Connect with us

Kolom

JESSICA

Published

on

Akhirnya Jessica divonis hakim 20 tahun penjara. Terbukti sudah membunuh sahabatnya Wayan Mirna dengan mencampurkan sianida ke dalam es kopi Vietnam. Termasuk dalam katagori pembunuhan kejam yang direncanakan dengan hati dingin.
“Menurut pembawa acara TV, masyarakat yang hadir di luar gedung persidangan pengadilan terbelah dua,” kata Bu Amat,”sebagian menyambut gembira keputusan hakim, sebagian menganggap Jessica tidak terbukti melakukan pempunuhan. Bagaimana itu, Pak?”
Muka Amat nampak tak senang.
“Ya kita lihat saja nanti dalam keputusan banding seperti yang sudah direncanakan oleh pengacara Jessica. Tapi media kan memang selalu begitu, sukanya yang heboh-heboh, maklum itu barang dagangannya. Berita itu sudah jadi komoditi mahal. Kalau perlu digoreng sedikit supaya lebih menarik! Iklan bertaburan, duit berlimpah. Masyarakat penonton memang senang padahal jadi megaburan!”
“Ah, Bapak jangan curiga begitu!”
“Curiga bagaimana? Faktanya begitu! Dengerin,  Bapak percaya, seandainya vonis hakim itu lebih ringan dari 20 tahun atau malah membebaskan Jessica seperti yang diharapkan pengacaranya, semua orang akan marah!”
Bu Amat tertegun.
“Maksud Bapak, semua orang ingin Jessica dihukum?”
“Semua orang ingin pembunuh Mirna dihukum!”
“Jessica?”
“Siapa pun!”
Bu Amat bingung.
“Jadi Bapak tidak percaya Jessica pembunuhnya?”
Amat lama terdiam. Kemudian dia seperti bicara sama dirinya sendiri.
“Dulu dalam pengadilan tradisional, kita kenal ada yang disebut mecorah. Sumpah mecorah. Kalau sudah buntu dan tidak ada bukti nyata yang bisa memastikan saipa yang bersalah, peradilan adat  lalu menempuh  jalan terakhir: yang bersengketa sama-sama bersumpah bahwa ia benar,  dengan meminum air yang sudah diberi upacara. Konon yang salah, tak berapa lama kemudian, biasanya akan mati secara misterius. Sekarang orang memang masih suka bersumpah, tapi akibatnya tidak seperti dalam mecorah tadi. Artinya sumpah tidak lagi bertuah! Kecuali Soempah Pemoeda!”
Amat tersenyum mau mengalihkan pembicaraan. Tapi Bu Amat masih memikirkan Jessica.
“Kalau tak salah lihat, Jessica kan juga bersumpah bahwa ia tidak melakukan perbuatan pembunuhan itu!”
“Ya itu maksud bapak tadi. Sumpah sekarang ini, banyak yang palsu!”
“Menurut bapak Jessica bersumpah palsu?”
Amat menggelak..
“Bapak tidak tahu. Bapak tidak mengomentari sumpah Jessica. Bapak hanya mau bilang, dalam kenyataannya, banyak yang tidak kita tahu. Mereka yang hadir di luar gedung sidang pengadilan itu pun lebih banyak yang tidak tahu. Itulah yang membuat mereka datang agar bisa tahu.”
“Jadi sekarang, mereka sudah tahu, belum?”
Amat menggeleng.
“Satu-satunya orang yang tahu betul hanya Jessica sendiri!”
Bu Amat berhenti bertanya.
“Ngomong sama bapakmu, bukannya persoalan jadi jelas, gamblang, tapi lebih kusut!” curhat Bu Amat esoknya melapor pada Ami.
“Persoalan apa lagi, Bu?”
“Soal Jessica yang divonis 20 tahun. Adil tidak?”
Ami menatap ibunya.
“Ibu mau jadi pengacara?”
“Bukan, ibu ingin tahu sebenarnya yang salah itu siapa?”
“Ya kita semua juga begitu, itu yang dilakukan pengadilan sekarang!”
“Apa betul Jessica pelakunya?”
“Pertanyaan itu bisa dibalik. Apa betul bukan Jessica pelakunya?”
Bu Amat terhenyak
“Ibu jangan hanya mencoba jadi ibunya Jessica, coba juga jadi ibunya Mirna. Apa pun nanti nasib Jessica yang jelas nasib Mirna sudah tidak bisa berubah lagi!”
Bu Amat tak menjawab. Pulang ke rumah ia menangis. Amat bingung melihat keadaan istrinya.
“Ini bukan masalah hukum lagi, ini perasaan seorang ibu yang kalau tercampur dalam proses peradilan, semuanya bisa ngambang. Ingat, kita hidup di negara hukum, bukan di negara ibu atau bapak. Biarkan hukum saja yang menyelesaikan persoalan-persoalan hukum. Dan biarkan hukum berani mengambil keputusan, jangan sampai hukum justru mengaburkan persoalan. Percayakan pada hati nurani hakim. Kasus ini akan jadi contoh di masa depan karena keadilan dan kebenaran menjadi tambah sulit dikenali karena kejahatan kian canggih berkelit dan dibela oleh ahli-ahli yang juara bersilat lidah.”
Bu Amat mengangguk, tapi berbisik:
“Saya takut, kalau kejahatan yang lebih pintar dari kebenaran dan keadilan, lebih laku dari yang sebaliknya.”

