Metropolitan

Bisnis Food Truck harus Rajin “Putar Otak”

Vincent sedang mengatur makanan pesanan pembeli

Bisnis kuliner tidak ada ‘matinye’ kata orang Betawi. Bahkan di masa ekonomi lemah pun, bisnis kuliner tetap hidup dan berkembang. Begitulah potret yang terlihat di Jakarta. Tempat-tempat makan, baik kelas menengah maupun kelas ‘akar rumput’ tetap ramai pengunjung, khususnya di saat weekend.

Seperti yang pernah diungkap oleh Made Ngurah Bagiana, salah satu pengusaha kuliner yang cukup sukses di Jakarta. Menurutnya, di masa lesu ekonomi seperti sekarang, di saat banyak bisnis terjerembab karena tak kuat bertahan, bisnis kuliner tetap eksis.

“Orang boleh saja tidak belanja baju, barang elektronik, dll, tapi mereka pasti akan makan. Mereka pasti akan jajan makanan. Karena makanan memang adalah kebutuhan manusia. Itu sebabnya binis kuliner bisa tahan dalam berbagai ‘cuaca’,” kata Pak Edam, begitu orang sekelilingnya biasa menyapa.

Bahkan uniknya, kini justru bermunculan bisnis kuliner menggunakan media baru, salah satunya adalah food truck. Geliat perkembangan food truck  sudah semakin jelas di Jakarta. Kini kehadiran food truck bukan hanya ada di event-event tertentu tapi juga hadir di lokasi-lokasi strategis bersama dengan tenda-tenda penjual makanan kaki lima. Tidak itu saja, di depan sejumlah sekolah di Jakarta juga tak jarang tampak mangkal food truck.

Geliat bisnis kuliner dengan menggunakan kendaraan roda empat ini juga diakui oleh Vincent, salah seorang pengusaha food truck. Pemuda 29 tahun warga Jl Bungur, Jakarta Pusat, ini, mengaku telah 1,5 tahun menekuni bisnisnya dan perkembangannya sungguh menggembirakan. “Saya memulai bisnis ini sebelum kondisi seperti sekarang. Dulu masih jarang, tapi sekarang jumlahnya sudah makin banyak. Kini mereka bukan hanya meramaikan event-event tertentu tapi juga mudah dijumpai di tempat-tempat strategis,” kata Vincent.

Vincent sendiri boleh dibilang pemuda yang ‘doyan’ berbisnis. Meski usianya tergolong muda, namun ia telah mencicipi beragam bisnis. Di luar bisnis kuliner, dia juga sampai kini masih menekuni bisnis bengkel kendaraan bermotor.

“Kayaknya bisnis sudah hobi, ya. Mungkin karena faktor keturunan.  Orangtua saya juga berbisnis. Jadi sejak kecil saya sudah hidup dalam lingkungan itu.  Saya memulai dari bisnis bengkel yang memang menjadi hobi sejak kecil. Kemudian merambat ke bidang lain,” ungkapnya.

Setelah itu, ia mulai tertarik bisnis kuliner. Karena dilihatnya di antara banyak bisnis, salah satu yang paling eksis dalam segala situasi adalah kuliner. Ia memulai dari menjual roti bakar dengan menggunakan gerobak, setelah itu ia mencoba mendirikan ‘bengkel cafe’. Ini seperti  ‘warung’ tempat anak muda nongkrong sambil ngopi-ngopi plus makanan kecil. Yang jadi ‘warung’ adalah mobil mini bus yang sudah dimodifikasi.

“Tapi kurang berkembang,  mungkin karena model seperti itu masih baru,” kata Vincent yang kemudian beralih ke bisnis food truck. Ternyata usaha itu cukup berhasil bahkan kini—sejak tujuh bulan lalu— ia telah berhasil membeli lagi sebuah truck yang disulapnya jadi ‘food truck’. “Tapi jenis produk kuliner yang saya jual berbeda dengan yang pertama. Sudah tujuh  bulan ini saya berjualan ‘Nasi Mangkok’,” tutur Vincent yang ditemui di kawasan Kemayoran.

Ternyata, bisnis ‘Nasi Mangkok’ lebih mudah diterima pasar. Ini terbukti dari cepatnya berkembang bisnis ini dibanding bisnis kuliner yang ditekuni sebelumnya. “Dari pengalaman saya, kunci keberhasilan selain dari rasa produk, juga pada kejelian kita sebagai pengusaha dalam membaca pasar. Yang penting lagi, kita harus ulet dan kuat mental. Karena namanya bisnis pasti ada banyak masalah, termasuk soal persaingan,” ungkapnya.

