Connect with us

Sudut Pandang

Indonesia perlu Banyak Pahlawan

Published

on

Tiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Lantas, bagaimana pandangan wirausaha muda Bali tentang nilai kepahlawanan di era globalisasi ini? “Sebagaimana layaknya sebuah refleksi, peringatan Hari Pahlawan ini tak cukup sekadar kita memasang bendera satu tiang penuh dan mengikuti upacara kebesaran yang dipersiapkan, dihadiri para pejabat, didengarkan pidatonya, lantas selesai begitu saja tanpa ada satu nilai. Hal ini dari tahun ke tahun terasa semakin kurang dihayati dan menjadi kosong makna karena peringatan ini cenderung bersifat seremonial belaka,” ungkap Ni Putu Asteria Yuniarti,S.Pd.,M.I.Kom., yang akrab disapa Ria Asteria.

Gadis asal Abiansemal, Badung yang aktif di kegiatan sosial dan pendidikan lewat Yayasan Ria Asteria ini mengatakan, refleksi ini menjadi satu perenungan bersama, sejauh mana kita sebagai angkatan muda, kaum intelektual terpelajar mampu menjadi bagian dalam proses pembangunan bangsa ke depan?

Lalu, hal signifikan apa saja yang telah kita perbuat di dalam arus persaingan yang go global ini? “Kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia. Memang secara legal formal bangsa ini telah merdeka, tetapi bila kita lihat secara hakikat ternyata kita belum sepenuhnya merdeka,” tegas Ria Asteria.

BACA  Isu Perempuan Dianggap “Pinggiran”

Penjajahan yang kita alami sekarang dikatakannya tidak sama dengan apa yang dialami oleh arek-arek Suroboyo ketika melawan Inggris di Surabaya 63 tahun silam dengan menggunakan beberapa pucuk senjata dan bambu runcing. Bentuk penjajahan yang kita alami saat ini tidak bermuka garang melainkan berwajah lembut. “Kita dijajah secara sistem,” cetus peraih Piala Ibu Negara Ani Yudhoyono sebagai Juara 1 Duta Mahasiswa GenRe Tingkat Nasional tahun 2012 ini.

Advertisement

“Tengoklah berapa juta massa rakyat Indonesia yang terbelenggu dalam kemiskinan, mereka yang tidak mampu sekolah, pengangguran yang menumpuk, petani yang dirampas tanahnya, buruh dengan gaji rendah, belum lagi kanker korupsi yang masih menjamur di tubuh birokrasi negeri ini. Bahkan, saya sangat miris melihat beberapa oknum melakukan aksi demo yang katanya kasus penistaan agama,” ucapnya miris.

Bangsa ini ditegaskannya sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, serta Indonesia yang bersih dan bebas korupsi.

Karekteristik seorang pahlawan adalah jujur, pemberani, dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, Hari Pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Setidaknya kita harus mampu bertanya pada diri sendiri apakah rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar?

BACA  Kepatuhan Prokes Saat Pilkada di Atas 89%, Ketua Satgas: Jangan Kita Puas

Karena itu, menurutnya peringatan Hari Pahlawan sebaiknya dijadikan momentum sebagai hari besar yang dirayakan secara khidmat, dan dengan rasa kebanggaan yang besar, karena merupakan kesempatan bagi seluruh bangsa untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang yang tak terhitung jumlahnya dalam perjuangan bersama bagi tegaknya Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

Advertisement
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sudut Pandang

Cara dan Strategi Perlindungan dan Kesejahteraan Perempuan saat Pandemi Covid-19

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 yang tengah melanda Indonesia menimbulkan dampak yang luas pada berbagai aspek terutama terhadap kelompok rentan seperti bayi, balita, anak-anak, ibu mengandung atau menyusui, penyandang disabilitas, dan lansia. Untuk itu, KemenPPPA tidak tinggal diam dan terus memastikan terpenuhinya perlindungan dan kesejahteraan pada kelompok rentan termasuk, perempuan dan anak.

Dalam live streaming bersama BNPB Indonesia , Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Menteri PPPA Bintang Puspayoga, berbicara mengenai “Cara dan Strategi Perlindungan dan Kesejahteraan Perempuan pada Masa Pandemi Covid -19”. Dampak dari pandemik ini memiliki pengharuh yang berbeda untuk perempuan karena memiliki kebutuhan khusus yang harus dipenuhi.Selain melakukan refocusing anggaran dan Kemen PPPA telah melakukan upaya untuk mendorong terwujudnya keadilan gender di masa pandemik Covid-19 saat ini. Diantaranya memastikan agar protokol dan strategi penanganan Covid-19 menjadi lebih responsif gender dan ramah terhadap anak serta mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak.

