyai aplikasi untuk memperkenalkan dan memasarkan hasil produk pertanian para petani. Selain itu, pihaknya juga sedang mencari jalan keluar terkait dengan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan. Badung akan memadukan antara sektor pertanian dengan sektor pariwisata. Caranya dengan pertanian kontemporer, sehingga petani nantinya akan mendapatkan hasil pertaniannya yang berkualitas dan tempat pertanian akan kami jadikan ekowisata berbasis lingkungan. “Misalnya, manggis hasil petani Badung wajib ada di hotel-hotel dan di kantor Bupati. Dimakan tidak dimakan, manggis itu sudah dibayar. Ini merupakan proteksi petani. Tidak ada yang berpikir, nanti dijual kemana. Petani hanya perlu buat hasil panen yang berkualitas Ini menjamin pemasaran produk pertanian Badung. Kami juga menyiapkan Agro Tourism Teknopark, Taman Gumi Banten. Taman Usaha, dan Taman Hayati. Kami ingin Badung berdaulat di bidang pangan dan mandiri,” jelas Bupati yang dikenal bares (dermawan) ini.

Sementara itu, Dr. Ir. Ketut Suamba, Wakil Dekan I Fakultas Pertanian Unud memaparkan di tingkat kelembagaan, untuk membangun pertanian ada rekayasa teknologi, rekayasa sosial kelembagaan, dan rekayasa kebijakan. “Kebijakan Badung sudah luar biasa. Sosial kelembagaan ada subak, yang masuk sosial dan budaya. Tetapi, biaya jangan dibebankan kepada petani. Lebih bagus kalau ada pendanaan dari pemerintah. Terkait program kalau sudah ada, siapa yang mengelola, harus jelas agar tidak mandeg,” ujarnya.

Ia menambahkan di Unud sudah siapkan Program Studi Agribisnis, Agroteknologi, dan Arsitektur Pertamanan. Kerjasama dengan Badung pun sudah dilakukan Unud untuk penelitian lahan pertanian. Selain itu, pengetahuan terhadap pertanian, seperti kesuburan tanah, pemilihan bibit unggul, iklim dan teknologi juga sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil pertanian. Sebagai akademisi, pihaknya akan terus mengupayakan melalui kajian-kajian dan penelitian terhadap permasalahan yang dihadapi petani selama ini. Apalagi saat ini dikatakan minat mahasiswa untuk menjadi sarjana pertanian sudah meningkat. Sehinga, selain menjadi peneliti, sarjana pertanian juga menjadi praktisi sebagai penggerak pertanian kedepannya. Apalagi, sarjana pertanian Unud saat ini sudah dibekali dengan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan siap menjadi pengusaha di bidang pertanian.

SEMUA HARUS BERSINERGI

Talk show yang dipandu Pemimpin Redaksi Bali Post Nyoman Wirata ini juga menghadirkan dua petani sukses yang berbagi kiat agar bisa bangga menjadi petani. Mereka adalah  I Gede Adnyana (penangkar benih padi) dan I Nyoman Sudarta (petani asparagus). Dari pemerintah, hadir juga Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Badung, I Gst. A. Ketut Sudaratmaja. Dari kalangan legislator hadir Wakil Ketua DPRD Badung I Nyoman Karyana. Acara talk show ditandai dengan penyerahan secara simbolis bibit kelapa daksina kepada Bupati Badung oleh Redaktur Pelaksana Bali Post Wayan Dira Arsana. Saat jeda, peserta juga dihibur penampilan Wakil Bupati yang menyanyikan lagu “Kidung Kasmaran” dan Bupati yang menyanyikan lagu “Song Brerong”.

Suiasa dan Karyana pun mendukung pemaparan yang disampaikan Bupati Badung terkait dengan Pelaksanaan Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana di Kabupaten Badung. “Saya mempertajam apa yang disampaikan Bupati karena kami satu paket. Perlu ada rekayasa teknologi, manajemen, dan kebijakan. Untuk manajemen, Badung akan bentuk perusahaan daerah. Pertanian sangat potensial, pariwisata juga potensial. Pariwisata dan pertanian bagai dua sisi mata uang. Kami akan meningkatkan pendapatan masyarakat, memberdayakan masyarakat dan semua harus bersinergi. Petani mandiri, desa mandiri, Badung mandiri,” tegas Suiasa.

Dari kalangan petani menyampaikan usulan agar sekali waktu mahasiswa pertanian turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil. Selama ini banyak pekaseh dan pangliman yang sudah tua karena jarang ada petani muda. Dengan adanya pendampingan, diharapkan semangat anak muda bertani bisa bergairah kembali. Akademisi juga diharapkan memberi solusi untuk mengatasi persoalan hama yang kerap terjadi. Ada juga petani yang mengusulkan asuransi pertanian untuk menjaga jika suatu saat harga di pasaran jauh dari harapan. Dengan demikian, petani tidak merasa rugi. (winatha/ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top