BACA  Gerakan Pramuka dan Kemajuan Iptek

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom

“RINDANG BERDENDANG”

Published

on

“Salam Senyum”

Disaat orang berlomba untuk membuat gedung yang megah, dengan warna warni yang gemerlap seolah menusuk mata ketika memandangnya. Ternyata yang terlihat di tempat ini sangat berbeda. Untuk kesekian kalinya saya memasuki halaman ini untuk sharing ilmu dan pengalaman,  baik untuk  para instruktur maupun karyawannya. Terkesan begitu sejuk, hijau, dan tentu jauh dari kesan hingar bingar oleh sempitnya tata ruang untuk menuntut ilmu. Ruang terbukanya dapat membuat jatuh hati untuk berlama-lama berada di antara rindangnya pepohonan. Walapun  untuk hanya sekadar duduk atau minum teh menikmati suasana yang ada.

Di manakah sebenarnya saya berada saat itu? Inilah Monarch, tepatnya Lembaga Pelatihan dan Ketrampilan (LPK) Monarch Bali. Dimana LPK ini di saat tahun ajaran baru, selalu mendapat serbuan  ribuan calon mahasiswa yang akan ingin menempuh pendidikan di lembaga ini. Ada yang menarik untuk diceritakan, yang tentu sangat erat kaitannya dengan kolom ini yang membahas dunia service/layanan .

Apapun usaha yang digeluti tentu tidak terlepas dari layanan. Begitupun  dunia pendidikan. Banyak orang ketika memasuki sebuah lembaga pendidikan baik universitas, institut, LPK, dan lain-lain, orang tersebut merasa tidak nyaman. Bahkan dari hasil mendengarkan cerita dari para tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA), kenyamanan tempat mereka menuntut ilmu menjadi salah satu kriteria pemilihan sekolah.

Advertisement

Beberapa hal yang menjadi penyebab ketidaknyamanan  adalah, yang pertama para dosen, intsruktur, dan karyawan  terkesan ‘serem’ atau angker. Serem atau angker di sini bukan tentang ‘hantu’. Tapi lebih kepada bagaimana perilaku para instruktur dan  karyawan di sebuah kampus. Nah kalau tempat menuntut ilmu sudah tidak bersahabat, maka dapat dipastikan yang menuntut ilmu tidak akan maksimal. Mengapa sih harus serem dan angker? Bukankah lebih baik semua karyawan, dan para instruktur dibiasakan untuk ramah, peduli, penuh senyum dan selalu mempunyai jiwa melayani?

BACA  "Pilih Bahan Baku"

Ketika saya masuk ke tempat ini, semua welcome, baik instruktur maupun karyawannya. Meraka menyambut dengan ramah, seolah-olah kita sudah menjadi sahabat mereka, bahkan sahabat lama. Senyum tulus terlihat dari gestur, ucapan dari kata-kata mereka  terlatih dengan baik sehingga saya yakin para tamu yang hadir di tempat ini akan betah berlama-lama.