Selain itu, Kemen PPPA juga telah menyusun Program Gerakan Bersama Jaga Keluarga Kita (Berjarak) sebagai upaya bersama untuk memastikan bahwa perempuandan anak aman bersama keluarga dalam menghadapi bahaya paparan Covid-19. Program berjarak ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, desa/kelurahan, para pemangku kepentingan lainnya termasuk PKK, lembaga masyarakat, dunia usaha, akademisi, lembaga keagamaan dan lain-lain.

Advertisement

Kemen PPPA telah mengumpulkan data terpilah perempuan dan anak dari 21 Provinsi yang memudahkan untuk memantau kondisi kelompok rentan terdampak, untuk kemudian menindaklanjuti sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Saat ini, untuk jumlah pasien positif dirawat sebanyak 26 anak dan 94 perempuan, pasien positif sembuh sebanyak 9 anak dan 27 perempuan, dan untuk pasien positif meninggal ada sebanyak 6 anak dan 141 perempuan. (Data Pokja Berjarak, 20 April 2020).

BACA  Satgas: Pemberian Vaksin AstraZeneca Non Batch CTMAV547 Tetap Dilanjutkan

Menteri Bintang juga terus berkoordinasi dengean berbagai K/L organisasi, tokoh masyarakat, pemangku kepentingan lainnya untuk terus bersinergi dan saling mendukung hingga melewati kondisi ini. Harapannya, semoga semua upaya yang telah dilakukan oleh seluruh pihak baik pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat demi melindungi dan meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak di masa pandemi Covid-19 ini, dapat terus menjaga perempuan dan anak-anak Indonesia agar tetap sehat, bahagia, dan sejahtera serta bisa melewati masa pandemi dengan kuat.

“Ayo kita bersama-sama menjadi bagian dari solusi dan mengambil peran dalam melawan Covid-19. Satu hal yang harus kita perhatikan bersama, tetap di rumah, gembira bersama keluarga di rumah,” katanya. (Sri Ardhini)

Advertisement
Continue Reading

Sudut Pandang

Pesanan Sepi, Manfaatkan Waktu untuk Bercengkrama

Published

on

cybertokoh.com – Banyak pelaku UKM yang terdampak penyebaran virus korona. Salah satunya yang bergerak di bidang fashion di Bali. Biasanya menjelang Hari Raya Nyepi permintaan busana adat mengalami peningkatan dan mereka bisa tersenyum.

“Namun saat ini, suasananya tergolong kategori prihatin. Kami para UKM sedang bokek. Sepiiiiiii sangatttt, termasuk online juga tak digapai pembeli,” ujar Dewi Anyar, pemilik “Anyar Butik” di kawasan Jalan Sutomo, Denpasar. Dikatakannya semua pameran yang biasa diikuitnya, kali ini juga ditunda sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. “Saat ini orang-orang lebih memikirkan isi perut dan virus,” katanya lebih lanjut.

Dewi Anyar juga mengatakan, dampak virus korona terhadap industri fashion terlihat jelas. Dunia juga terkena imbasnya. Berbagai perhelatan fashion dan pekan mode yang sudah dijawalkan pun tidak jadi digelar dan harus ditunda bahkan dibatalkan. “Jadi saat ini sebaiknya kita semua di Bali khususnya, mari ikuti anjuran pemerintah. Karena, tujuannya demi pencegahan semakin menjalarnya wabah korona ini,” ungkapnya.

