Inspirasi

Kemegahan Patung Sudirman di Jepang

puti guntur dan menteri urusan khusus jepang yosuke tsuruho

Patung Jenderal Sudirman, menjadi satu-satunya tokoh atau pahlawan negara asing yang dipajang di Jepang. Tak tanggung-tanggung, patung pahlawan Indonesia itu diletakkan area kantor Kementerian Pertahanan Jepang.  Berbeda dengan patung-patung Jenderal Sudirman yang biasa kita lihat yakni mengenakan jubah panjang serta blankon, maka patung  Jenderal Sudirman yang berada di Jepang mengenakan seragam tentara PETA, organisasi bentukan Jepang, dimana sang jenderal sempat menjadi salah satu komandannya.

Puti Guntur Soekarno yang baru saja berkunjung ke Jepang bertutur tentang keberadaan patung Jenderal Sudirman di area Kantor Kementerian Pertahanan. Menurut Puti, ia datang ke Jepang dalam kunjungan dari 1-5 November, selain untuk memberikan pidato umum di Universitas Kokushikan Tokyo, juga mengunjungi beberapa pihak, di antaranya adalah Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Takayuki  Kobayashi di Kantor Kemhan Jepang di kawasan Shinjuku, Tokyo.

Usai ramah-tamah, tuturnya,  Kobayashi diserta sejumlah staf kementerian dan partai, mengantar dirinya dan rombongan menuju lokasi Patung Jenderal Sudirman. Sesampai di sana, protokol mengatur posisi berdiri berbaris menghadap patung, lalu memberi penghormatan. Sebuah karangan bunga sudah disiapkan, dan ia meletakkan karangan bunga itu di bawah patung  perunggu setinggi empat meter itu.

puti-guntur-dan-wakil-menteri-pertahanan-jepang-kobayashiMenurut Puti, sebagaimana dituturkan Kobayashi, patung Jenderal Sudirman yang berdiri di halaman belakang Kantor Kemenhan Jepang, merupakan pemberian Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro beberapa tahun lalu. “Kementerian Pertahanan Jepang menyetujui peletakkan patung Jenderal Sudirman di sana (kantor Kemenhan-red) karena mengingat banyak nilai-nilai positif yang patut menjadi teladan,” ucap cucu Presiden pertama RI Sukarno, ini, mengutip pernyataan Kobayashi.

Dirinya juga sependapat dengan hal itu. Sudirman, lanjut  wanita yang bernama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Soekarno Putri, pantas mendapatkan posisi di Jepang, mengingat selain sebagai pahlawan bagi bangsa Indonesia, ‘jenderal besar’ itu juga menjadi lambang bagi tradisi etos kerja tinggi, disiplin, dan loyalitas. Sikap itu antara lain didapat Sudirman saat berhenti menjadi guru, dan bergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air), gemblengan tentara Jepang tahun 1943.

Kobayashi, tutur Anggota DPR Komisi X ini, tampak  mengangguk-angguk saat mendengar ia menyebut PETA. Seolah  teringat  masa-masa kekuasaan Jepang di Indonesia. Kobayashi yang lulusan John F Kennedy School of Government, Harvard University, juga  mengemukakan harapannya, agar melalui peletakkan patung tersebut, dapat meningkatkan kerjasama yang lebih erat antara Indonesia dan Jepang. Ia juga mengungkapkan tentang pentingnya membina suasana damai antar-negara.

“Indonesia dan Jepang sama-sama negara demokratis. Kita tentu sepakat, bahwa demokrasi senantiasa memperjuangkan kedamaian. Karena itu, kami sangat prihatin dengan permasalahan di Laut China Selatan,” begitu dikatakan Kobayashi. Puti menyatakan,  sebagai warga negara Indonesia, ia berharap persoalan Laut China Selatan bisa diselesaikan secara damai.

Seolah paham tamunya tidak mau terseret dalam isu panas di Laut China Selatan, maka Kobayashi segera memecah suasana melemparkan statemen, “Bagi saya, Indonesia bukan negara asing. Usia lima tahun, saya pernah tinggal di Jakarta mengikuti ayah yang bekerja di sana. Kemudian setelah menjadi pejabat, saya juga mengunjungi Indonesia. Indonesia sungguh negara yang baik. Dalam konteks Hankam, Indonesia adalah negara yang sangat penting bagi Jepang,” papar Kobayashi yang pernah menjabat Menteri Keuangan itu.

Sebagai informasi, dalam kunjungannya ke Jepang, Puti berkesempatan memberi pidato umum di Universitas Kokushikan, Tokyo, pada Kamis 3 November 2016, lalu. Di hadapan para hadirin  ia menyampaikan pidatonya berjudul “Pancasila, Menuju Tata Dunia Baru’. Mirip dengan judul pidato kakeknya di PBB pada 30 September 1960 yang berjudul ‘To Build the World a New’.

