Bunda & Ananda

Belajar Naik Sepeda Belajar Keseimbangan

Eva Yunny

Naik sepeda merupakan salah satu kesenangan di masa kanak-kanak yang bisa berlanjut hingga dewasa. Pengalaman belajar naik sepeda kadang menjadi hal yang tak terlupakan.   Apa manfaat belajar naik sepeda?

Usia Ken baru tiga tahun. Ia sudah piawai naik sepeda. Sepeda yang dipakai pertama kali bukanlah sepeda dengan rantai dan pedal. Ia menggunakan sepeda strider, sepeda keseimbangan (balance bike) tanpa pedal dan tanpa rantai.

“Waktu beli sepeda pertama kali, ibu saya heran. Ini sepeda kok ndak isi pedal dan rantai. Tetapi, Ken malah menikmati naik sepeda tanpa pedal dan tanpa rantai ini. Modalnya hanya keseimbangan dan berlari,” ujar Hevi Indiranasari, ibunda Ken.

Dari internet ia tahu sepeda tanpa pedal dan tanpa rantai sudah biasa dipakai anak-anak di Eropa untuk belajar naik sepeda.

Sejak punya sepeda ini, Ken giat berlatih. “Dulu Ken sering mimisan tetapi sejak sibuk naik sepeda, ia jarang sakit bahkan bisa berprestasi di beberapa ajang strider,” imbuh Hevi.

Pengalaman Barra juga sama. Saat dibelikan sepeda keseimbangan itu, ia dengan cepat bisa menguasainya. “Setelah bisa main strider, dia langsung ikut lomba dan juara. Bahkan kini Barra sudah bisa main sepeda biasa,” ungkap Putu August Therase Suwindia, ibunda Barra.

Ia menambahkan sepeda tanpa pedal dan tanpa rantai ini membuat anaknya bisa melatih keseimbangan. Selain itu, bersepeda bersama teman-teman membuatnya mudah bergaul.

Bermain sepeda keseimbangan ini memang mengasyikkan. Pengendara tidak perlu takut kakinya terpental pedal atau masuk ke rantai. Sepeda strider ini memang didesain khusus dan mudah dikendarai. Biasanya, jika naik strider sudah menemukan keseimbangan, akan lebih mudah untuk belajar naik sepeda biasa.

“Anak-anak yang belajar naik sepeda dengan roda bantu penyeimbang justru kesulitan belajar keseimbangan. Mereka selalu dibantu oleh roda bantu dan lebih banyak belajar mengayuh dan mengendalikan stang. Beda dengan anak yang belajar dengan sepeda roda dua tanpa roda bantu dan tanpa pedal. Mereka akan lebih mudah belajar keseimbangan,” ungkap Eva Yunny, Presiden Direktur Strider Bali.

Sepeda keseimbangan ini lebih aman dan praktis. Anak-anak hanya fokus untuk keseimbangan, bukan pada mengayuh. Mereka juga akan lebih siap apabila tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan kecil kemungkinan untuk jatuh. Setelah menguasai keseimbangan, anak-anak dapat langsung memakai sepeda standar.

Eva menjelaskan ada lima manfaat yang  didapat dengan belajar naik sepeda keseimbangan. Pertama, anak-anak belajar keseimbangan motorik yang nantinya memicu dan memacu perkembangan motorik lainnya. Kedua, konsentrasi anak terasah karena adanya koordinasi mata, tangan, kaki, dan badan. Ketiga, anak-anak dipicu dan dipacu terlatih menghadapi tantangan. Keempat, keseimbangan anak tak sekadar motorik tetapi juga keseimbangan otak kanan dan otak kiri. Kelima, anak-anak terlatih mandiri dan berpartisipasi dalam hemat energi dan berwawasan lingkungan.

“Anak-anak selain mendapatkan haknya belajar keseimbangan melalui aktivitas bersepeda roda dua tanpa pedal dan tanpa rantai, orangtua tetap harus mengawasi anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang ini. Ingatkan mereka untuk mematuhi prosedur keselamatan berlalu-lintas, salah satu contohnya melengkapi anak-anak dengan helm,” ujar Eva. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top