Selain itu, berbicara mengenai imbauan pemerintah, salah satunya bekerja di rumah saja, dikatakannya agar tidak gabut, Dewi Anyar memilih untuk memanfaatkan waktu lebih banyak bercengkerama dengan keluarga, terutama menjadikannya quality time dengan dua anaknya yang tengah menginjak remaja. “Kami juga berdoa bersama agar keadaan segera membaik kembali,” ucapnya sambil menambahkan ia juga mengisi waktu dengan corat-coret membuat desain dan memasang payet untuk memperindah kebaya-kebaya kreasinya yang belum terjual. (Sri Ardhini)

Advertisement

BACA  SDM Asal Bali Minati Lembaga Pelatihan Kerja
Continue Reading

Sudut Pandang

Antisipasi Korona, Hindari Keramaian

Published

on

cybertokoh.com – Berbagai imbauan dikeluarkan pemerintah terkait pencegahan perkembangan dan penyebaran virus korona. Salah seorang warga Kota Denpasar, Anak Sagung Sagung Inten, yang lebih dikenal dengan nama Byang Mangku Hipno, mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan segala upaya agar kita aman. Jadi  anjuran apapun itu sepanjang dapat menyelamatkan kita dari bahaya virus korona  patut ditanggapi dengan positif.

Dikatakannya kita sebagai warga , tak perlu panik apalagi menambah kisruh keadaan. “Yang terbaik adalah mentaati dan melakukan tindakan sesuai anjuran pemerintah seperti mencuci tangan yang bersih dan lebih intensif, menjaga pola makan atau pola hidup sehat. Begitu juga dengan kondisi tubuh harus dijaga tetap fit, agar segala penyakit tidak mudah menghampiri,” ujar pemilik Rumah Boneka di kawasan Jalan Kebo Iwa, Denpasar ini.

Mengenai langkah lainnya yakni, tidak melakukan jabat tangan saat bertemu seseorang untuk sementara waktu menurut Byang Mangku juga masuk akal. Nanti jika keadaan aman dan kita berada di lingkungan yang sehat, tradisi kita bersalaman bisa dilakukan lagi. Kami saat ini menyambut tamu cukup dengan  tersenyum dan hati yang gembira,” ungkapnya.

BACA  Kepatuhan Prokes Saat Pilkada di Atas 89%, Ketua Satgas: Jangan Kita Puas

Sementara mengenai imbauan untuk selalu menjaga kesehatan, kebersihan , olah raga, menjaga pikiran untuk tidak stres, juga pola hidup sehat, sepatutnya memang sudah menjadi bagian dari keseharian kita, untuk tidak mudah terserang penyakit bukan hanya pada saat adanya virus corona. Hal ini dikatakan pula oleh Putu Rupani, S. E., seorang Konsultan Retail dan Kemasan Produk UMKM Bali, yang berkantor di Jalan Sari Gading Denpasar  dan Yanni Handayani, pemilik  Cosmic Reflexology di Jalan Pulau Tarakan, Denpasar.

Advertisement

Menurut Rupani, jika saat ini kita tidak lagi bersalaman dan cukup dengan mencakupkan tangan, tentu satu sama lain pada maklum. “Ketika kita merasa lebih sreg dan harus berjabat tangan, maka sebaiknya bekali diri  tisu basah, karena didalamnya mengandung sanitizer. Jadi sehabis bersalaman, usap tangan menggunakan tisu basah, setelah itu, untuk lebih yakin cuci tangan memakai sabun. “Namun. semua kembali kepada kita, asal kita tahu bagaimana mengantisipasi. Jangan sampai karena ketakutan dan kepanikan  kita tak bisa beraktivitas ujung-ujungnya kita yang rugi ,” tandas Rupani.

Untuk menjaga kesehatan, Yanni Handayani mengatakan selama ini dilakukan dengan mengonsumsi makan yang sehat dan rutin olahraga. “Selain itu saya juga tetap mengikuti perkembangan terkini mengenai virus korona ini dari sumber yang dapat dipercaya. Jangan sampai kita terpengaruh mitos yang tidak ilmiah dan tidak terbukti, termasuk tidak membeli suplemen sembarangan ” katanya.

BACA  SDM Asal Bali Minati Lembaga Pelatihan Kerja

Sedangkan tambahan imbauan untuk menghindari tempat keramaian serta menghindari untuk bepergian jauh juga ketiga ibu ini setuju. Dan bersama pula mereka mengajak kita semua berdoa agar kondisi ini segera berakhir, melihat dampak yang ditimbulkan sangat luas.

Jika dampak akibat adanya virus korona, juga diakui Byang Mangku berimbas  pada usahanya. Produk karya tangannya yang penjualan dilakukan di beberapa lokasi wisata omzetnya turun drastis.  Hanya untuk pembeli lokal hingga saat ini masih jalan meski ada penurunan dari biasanya. (Sri Ardhini)

Advertisement
Continue Reading

Tren