Yang kedua penyebab ketidaknyamanan adalah lingkungan yang dibatasi oleh tembok dari bangunan yang kaku. Siapapun akan lebih nyaman ketika berada di areal yang menyediakan banyak ruang terbuka. Akan terhindar dari rasa bosan, bahkan diharapkan rindangnya pepohonan di halaman akan membuat ide-ide kreatif yang timbul. Kalau di Monarch Bali, tentu jauh dari kesan membosankan ini. Karena halamannya penuh diisi tanaman yang dapat  menghijaukan pandangan.

Hal lain yang mesti diperhatikan adalah keceriaan. Dalam teori layanan, mereka yang dapat melayani dengan ceria akan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggannya. Hal ini tentu sangat penting. Pelaku layanan yang ceria akan berdampak positif kepada lingkungannya, termasuk pelanggan dan rekan kerja  dalam team nya. Kalau di Monarch Bali? Canda hangat mereka seperti mengalir begitu saja, seolah menjadi habit. Dan ini membuat kesan jauh dari suasa kaku dan dingin.

BACA  Bung Karno (BK)

Selain hal di atas, masih banyak hal yang dapat dilakukan agar terciptanya lingkungan yang nyaman bagi mahasiswa yang akan menempuh pendidikan.  Semoga nantinya akan banyak  lembaga pendidikan yang bukan hanya bisa mengajarkan tentang hospitality, tapi mereka sendiri, yaitu para mahasiswa, insruktur, dan karyawannya dapat lebih mengaplikasikan dalam proses ajar mengajar di lembaga tersebut. Rindangnya suasana, akan membuat semua seolah berdendang dalam  kebahagiaan.

Advertisement

Terima kasih Monarch Bali yang sudah kesekian kalinya  mempercayakan kepada kami untuk sharing agar dapat  meningkatkan kualitas dari sumber daya manusianya.

Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi kita memahami dan melakukan  hal tersebut di atas? Materi ini juga  terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy  dengan judul  ‘SERVE WITH LOVE’ atau buku saya dengan judul ‘SERVICE A LA CARTE’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya,  seperti ‘GOOD COMMUNICATION FOR GOOD PERFOMANCE,’ ‘GREAT PERSONALITY,’ ‘UPGRADE YOUR SELLING SKILL’  dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/instansi Bapak/Ibu? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu.

Salam 3SP

Salam Senyum Sang Penyihir

Sri Sumahardani

Advertisement

srisumahardani3sp@gmail.com

www.srisumahardani.com

 

 

 

Advertisement

Continue Reading

Kolom

“Akselerator Layanan II “

Published

on

‘Salam Senyum”

Tulisan saya sebelumnya, sudah membahas tentang bagaimana percepatan tujuan layanan dengan melakukan tiga hal melalui kata – kata. Dimana para pemimpin layanan mengatakan tiga kalimat ini kepada para pelaku layanan,  “terima  kasih, Kerja Anda luar biasa, dan Tolong lakukan hal itu lagi.” Hal kecil ini sebenarnya adalah sebuah ‘pengakuan” dari seorang atasan kepada pelaku layanan atas kinerja yang sudah dilakukan.

Selain ketiga hal tersebut masih banyak cara lain yang dilakukan untuk percepatan tujuan visi layanan. Seorang pemimpin layanan harus kreatif dalam memberikan pengakuan ini kepada bawahannya. Saya akan berikan beberapa contoh yang nanti dapat dilakukan di perusahaan atau instansi di mana Anda bekerja.

