Nine

Teater adalah Kita

Memilih untuk menjadi seorang aktor dalam dunia seni pertunjukan seperti teater, tentu bukanlah pilihan yang umum mengingat tidak semua orang bisa tampil percaya diri untuk berakting secara langsung di atas panggung dengan ditonton banyak orang. Semua mata pasti mengarah pada sosok aktor dan aktris  di atas panggung. Itulah pentingnya memiliki rasa percaya diri. Dan karena itu pula tidak banyak yang memilih untuk menjadi aktor maupun aktris. Karena itulah regenerasi aktor dan aktris menjadi salah satu problem yang kerap dialami oleh sangar-sanggar maupun kelompok-kelompok teater termasuk di Mataram Nusa Tenggara Barat.

Terhitung aktor-aktor senior dan sutradara kawakan yang tetap aktif di antaranya Kongso Sukoco, Saepullah Sapturi, Winsa Prayitno, R. Eko Wahono dan beberapa lainnya. Selebihnya aktor-aktor muda yang lahir dari sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Sementara itu, aktris yang terlihat jarang bertahan. Dari tidak banyak aktris teater di Mataram, ada tiga di antaranya aktris-aktris era tahun 2000-an yang masih bertahan melakoni beberapa naskah teater, meski tidak rutin seperti dulu. Sesekali mereka yang masih tampil menghiasi panggung teater di Mataram itu adalah, Iin Indraswati, Ana Indriana dan Elly Sutawe.

Meski sekarang mereka memiliki kesibukan masing-masing, tetapi mereka masih selalu merindukan panggung teater. Ketiga aktris ini pernah sama-sama bergabung dan bermain dalam panggung yang sama bersama Teater Kamar Indonesia. Ketiganya kerapkali menjadi pemeran utama dalam naskah-naskah yang dimainkan oleh Teater Kamar Indonesia dan sesekali memperkuat pergelaran kelompok teater lainnya. Ketiga perempuan ini memperlihatkan karakter akting dan keseriusannya membawakan peran masing-masing.

Didapuk sebagai pemeran utama dalam naskah-naskah yang dipentaskan oleh Teater Kamar Indonesia itu, Ana Indriana tampil demikian apik saat memainkan naskah Kereta Kencana karya tahun 2005. Begitu pula dengan Iin Indrawasti yang memperlihatkan kekuatan aktingnya dalam naskah Caligula karya dan Sandiwara Merah Jambu. Elly Sutawe juga membuktikan dirinya sebagai aktris berbakat dengan tampil demikian jenaka dalam naskah Hikayat Gajah Duduk dan Sandiwara Merah Jambu (keduanya karya Almarhum Imtihan Taufan).

Iin Indraswati jatuh hati pada teater sejak tahun 2002 saat kuliah di FKIP Unram dengan bergabung di Teater Putih Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan Universitas Mataram. Ketertarikannya pada seni peran ini awalnya hanya karena ada mata kuliah teater pada semester V dan teater merupakan hal baru baginya. Namun setelah itu ia malah jatuh hati pada teater. Beberapa lakon yang pernah dimainkannya adalah “Lalecon” di Teater Putih, berperan sebagai Casonia dalam pementasan “Caligula” dan peran Putri Cilinaya dalam pementasan “Sandiwara Merah Jambu” di Teater Kamar.

Selain itu ia pernah berperan sebagai Mina dalam pementasan “Rambut Palsu” di Teater Ozon. Ia menjadi sosok Putri dalam Cupak Gerantang, ia juga terlibat dalam pementasan “Sekam”. “Dan di tahun 2016 ia berperan sebagai Kakak dalam pementasan “Rajawali” yang disutradarai Kongso Sukoco,” katanya. Itulah pementasan terbaru yang dilakoninya. Menurutnya, kecintaannya dalam dunia teater itu cukup unik karena ia mengaku tidak mengetahui apa yang dirasakannya. “Entahlah, kalau kata orang cinta itu buta, mungkin itu maksudnya. Dulu saya tidak sadar ketika saya memasuki dunia teater maka kita akan menjadi sosok yang berbeda, sosok yang mampu menerawang kehidupan masa lalu, masa kini dan masa depan,” ujarnya.

