Kuliner

Kerupuk Kulit Babi Gurih

kerupuk babi

Siapa tak kenal kerupuk kulit babi?  Kerupuk ini sangat familiar bagi umat Hindu di Bali. Salah seorang pembuat kerupuk kulit  babi, Bu Yuni atau bernama lengkap  Made Sudarmini, memulai usaha ini sejak dua tahun lalu. Namun, usaha kerupuk kulit babinya terbilang sukses lantaran dalam waktu dua tahun ia sudah mempunyai banyak pelanggan termasuk dari luar Bali, Jakarta, Kupang, bahkan Timor Leste.

kerupuk-kulit-3

Proses pemotongan kulit babi yang akan dijadikan kerupuk

Awalnya, perempuan yang tinggal di daerah Darmasaba ini, hanya berjualan daging babi sejak tahun 1998.  Sementara, mertuanya, sudah terbilang sukses berjualan kerupuk kulit babi. Ia pun tergerak mengikuti jejak sang mertua. Kebetulan suaminya ikut membantu orangtuanya membuat kerupuk. Bu Yuni meminta sang suami belajar membuat kerupuk dari ibunya.  Berkat ilmu dari mertua, Yuni akhirnya berhasil membuat kerupuk kulit babi yang spesial.  “Kerupuk buatan saya  beda dengan yang lain karena teksturnya lebih renyah dan warnanya lebih bersih dan jernih,” ujarnya sembari mendemokan memotong kerupuk dengan tangannya. “Kriak”,  begitu suara yang terdengar, sepertinya sangat garing.  Memang ia mengakui, tahap awal, tentu tak mudah baginya menghasilkan kerupuk yang enak. Ia melakukan berkali-kali percobaan sampai akhirnya mencapai hasil yang maksimal.  Awalnya, ia hanya membuat kerupuk dari 5 kilogram kulit babi. Dari proses penggorengan, akhirnya, mendapatkan kerupuk sebanyak  1 kilogram. Itu pun membuat kerupuk dilakukan di dapur rumahnya. Beda dengan sekarang, ia sudah mempunyai tempat khusus untuk membuat kerupuk yang satu lokasi dengan pemotongan babi miliknya.  Tempatnya tak jauh sebelah rumahnya, namun, ada tempat khusus yang luas.

Walaupun sudah sukses, Bu Yuni  tak pelit berbagi tips membuat kerupuk kulit babi.  Pertama, kulit dibersihkan terlebih dahulu dari bulu-bulu yang masih melekat. Kemudian hilangkan lemak yang menempel pda kulit babi,  hanya sisakan sedikit karena kalau tak ada lemak sama sekali, rasa  kerupuk kurang enak.  Kemudian potong  kulit babi sebesar 5 cm. Kulit babi dicuci bersih berkali-kali. Kemudian diberi garam, lada, dan masako.  Biarkan 5 menit agar bumbu meresap. Kemudian siapkan minyak goreng yang panas dengan api besar. Goreng kulit babi  sampai setengah matang.  “Sebaiknya lebih sering diaduk agar tidak lengket,” ujarnya memberi saran.

Setelah kerupuk mengambang, segera angkat dan sisihkan. Kemudian panaskan minyak, tapi jangan terlalu panas, celupkan kerupuk setengah matang tadi. Api kompor sebaiknya kecil agar tidak gosong.  Kemudian setelah kulit mengering angkat, dan sisihkan.  Jika tak ada waktu untuk memproses berikutnya, keesokan harinya bisa dilakukan, proses terakhir.

Caranya, minyak dipanaskan lagi, masukkan kerupuk setengah jadi. Aduk-aduk rata. Tujuannya untuk membangunkan kulit yang telah lembek tadi.  Kemudian angkat kerupuk, dan segera masukkan ke dalam minyak panas yang sudah disiapkan, agar kerupuk matang dengan sempurna.  Setelah matang, siap diangkat, dan dinginkan.

Ia mengatakan, untuk mendapatkan proses yang sempurna, kerupuk mengalami 4 kali proses penggorengan. “Jika kerupuk yang dihasilkan tidak sempurna, mungkin salah dalam penggorengan,” katanya.

Saat ini, istri Made Ardana ini,  sekali membuat kerupuk sebanyak 50 kilogram kerupuk. Itu pun, kata dia, habisnya tidak tentu. Kalau hari raya agama Hindu, biasanya, ia banyak mendapatkan pesanan kerupuk.

Sehari-hari  dalam membuat kerupuk, ia dibantu ketiga anak-anaknya. Malah putrinya yang bernama Yunita, sudah bisa membuat kerupuk sendiri. “Saat itu ibu lagi sakit, kerupuk tidak ada, saya coba saja sendiri. Tak banyak  membuatnya hanya 2,5 kg.  Walaupun hasilnya belum sempurna, tapi tetap bisa dijual,” ujar Yunita yang juga mahasiswi pascasarjana Unud ini.

Kerupuk babi yang sudah siap untuk dijual

Kerupuk babi yang sudah siap untuk dijual

Sehari-hari, Bu Yuni berjualan di Pasar Peninjauan, Denpasar Timur. Sementara, Yunita, berjualan di pasar Penatih.  Mereka membuat kerupuk babi ketika jadwal Yunita kosong, artinya tidak kuliah. Yunita kuliah  hanya hari Senin dan Rabu. Mereka membuat kerupuk mulai pukul 4 sore sampai 9 malam. Paginya, jadwal mereka ke pasar mulai pukul 4.30  sampai  pukul 9.00.

Menurut Yunita, ia bangga melakoni pekerjaannya sebagai pedagang dan mahasiswi. Dari penjualannya, ia sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

To Top