Seorang ‘Customer Service’ di  sebuah jasa perbankan pernah menuturkan pengalamannya kepada saya, dan dia tidak akan pernah melupakan peristiwa ini. Disaat diadakan pertemuan rutin  bulanan seluruh pegawai   di kantornya, tiba tiba namanya dipanggil oleh seorang pimpinan. Ternyata, pimpinannya memberikan apresiasi dengan memanggilnya untuk berdiri di depan kemudian pimpinannya memohon kepada  seluruh pegawai untuk berdiri sambil bertepuk tangan atas keberhasilan kinerjanya di bulan lalu. Pimpinannya menceritakan bahwa ‘Customer Service’ ini telah berhasil melayani dengan baik seorang customer. Dimana customer ini adalah seorang Ibu yang memiliki keterbatasan fisik,yaitu pendengarannya sudah tidak normal lagi. Namun, dengan teliti, sabar, ramah dan tuntas,  layanan tersebut dilakukan dengan senang hati, sehingga customer merasa sangat senang dan bercerita kepada anaknya. Dan, melalui anaknya, hal ini diceritakan di media social, bahkan ada foto kejadiannya,  sehingga berita baik ini dapat diakses oleh banyak pemilik akun di media sosial terebut.

Advertisement

Kalau kita baca kembali, ternyata poinnya adalah pengakuan kinerja dari seorang pimpinan,  dengan berdiri sambal  bertepuk tangan dan mengajak seluruh pegawainya melakukan hal yang sama. Sederhana, berdiri dan bertepuk tangan dilakukan oleh banyak orang.  Ternyata pengakuan seperti ini menambah semangat seorang pelaku layanan dalam menjalankan tugasnya. Dan, tentu secara tidak langsung dapat memberi inspirasi bagi pelaku layanan lainnya.

BACA  Bung Karno (BK)

Cerita lain yang pernah saya dengar dari seorang pelaku layanan adalah ketika seorang pimpinan sering mencetak kartu yang didalamnya berisikan kalimat pengakuan atas hasil kerja bawahannya, dan membagikannya kepada seluruh pelaku layanan di kantornya. Juga ada cerita seorang pimpinan, memberikan sehari cuti ekstra kepada seorang pelaku layanan, sekotak permen coklat, memberikan tiket nonton film / nonton speak bola, dan masih banyak kejadian-kejadian inspiratif lainnya.

Selain seperti  hal diatas, masih banyak pengakuan – pengakuan lain sebagai akselerator  yang dapat  dilakukan untuk percepatan tujuan dari sebuah visi dan misi layanan. Tentu hal seperti ini  mudah untuk dilakukan kalau kita membiasakannya. Tidak harus selalu berupa finansial, tapi bagaimana sebuah pengakuan ini dilakukan dengan tindakan dan kata – kata. Karena banyak pelaku layanan tidak bersemangat melakukan pekerjaan, yang disebabkan oleh tidak  adanya pengakuan yang dilakukan oleh pimpinannya kepada mereka. Bukankah sebuah ‘pengakuan’ merupakan akselerator bagi percepatan tujuan layanan? Kenapa kita tidak segera melakukannya?

Sudahkah para pelaku layanan diperusahaan / instansi kita memahami dan melakukan  hal tersebut di atas? Materi ini juga  terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy  dengan judul  ‘Serve With Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya,  seperti ‘Good Communication For Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’  dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan / Instansi Bapak/Ibu ? Silahkan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu.

 

Advertisement

Salam 3SP

Salam Senyum Sang Penyihir

Sri Sumahardani

srisumahardani3sp@gmail.com

www.srisumahardani.com

Advertisement

 

 

 

Advertisement
Continue Reading

Kolom

“Akselerator Layanan”

Published

on

‘Salam Senyum’

Istilah akselerator sering kita dengar di sebuah perusahaan atau instansi. Ini dapat diartikan bagaimana percepatan sebuah tujuan yang akan dicapai. Berbagai cara dilakukan oleh menajemen untuk hal tersebut, tentu dengan cara-cara yang disesuaikan kemampuan perusahaan.

Pembaca setia Dhani’s Art in service, hasil akhir dari sebuah layanan akan tampak ketika semua pelanggan terpuaskan dan semua keperluan bahkan keinginan dari pelanggan dapat terpenuhi. Biasanya proses yang dilakukan bertahap, mulai dari perekrutan, pelatihan, pembentukan team layanan, mengadakan survei layanan, sampai memberikan reward dan pengakuan. Dua hal terakhir inilah sebenarnya sebuah ‘tool’ untuk sebuah percepatan tujuan dari layanan yang kita istilahkan dengan ‘akselerator layanan’.