Yang juga menarik, ternyata di universitas tersebut terdapat ‘Soekarno Research Center’. Pusat kajian ini masih terbilang baru, yakni diresmikan pada 22 Juli 2015 di Asia Japan Research Center Kokushikan University. Pada saat peresmian, Puti Guntur juga hadir di sana dan memberikan pidato kebudayaan berjudul ‘Pancasila Bintang Penuntun’. Bersama Puti juga hadir sang ayah, Guntur Soekarnoputra, yang merupakan putra sulung Bung Karno, juga sang ibu, Henny.

Menurut Profesor Shibata Tokubumi, Kepala Asia Japan Research Center, pembentukan kajian Sukarno ini dilatarbelakangi kondisi dunia saat ini yang dilanda berbagai konflik yang disebabkan berbagai perbedaan yang hendak dipaksakan. “Kepemimpinan Sukarno meninggalkan warisan sekaligus pelajaran bagi dunia berupa filosofi yang mengedepankan harmoni untuk menaklukkan perbedaan yang terkandung dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika”.

Hal yang sama juga disampaikan Shibata, Rektor Universitas Kokushikan, Profesor Nobuyuki Miura, yang mengingat kembali peran dan jasa Sukarno membangun kekuatan Asia untuk melawan hegemoni Barat. Antara lain melalui Konferensi Asia Afrika dan pesta olah raga negara-begara baru dalam Ganefo.

 

KEMENTERIAN KHUSUS ERA BUNG KARNO

Kembali ke soal kunjungan Puti ke Jepang. Dalam kesempatan itu ia dan rombongan juga mengunjungi  Yosuke Tsuruho, Menteri Negara Urusan Khusus Jepang (Ministry of State for Special Mission)di kantornya.  Dirinya, ucap Puti, jadi teringat era Bung Karno, di mana pada zaman mediang kakeknya berkuasa, juga pernah dibentuk satu kementerian khusus. Jabatan ketika itu disebut Menteri Negara Yang Diperbantukan. Menteri-menteri inilah yang mendapat penugasan khusus di bidang yang khusus pula.

Dalam percakapan dengan Menteri Tsuruho, Puti mendapat gambaran  apa saja yang menjadi tugas dan kewenangan kementerian tersebut. Menurut Tsuruho, kementeriannya memiliki tugas khusus untuk meningkatkan beberapa hal yang berpotensi dikembangan, salah satunya adalah rencana meluncurkan roket. Sebagaimana diketahui, proyek pembangunan roket merupakan salah  satu keberhasilan Kementerian Khusus Jepang.

Selain bidang khusus seperti teknologi, kewenangan kementerian dengan misi spesial di Jepang  juga diikuti pembagian terirori. Artinya, kewenangan kementerian khusus, tidak selalu meliputi seluruh negeri melainkan hanya beberapa kota atau provinsi. Sehingga pernah dalam satu periode, Jepang memiliki kementerian dengan misi khusus penanggulangan bencana (gempa) di salah satu provinsi.

Puti mengatakan, dirinya  mengapresiasi model kementerian dan lembaga di Jepang yang bisa lebih lentur dan fokus. Pengadaan kementerian dengan misi spesial, diyakini mampu menjadi kepanjangan pemerintah yang efektif dalam mengoptimalkan potensi masyarakat di bidang apa pun, baik teknologi, pendidikan, seni-budaya, dan bidang-bidang lain. “Di era pemerintahan presiden pertama, Sukarno, juga dikenal kementerian dengan misi khusus,” ujar Puti seraya mengisahkan beberapa poin penting hubungan Indonesia – Jepang sejak era Sukarno hingga sekarang.

Sebagaimana halnya Tsuruho,  Puti juga berpendapat bahwa hubungan Indonesia – Jepang sangat penting. Bukan saja karena memiliki keterkaitan historis yang panjang, lebih dari itu, Jepang bagi sebagian besar negara di Asia, adalah prototipe negara maju yang sukses menjaga spirit tradisi luhur.

“Saya anggota DPR RI yang membidangi antara lain pendidikan, pemuda, olahraga, dan perpustakaan, sangat concern terharap perlunya kerjasama Indonesia – Jepang ke depan. Terutama di bidang pendidikan dan olahraga. Saya berharap makin banyak mahasiswa Indonesia yang bisa mendapatkan beasiswa dan kesempatan belajar di Jepang. Demikian pula sebaliknya,” kata wanita kelahiran  Juni 1971 ini.(diana.runtu@cybertokoh.com)

To Top