Proses dalam berteater yang begitu dalam memaksanya berperan menirukan suatu tokoh, merasakan kesedihan walaupun ia sedang gembira atau sebaliknya. “Kita dipaksa tertawa padahal sedang sedih luar biasa, bahkan kita harus rela dimarah oleh lawan main kita padahal kita tidak salah, atau terkadang kita mencintai tokoh suatu cerita, padahal  dalam kehidupan nyata kita bermusuhan,” katanya. Rupanya ada banyak cerita dan pengalaman batin yang ia dapat secara langsung selama prosesnya berteater.

Hal inilah yang membuatnya menanggap bahwa teater adalah seluruh rupa dan wajah kita. “Teater adalah kita. Begitu banyak sandiwara dan kepura-kepuraan di sekitar kita, terkadang ada seorang yang begitu semangat bercerita menirukan gaya guru atau kawannya, atau ada seorang anak kecil yang pura-pura nangis untuk meminta mainan kepada orang tuanya, dan ada yang pura-pura marah padahal cinta. Begitu banyak kelucuan dan hal yang menarik bila kita lihat dari sudut pandang teater,” ungkap Iin. Sebuah pengalaman yang tidak bisa dilupakannya adalah saat ia memerankan sosok Caesonia kekasih dari Caligula. Latihan yang begitu panjang dan pementasan yang sangat panjang itu dengan banyak konflik baik dari segi naskah, isi cerita dan proses pencarian karakternya. “Caesonia bukanlah satu-satunya kekasih caligula, namun ia selalu setia dan menerima setiap kemarahan, perselingkungan dan bahkan ketika Caligula merasa terpuruk,” ungkap pegawai Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Klas I Mataram, Satuan Kerja di bawah Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTB, ini.

Sejauh ini Iin tidak akan pernah menemukan suatu titik di mana ia akan berniat berhenti atau menutup buku tentang teater. “Manfaat teater bagi saya adalah terkadang dalam hidup ini diperlukan momen untuk berakting. Akting kecil untuk mencairkan suasana rapat yang sedang tegang, atau akting besar alias “marah” ketika menghadapi situasi yang buruk,” ujarnya. Banyak hal yang ia dapatkan di teater, setidaknya hidup yang tidak monoton dan ia dapat memandang hidup dari sudut yang berbeda. Karena itulah ketika saat ini ia tengah cuti sekolah selama dua tahun dengan izin belajar melanjutkan studi pada program Magister Akuntansi Sektor Publik di Universitas Mataram, dengan program beasiswa dari BPKP, ia memilih kembali bermain teater yang menyalurkan hobinya itu.

Selain Iin ada Ana Indriana yang juga jatuh hati begitu dalam pada seni peran teater ini. Beberapa naskah yang pernah dimainkannya adalah Demung Sandubaya karya Max Arifin, Nina Digigit Nyamuk karya Imtihan Taufan, Orang Asing, Sepasang Merpati Tua, Mengembang Tepian Nasib dan beberapa naskah lainnya. Bagi Ana beproses dalam teater itu sama halnya belajar memaknai hidup. Ia menemukan kehidupan itu pada proses berteater. “Roh kehidupan ada dalam proses berteater, di mana manusia belajar melatih kepekaan rasa, fikiran dan kelenturan fisik,” ungkap Ana. Karena kesejatian hidup ditemukannya dalam teater maka ia tidak pernah berniat berhenti berteater. “Ilmu teater banyak membantu dalam karir dan pekerjaan saya,” ungkap Dosen tetap AMIKOM Mataram ini. Kepercayaan dirinya sebagai seorang guru ketika mengajar di depan kelas, menurutnya ia dapat dari ‘nyawa’ teater. (naniek.itaufan@cybertokoh.com)

To Top