Sampai saat ini saya berprofesi sebagai konsultan layanan pada perusahaan atau instansi yang menyediakan jasa layanan, tentu banyak permasalahan yang dapat dijadikan pengalaman menarik untuk dibahas. Salah satunya adalah ketika terjadinya keluhan dari manajemen mereka, tentang semangat melayani yang dianggap tidak maksimal dari para pelaku layanan.

Advertisement

Dari hal tersebutlah kita akan dapat berikan ‘akselerator’ yang harus dilakukan. Yang pertama kita bahas adalah ‘pengakuan’. Teori kebutuhan manusia  dari Maslow, pengakuan ini terletak pada kebutuhan yang terakhir, yaitu aktualisasi diri. Ketika teori ini  dihubungakan dengan layanan, sebenarnya pengakuan ini sangat tinggi daya lekatnya kepada orang yang mendapatkan pengakuan itu sendiri. Beberapa cara dapat dilakukan untuk sebuah ‘pengakuan’ dalam layanan. Dan, untuk mengawali saya akan bahas pengakuan terhadap tim layanan (internal).

BACA  KANJENG

Yang pertama, selalu ingat mengatakan kata ‘ terima kasih’. Kata ini sangat familiar, namun kalau tidak terbiasa, kata ini seperti sebuah benda yang mahal dan langka. Sehingga jarang keluar dari pribadi seseorang.  Bahkan pernah dari seorang pimpinan perusahaan berpendapat, bahwa hal yang dikerjakan dari pelaku layanan itu memang kewajibannya. Jadi tidak perlu untuk mengatakan terimakasih. “Toh kami sudah membayarnya dalam bentuk gaji” . Inilah yang terjadi. Biasanya orang yang sulit mengatakan kata terimakasih, mempunyai ego pribadi yang sangat tinggi.

Yang kedua adalah dengan mengatakan, ‘kerja Anda luar biasa’, atau kalimat lain yang maknanya sama.  Pujian dengan kalimat ini juga sangat membuat para pelaku layanan akan termotivasi untuk mengerjakan lebih baik lagi. Naaah… Kalimat yang identik dengan pujian seperti ini juga sangat jarang dilakukan oleh seorang pimpinan. Para atasan biasanya kalau menemukan hal yang salah,  cepat reaksinya. Dan akan  keluar kalimat-kalimat yang lebih kepada protes atau menjurus kepada kalimat  pencelaan. Namun kalau layanannya memuaskan, tidak ada kalimat pujian yang terlontar.  Kenapa kalau hal yang  salah cepat reaksinya,  sedangkan kalau pekerjaannya yang  bagus tidak diberi pujian?

BACA  Semangat Teman-Teman Disabilitas sangat Menginspirasi 

Yang ketiga adalah dengan membiasakan mengatakan kalimat ini, ‘Tolong lakukan seperti itu lagi’. Kalimat ini sebanarnya menunjukkan, apa yang telah dilakukan oleh pelaku layanan itu sudah benar, tepat, dan baik. Dan  dengan kalimat ini sebenarnya sudah menunjukkan pengakuan dari atasannya, yang akan membuat para pelaku layanan lebih percaya diri dan akan mengulangi hal-hal yang dianggap sesuai dengan tujuan dari sebuah visi dan misi layanan perusahaan/instansi tempat mereka bekerja.

Selain ketiga hal di atas, masih banyak pengakuan-pengakuan lain sebagai akselerator  yang dapat  dilakukan untuk percepatan tujuan dari sebuah visi dan misi layanan. Tentu hal seperti ini  mudah untuk dilakukan kalau kita membiasakannya. Apa saja hal lain tersebut? Tunggu tulisan saya berikutnya (bersambung)….

Advertisement

Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi kita memahami dan melakukan  hal tersebut di atas? Materi ini juga  terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy  dengan judul  ‘Serve With Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A  La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya,  seperti ‘Good Communication For Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’  dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/instansi Bapak/Ibu? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu.

BACA  BK (8)

 

Salam 3SP

Salam Senyum Sang Penyihir

Sri Sumahardani

Advertisement

srisumahardani3sp@gmail.com

www.srisumahardani.com

 

 

 

Advertisement

Continue Reading

Tren