Mandalika

Langkah Kecil untuk Hasil Besar : Dekatkan Pendidikan Lingkungan Lewat Eco Mobile

 

“Jangan buang sampah sembarangan”. Slogan dan ajakan ini dinilai tidak begitu efektif untuk merubah perilaku agar tidak membuang sampah sembarangan. Memperlihatkan contoh dengan sikap itulah yang dinilai paling efektif. “Ayo kita membuat sesuatu dari sampah ini,”… begitu Aisyah Odist, pendiri Bank Sampah NTBM, bicara pada anak-anak. Setidaknya itu adalah langkah kecil untuk mendapatkan hasil yang besar, dengan memulainya dari yang murah dan mudah.

Keceriaan anak-anak di Labu Api Lombok Barat terlihat ketika menyambut mobil yang membawa buku-buku bacaan bertema lingkungan hidup yang dibawa oleh eco mobile milik Bank Sampah NTB Mandiri. Mengajarkan untuk mencintai dan memelihara serta menjaga lingkungan hidup penting dilakukan sejak anak-anak usia dini. Hal inilah yang dilakukan Bank Sampah NTB Mandiri di Mataram dengan berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain maupun dari satu kampung ke kampung lainnya.

Mobil perpustakaan ini sengaja dibuat untuk berkeliling melakukan environment education. Mendekatkan anak-anak dengan pendidikan tentang lingkungan. Karena itulah mobil perpustakaan ini dibuat dengan tampilan yang unik dengan banyak warna untuk menarik perhatian anak-anak. Hasilnya memang menarik perhatian anak-anak sehingga di beberapa tempat yang pernah disinggahi meminta agar kehadiran eco mobile dapat terjadwal.

Meski baru beroperasi seminggu, Bank Sampah NTBM melihat antusiasme anak-anak saat diajak bermain sambil belajar berbagai hal tentang lingkungan hidup. Selain banyak buku bertema lingkungan, ada pula buku-buku umum yang bisa dibaca oleh remaja dan orang tua. “Tapi yang lebih diutamakan adalah buku tentang lingkungan untuk anak-anak,” ungkap Aisyah Odist. Meski koleksi buku belum terlalu banyak, eco mobile telah mendapat banyak ‘panggilan’ (pesanan) untuk datang ke sekolah-sekolah.

Dalam seminggu beroperasi, Aisyah sudah melihat antusiame anak-anak baik yang di kota maupun di desa. “Jiwa anak-anak kota dan desa itu sama saja, yang membedakannya hanya fasilitas yang ada di sekelilingnya,” ujarnya. Anak-anak menjadi target utama eco mobile karena anak-anak adalah investasi pendidikan masa depan. Lewat eco mobile ini Bank Sampah NTBM berharap agar pendidikan tentang lingkungan itu dapat dilakukan dari akar hingga dahannya. Anak-anak diibaratkan sebagai akar dan remaja adalah dahannya.

Eco mobile memang mendekatkan pendidikan lingkungan baik ke tempat-tempat formal seperti sekolah-sekolah maupun informal ke desa-desa yang akan terjadwal sesuai dengan pemintaan, hari sabtu dan minggu. Perpustakaan keliling ala Bank Sampah NTBM ini terbilang unik karena tidak hanya membawa buku-buku seperti perpustakaan keliling lainnya melainkan juga mengajarkan langsung anak-anak praktik menyikapi sampah dan pengetahuan tentang lingkungan hidup.

Ini dilakukan oleh bank sampah mengingat di sekolah-sekolah resmi tidak mengajarkan secara khusus mata pelajaran berkaitan dengan sampah dan lingkungan. Maka Bank Sampah NTBM mengambil peran edukasi lingkungan hidup tersebut khususnya kepada anak-anak.

Aisya odist turun langsung untuk mengajak anak bermain sambil belajar menyikapi lingkungan. “Belajar sambil bermain dengan alam dan lingkungan,” ungkapnya. Anak-anak dengan senang hati mendengarkannya bercerita tentang sampah dan lingkungan. Selain itu, eco mobile juga mengajarkan anak-anak untuk bisa tampil percaya diri dengan melatih mereka berkomunikasi. “Anak-anak dilatih untuk berani bicara di depan umum,” ujar Aisyah.

Mobil ini adalah milik Bank Sampah NTBM yang dibeli dari mata rantai pengelolaan Bank Sampah NTBM selama ini. Bank sampah ini bukan tempat jual beli sampah melainkan juga hasil dari proses pengelolaan sampah ini dapat dirasakan juga masyarakat, salah satunya lewat eco mobile. (naniek.itaufan@cybertokoh.com)

Etalase Istimewa untuk Penyandang Disabilitas

Selain itu Bank Sampah NTBM mulai memberdayakan para penyandang disabilitas untuk membuat kerajinan tangan berbahan dasar sampah. Mereka ini para penyandang disabilitas yang sebelumnya sudah dilatih oleh bank sampah tersebut. Dengan kondisi yang kekurangan tersebut, membuat bank sampah ini juga menyediakan asrama bagi mereka. Saat ini mereka tengah melakukan orientasi dengan pekerjaan tersebut. “Selama masa orientasi mereka mendapatkan dana insentif dari Bank Sampah NTBM,” kata Aisyah. Mereka dapat pulang seminggu sekali dengan diantar jemput secara gratis.

Di bank sampah ini mereka akan bekerja membuat kerajinan dari sampah. Dan Bank Sampah NTBM membuat etalase khusus untuk menampung karya-karya mereka di luar dari pekerjaan mereka di Bank Sampah NTBM. Etalase ini bernama etalase istimewa. Berapa pun kerajinan yang dihasilkan oleh para penyandang disabilitas ini akan ditampung dan dipasarkan oleh bank sampah ini. Bank sampahlah yang akan mencarikan pembelinya. “Hasil penjualannya menjadi hak sepenuhnya dari yang punya karya,” kata Aisyah.

Dalam etalase istimewa itu tidak hanya kerajinan dari sampah, melainkan apa pun bentuk karya dari para penyandang disabilitas ini, seperti makanan atau kerajinan lainnya akan dijual dan dipasarkan lewat etalase istimewa. (naniek.itaufan@cybertokoh.com)

To Top