Kolom

BURUNG KENARI DAN RAJA PEMBURU

Raja Kameswara sangat terkenal bukan karena pemerintahannya, tetapi karena kegemarannya berburu. Bersama anak buahnya, ia berbulan-bulan meninggalkan istana, masuk hutan keluar hutan. Hewan hasil buruannya dipestakan bersama-sama di tempatnya berburu.

Akhirnya hewan buruan di kerajaan itu habis. Sang Raja terpaksa mengajak anak-buahnya berburu jauh ke batas wilayah kerajaan. Namun di tempat itu pun tidak ada lagi hewan berkeliaran. Dalam keadaan payah dan kelaparan, tiba-tiba sang Raja mendengar seekor burung kenari bernyanyi-nyanyi. Burung itu hinggap di sebuah cabang pohon yang rendah. Dalam waktu singkat, tanpa kesulitan, anak-buah Raja berhasil menangkap burung penyanyi itu.

“Ampun Paduka Raja, jangan bunuh hamba!” Sang Raja terkejut mendengar burung dalam genggamannya itu berbicara seperti manusia. “Apabila Paduka tidak keberatan, bawalah hamba ke istana. Akan hamba ceritakan sebuah berita rahasia.”

Saking senangnya Sang Raja bergegas kembali ke istana seraya membawa burung ajaib itu. Burung penyanyi itu dimasukkan ke dalam sangkar berlapiskan emas.

“Nah, sekarang katakanlah cerita rahasia itu, Sayang!” kata Raja.

“Ampun Paduka Raja! Hamba tidak bebas berbicara dalam kurungan walaupun sangkar ini berlapiskan emas. Hamba lebih suka membuka rahasia di alam yang terbuka. Percayalah, Paduka! Yang akan hamba bicarakan adalah pesan leluhur Paduka tempo dulu.”

Raja Kameswara menimbang-nimbang, antara percaya dan tidak. Ia menyuruh anak-buahnya berjaga-jaga, kalau-kalau burung itu terbang lepas. Ketika Raja membuka pintu sangkar perlahan-lahan, burung kenari itu bernyanyi-nyanyi seraya menganggukkan kepala.

“Leluhur Paduka mewariskan tiga pesan penting kepada keturunannya,” kata burung itu.

“Pesan apa itu? Katakan secepatnya!” desak Raja.

Burung itu bernyanyi lagi, “Pertama, jangan mudah percaya kepada kata-kata manis; kedua, lupakanlah apa yang hilang; ketiga, berhentilah berburu!”

Setelah Raja Kameswara menyanggupi, lalu burung itu berkata lagi. “Karena Paduka sanggup menjalankan pesan tersebut, maka sekarang kubuka sebuah rahasia lagi.”

“Rahasia apa itu, Sayang?”

“Di puncak pohon beringin itu tersimpan sebuah keris pusaka. Kalau Paduka mau menyimpan dengan baik, keris itu akan kuambilkan sekarang!”

Sang Raja sangat senang, lalu ia membebaskan burung itu. Burung penyanyi yang lincah itu pun terbang melesat naik ke puncak beringin. Ditunggu-tunggu, keris pusaka itu tak pernah jatuh dari puncak pohon.

Raja Kameswara sangat marah. Ia sadar akan kebodohannya. Mengapa ia mudah percaya kepada kata-kata yang manis? Mengapa ia tidak mau melupakan yang hilang? “Baiklah, dua pesan itu akan kupenuhi, tetapi pesan yang ketiga, tidak akan kulaksanakan,” kata Raja bersemangat. (Malaysia)

To Top