Kreasi

“Legenda dari Desa Dirah” : LARUNG MENGGUGAT TIRANI SANG PENGUASA

 

Larung adalah murid Si Calonarang yang menguasai ilmu hitam kelas tinggi. Perawan cantik namun berperangai pendendam ini sanggup berubah wujud menjadi beragam siluman yang menyeramkan.  Karena itu, tak ada pria yang berani melabuhkan cinta padanya. Namun, Larung sama sekali tak hirau. Ia hanya peduli menuntut ilmu hitam yang telah menawan lakon hidupnya. Hidupnya dipersembahkan hanya kepada gurunya, janda sakti Desa Dirah, Si Calonarang. Segala perintah dari Calonarang akan dilaksanakannya dengan tekad bulat,  walaupun harus menyabung nyawa.

Kisah Larung yang perkasa itu disajikan oleh tim kesenian duta Kabupaten Gianyar dalam perhelatan seni nasional Pesta Topeng Nusantara yang berlangsung pada tanggal 22-23 Oktober lalu di Cirebon, Jawa Barat. Diikuti oleh 10 tim kesenian yang terdiri dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali (Gianyar) satu-satunya peserta dari luar Pulau Jawa. Mengangkat judul lakon “Legenda dari Desa Dirah” yang bersumber cerita rakyat Jawa Timur berlatar abad ke-11 yang membumi di Bali, penampilan tim kesenian Gianyar pada hari kedua, 23 Oktober, disambut antusias penonton. Kisah Calonarang si tukang teluh, rupanya cukup dikenal masyarakat Jawa Barat.

Pesta Topeng Nusantara itu digelar di sebuah panggung terbuka Taman Kota Sumber Cirebon. Bila para peserta dari Pulau Jawa berkekuatan sekitar 10-15 orang penabuh dan penari, Gianyar hadir dengan 40 seniman. Bila sebagian peserta ada yang tampil dengan iringan gamelan rekaman kaset/CD, Gianyar datang dengan satu truk gamelan gong kebyar. “Kita memang tak mau tanggung-tanggung,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Gusti Ngurah Wijana. Kesungguhan para insan seni Gianyar dalam penampilan di forum nasional ini, menurut Wijana, sesuai dengan komitmen dan apresiasi Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Agung Bharata, S.H., pada seniman dan jagat seni. Malam itu, Agung Bharata, tampak hadir menikmati pertunjukan dengan tekun.

Kabupaten Cirebon termasuk memiliki khasanah tradisi seni pertunjukan topeng yang kuat di wilayah Nusantara. Tradisi topeng Cirebon hingga kini masih eksis, baik roh filosofisnya maupun greget estetisnya. “Mengingat pentingnya posisi seni topeng di tengah masyarakat Cirebon, Pemerintah Gianyar mempersiapkan duta seninya dengan serius,” ujar I Wayan Karyawan, Kabid Disbud Gianyar. Proses penggarapan dramatari topeng “Legenda dari Desa Dirah” ini, paparnya, diawali dengan membuat konsep atau skenario, menentukan direktur artistik, komposer, koreografer,  penabuh, penari, dalang dan gerong alias vokalis.

Secara konsep garap, dramatari topeng  yang judulnya digali dari sumber cerita Calonarang ini merupakan rajutan dari keragaman tari topeng Bali dalam sebuah bingkai dramatik. Semua pemeran menggunakan penutup muka dalam wujud topeng (tapel) dan rias wajah (make up), sebagai personifikasi beragam simbol karakter manusia dan binatang. Narasi cerita dituturkan dalam untaian bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Indonesia. Struktur dramatiknya tak terikat dengan dramatari topeng tradisi namun disesuaikan dengan kebutuhan interpretasi estetik serta kontekstualisasi pesan atau kisah yang dikomunikasikan kepada penonton.

Alkisah, Si Janda Sakti Calonarang girang bukan kepalang atas perkawinan anak gadisnya, Ratna Mangali dengan Raja Airlangga. Namun kegembiraan Si Calonarang hanya dikecap sesaat saja, sebab tiba-tiba putri kesayangannya dikembalikan dengan tuduhan menganut ilmu hitam. Tak terima dengan tirani semena-mena itu,  Calonarang mengutus murid andalannya,  Larung, ke keraton Kediri menggugat Raja Airlangga. Akan tetapi di tengah perjalanan, Larung sempat lalai dengan tugasnya dan justru terlena oleh buaian asmara dari Patih Madri. Beruntung kesadarannya segera pulih dan dengan garang bertarung hidup mati melawan Patih Madri. Cerita tentang kegarangan Larung ini disebut “Kautus Larung” dalam episode dramatari calonarang.

Tokoh Larung yang diperankan oleh penari Pradnya Larasari, tampak mendapat porsi yang penting dalam dramatari topeng Gianyar tersebut. Di bagian awal penampilannya, tokoh ini menunjukkan karakter keras, lugas, tangkas bergerak lincah. Ketika diberikan kesaktian oleh Calonarang, Larung mengerang sungsang dengan kaki di atas dan kepala dibawah. Rambutnya yang terurai panjang menyapu lantai. Koreografi adegan ini membuat penonton tegang, ngeri. Diusung dua siluman, Larung kemudian terbang dalam kepulan asap dengan wajah sangar dan jari tangan bergemetar, berangkat memburu Raja Airlangga untuk dipenggal kepalanya dan akan diserahkan kepada Si Calonarang.

Pendramaan  garapan “Legenda dari Desa Dirah” ini memang dibingkai peperangan namun pesan damai justru menukik pada klimaks garapan, ketika tokoh Mpu Bharadah menasihati Si Calonarang. “Dinda Calonarang, ilmu yang kita pelajari memang berseberangan. Tetapi, semua ilmu itu sejatinya baik, asal dipergunakan dengan benar. Seharusnya ilmu itu digunakan untuk kebaikan harkat dan martabat kemanusiaan, kemajuan peradaban serta untuk kehidupan yang rukun dan damai. Ayo dinda, mari saling menabur kasih, bukan menebar benci dan dengki. Dan, mari satukan perbedaan dalam sebuah rajutan tekad kebersamaan nan tenteram seperti yang diajarkan sasanti bhineka tunggal ika tan hana dharma mangaruwa, yaitu bersatu padu dalam indahnya pelangi keberagaman seni budaya Nusantara.”

Kadek Suartaya

To Top