INVESTASI BESAR, BERJUANG HABIS-HABISAN

Karena dilihatnya perkembangan bisnis ‘Nasi Mangkok’ cukup maju, maka ia pun tak segan-segan berinvestasi cukup besar. “Saya dan partner terjun langsung di bisnis ini. Saya menangani pemasaran, dll, termasuk melayani pembeli. Investasi kami cukup besar, ibaratnya saya habis-habisan di sini, karenanya berharap benar ini bakal maju,” kata Vincent yang mengaku harus membagi waktu dengan  bisnis bengkelnya yang sudah lebih dahulu eksis. “Kalau dibilang lelah, ya lelah banget, apalagi kalau harus terus bergerak. Tapi namanya juga berjuang, tetap harus dilakukan,” tambahnya.

Modal besar, setidaknya dari mobil truk yang ia beli. “Truk ini truk bekas ya, harganya sekitar Rp 300 juta, belum lagi harus dimodifikasi dengan berbagai fasilitas di dalamnya, termasuk dapur. Jadi kalau ngomong modal, boleh dibilang cukup besar. Belum lagi biaya pembuatan produk, dll.

Demi memperluas pasar, Vincent, sangat rajin mengikuti berbagai event yang sudah terjadwal di kalender event Jabodetabek, di luar itu dia juga rajin memasarkan produknya ke masyarakat. “Tahun ini boleh dibilang aktivitas kami padat sekali, ada banyak event yang kami ikuti. Bahkan sampai tahun depan agenda kami  cukup banyak. “

“Malah salah satunya adalah ada customer yang memesan kami untuk meramaikan pesta pernikahan. Hahahha…bayangkan food truck saya akan masuk dalam acara pesta pernikahan. Ini order yang lumayan lho,” kata pemuda itu dengan wajah semringah. Di luar itu, food truck nya juga mangkal di sebuah SMA swasta terkenal di Jakarta.

Perkembangan pesat ini, lanjut Vincent, tak terlepas dari semakin berkembangnya bisnis food truck di Jakarta. Masyarakat, sepertinya sudah bisa menerima kehadiran kuliner yang dijajakan dengan menggunakan mobil. Apalagi rasa dari makanan itu pun sama enaknya dengan di restoran, dan harganya bersahabat. Untuk menyamankan pembeli, Vincent juga menyiapkan beberapa meja dan bangku.

“Sebagai pengusaha kita tak boleh cepat puas. Meski sekarang terlihat maju namun kita harus terus berinovasi, baik  produk, servis maupun fasilitas lain. Apalagi persaingan cukup tajam karena kita tidak hanya bersaing dengan sesama food truck tapi juga binis kuliner konvensional lainnya. Belum lagi sekarang ini, juga, makin banyak restoran-restoran terkenal menurunkan pasukan food truck-nya untuk penetrasi pasar. Karena itu kita tidak bisa hanya diam, harus ‘putar otak terus’,” ungkapnya.

Untuk bisa berjualan di event-event atau pun di tempat-tempat strategis, Vincent menuturkan, setidaknya ia harus membayar sewa antara Rp 500 ribu-Rp 1 juta per hari. Tergantung besar-kecilnya event. Namun, meski harus membayar cukup besar, ia mengaku tidak pernah rugi. Keuntungan yang didapatnya cukup lumayan, itu sebabnya ia sangat optimis dengan bisnisnya ini.

“Saya merasa bisnis food truk, lebih menguntungkan dibanding bisnis kuliner yang hanya stay di satu tempat. Kalau kita rasa nggak ramai, ya kita bisa pindah. Itu kan tidak bisa dilakukan oleh mereka yang berjualan di tempat permanen,” kata Vincent yang juga pernah berjualan di beberapa tempat di Bodetabek.

Meski perkembangan bisnis food truck menunjukkan tren kenaikan, namun katanya, tidak mudah untuk menekuni bisnis ini. Sebagai contoh,  cukup banyak teman-temannya yang juga mencoba bisnis tersebut, akhirnya tidak kuat dan rontok satu per satu. “Rata-rata mereka hanya bertahan beberapa bulan. Maka saya pun dalam berbagai event sering ketemu ‘muka-muka’ baru,” katanya.

Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Food Truk Indonesia (AFTI) Joko Waluyo. Menurutnya, meski usaha tersebut terlihat berprospek bagus namun tidak mudah menjalankannya. Banyak pengusaha food truck yang tidak ‘tahan banting’ akhirnya gugur. “Kira-kira sekitar 20-30% pengusaha food truk gugur di dua bulan pertama operasional,” ungkap Joko.

Untuk itu, tambahnya, sebagai organisasi AFTI pun ikut turun tangan membantu memberi pengarahan bagi para pengusaha-pengusaha baru agar bisa bertahan di masa-masa awal operasi mereka. Hasilnya cukup baik, karena angka pebisnis yang gagal di bulan-bulan awal operasi semakin menurun. Bahkan kini jumlah pengusaha di bisnis ini berkembang semakin banyak. (dianaruntu@cybertokoh.com)

 

To Top