Advertorial

CIA Pemayun: Tak Gentar Serukan SPAK

CIA Pemayun saat mengikuti Semnas dan Pelatihan SPAK di Jakarta, Februari lalu

Kampanye anti korupsi kini sedang gencar-gencarnya dilakukan. Salah satunya dengan gerakan nasional Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK). Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Bali Cokorda Istri Anom Pemayun, S.H., M.H. yang sebelumnya sempat mengikuti Seminar Nasional dan Pelatihan SPAK di Jakarta, Februari 2016, kini sedang getol-getolnya memberikan sosialisasi kepada para anggotanya tentang anti korupsi tersebut. “Dalam pelatihan itu, kami dididik dan diajarkan untuk mulai berbuat jujur pada diri sendiri. Selanjutnya, kepada anak, cucu, keluarga, bahwa dengan berbuat jujur kita juga bisa mencapai sesuatu yang kita inginkan,” ucap istri Sekda Bali Cokorda Ngurah Pemayun, S.H., M.H. ini.

Ia mengatakan, DWP-DWP di Indonesia diundang mengikuti Semnas SPAK ini, dikarenakan secara umum korupsi dilakukan PNS/ANS (Aparatur Sipil Negara), anggota dewan dan hanya sebagian kecil oleh pegawai swasta. “Dengan demikian, istri-istri ASN diharuskan ikut kegiatan SPAK. Waktu itu, dari Bali hanya saya dan Wakil Ketua 1 DWP Provinsi Bali yang ikut. Berikutnya saya ditugaskan oleh pusat Jakarta untuk ikut membantu memberikan sosialisasi tentang SPAK kepada ibu-ibu dharma wanita di Bali,” ujar CIA Pemayun yang sudah bekerjasama dengan KPK dan BPKP terkait hal ini.

Sebelum mengikuti pelatihan SPAK di Jakarta, CIA mengatakan dirinya sudah mengantisipasinya dengan memberikan sosialisasi tentang anti korupsi ini dengan mendatangkan narasumber langsung dari pusat, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pemerintah), tahun lalu. Bahkan, apa yang dilakukannya tersebut mendapat aplaus dari KPK, karena Bali adalah DWP pertama di Indonesia yang melaksanakan ceramah anti korupsi.

CIA Pemayun bersama keluarga

CIA Pemayun bersama keluarga

Bagi perempuan berusia 58 tahun ini, informasi tersebut bagus dan bermanfaat serta bisa membantu para suami terhindar dari tindakan korupsi. Misalnya pemberian kue ucapan terima kasih itu, apakah termasuk gratifikasi. “Saya baru tahu, apa saja yang bisa dikatakan korupsi dan jadi berhati-hati. Dengan adanya ini, ibu-ibu/istri-istri juga ikut mengawasi,.. uang apa ini Pa, balikin… Saya hanya bagian kecil dari pemerintah yang ikut memerangi korupsi, membantu pemerintah mengurangi korupsi di lingkungan kerja suami,” ucapnya.

Sosialisasi anti korupsi yang gencar dilakukannya ini, diakuinya banyak mendapat hujatan dan cemoohan dari rekan-rekan pejabat dan istri-istri ASN. Ada yang menyebutnya “meludah diri sendiri”, ada juga yang bilang “jeruk makan jeruk”. Namun, CIA Pemayun tak gentar. “Saya tidak takut sepanjang berjalan di atas rel aturan. Saya berpikir, kita sebagai warga Negara Indonesia seharusnya ikut membantu program pemerintah. Apalagi pemerintah memang menyasar ASN, dan kebetulan saya sebagai istri seorang ASN,..yaa kita bantu menyosialisasikan dengan memberikan ceramah untuk menambah pengetahuan ibu-ibu, apa saja yang bisa disebut korupsi dan tingkatannya,” tutur putri dari almarhum Cokorda Ngurah Pemayun dan Jro Ketut Nuratni (almh.) ini.

Dan sekarang, semua provinsi dan kabupaten di Indonesia diharuskan menyelenggarakan kampanye anti korupsi dan gerakan SPAK. Bahkan sekarang SPAK sudah ditanamkan mulai dari tingkat yang paling bawah sampai dewasa. “Sekarang, semua orang yang dulu mengatakan saya ‘jeruk makan jeruk’, pada gigit jari,” ujar dosen di Fakultas Hukum Unud ini. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top