Connect with us

Sehat

Lakukan Sadari Deteksi Kanker Payudara

Published

on

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merupakan organisasi profesi yang menaungi para dokter di Indonesia. Dalam ulang tahunnya yang ke-66 tahun ini, panitia mengambil tema “Mempererat Persaudaraan untuk Profesionalitas tanpa Batas”.

Merujuk kepada tema tersebut, IDI telah menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti seminar ilmiah, pengabdian masyarakat, dan acara kekeluargaan. Semua kegiatan ini diadakan dengan tujuan untuk meningkatkan rasa pengabdian, kesejawatan, dan profesionalisme anggota IDI dalam menyongsong tantangan yang akan datang.

Pengabdian bagi masyarakat dalam rangkaian HUT kali ini dilaksanakan dalam kegiatan bakti sosial kesehatan. Baksoskes ini merupakan wujud pengabdian anggota IDI Wilayah Bali kepada masyarakat Bali. Terobosan baru dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk pertamakalinya, baksoskes dilaksanakan secara serentak di seluruh IDI Cabang di setiap Kabupaten. IDI Cabang yang telah melakukan kegiatan Baksoskes tahun ini adalah IDI Cabang Denpasar, IDI Cabang Bangli, IDI Cabang Karangasem, IDI Cabang Buleleng, IDI Cabang Badung dan IDI Cabang Gianyar.

Untuk di Denpasar, IDI Cabang Denpasar melaksanakan bakti sosial kesehatan di dipusatkan di Balai Banjar Sedana Mertha Ubung Denpasar pada Jumat (28/10). Pelayanan kesehatan dalam kegiatan bakti sosial kesehatan di Denpasar kali ini terdiri dari beberapa bentuk pelayanan. Pertama adalah pelayanan kesehatan umum, pemeriksaan THT, kulit dan kelamin, mata, pemeriksaan tumor payudara serta pemeriksaan skrining tumor pada rahim.

Advertisement

Kegiatan Bakti sosial kesehatan ini didukung penuh oleh para dokter dan dokter spesialis anggota IDI Wilayah Bali, Dinas Kesehatan Kota Denpasar,  Perhimpunan Dokter Spesialis Kebidanan Dan Kandungan (POGI Bali), RS Mata Bali Mandara, RS Prima Medika, RSU Manuaba, RSIA Puri Bunda, LPD Desa Pekraman Ubung,Kelurahan Ubung, dan Banjar Sedana Mertha Ubung.

BACA  Tokoh Edisi 1048

Menurut Ketua Panitia HUT IDI Ke-66 untuk Wilayah Bali dr. I  Ketut Widiyasa, MPH, kegiatan kali ini telah menyentuh semua kelompok masyarakat. “Di Denpasar, para dokter telah memberikan pelayanan kepada lebih dari 300 orang masyarakat setempat. Pemeriksaan skrining tumor rahim melalui pemeriksaan IVA, dilakukan kepada 33 orang ibu-ibu PKK dan 2 orang diantaranya langsung diberikan terapi. Pemeriksaan IVA ini dilaksanakan oleh dokter-dokter spesialis yang tergabung dalam POGI Bali dan RSIA Puri Bunda Denpasar,” ujar dr. Widiyasa.  bugar

IVA (Inspeksi Visual Asam asetat) adalah pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3 sampai dengan 5%.  Dengan cara ini kita dapat mendeteksi kanker rahim sedini mungkin.

Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk untuk mendeteksi kanker leher rahim dan juga skrining alternatif dari pap smear karena biasanya lebih murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. Pada pemeriksaan ini, pemeriksaan dilakukan dengan cara melihat serviks yang telah diberi asam asetat 3-5% secara inspekulo. Setelah serviks diulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal atau abnormal. Dibutuhkan waktu satu sampai dua menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada jaringan epitel.

Kategori hasil pemeriksaan IVA adalah sebagai berikut, IVA negatif bermakna bahwa leher rahim normal, hasil IVA radang berarti bahwa serviks mengalami peradangan (servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip serviks). IVA positif adalah pada pemeriksaan ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). “Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrining kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis serviks-pra kanker (dispalsia ringan-sedang-berat atau kanker serviks in situ),” jelas dr. Widiyasa.

BACA  Sehat saat Puasa

 

Advertisement

PEMERIKSAAN SKRINING TUMOR PAYUDARA

Pemeriksaan skrining tumor payudara dilakukan dengan dua kegiatan utama. Pertama melakukan edukasi tentang tumor payudara serta bagaimana melakukan Sadari bagi para wanita. Kedua melakukan pemeriksaan mammogram (pemeriksaan USG pada payudara). Banyaknya pemeriksaan yang dilakukan pada kegiatan ini adalah 50 orang wanita dan dilakukan oleh tim dari RSU Prima Medika Denpasar.

Kegiatan Sadari atau Periksa Payudara Sendiri dapat dilakukan pada 7 sampai 10 hari setelah menstruasi selesai. Pada saat itu, payudara terasa lunak. Tujuan dari Sadari secara rutin adalah untuk merasakan dan mengenal lekuk-lekuk payudara sehingga jika terjadi perubahan dapat segera diketahui.

Cara melakukan Sadari dengan mengamati dan merasakan. Pengamatan dilakukan dengan melakukan pemeriksaan di depan kaca. Berdiri di depan kaca, lengan terletak di samping badan. Perhatikan bentuk dan ukuran payudara. Normal jika ukuran satu dengan yang lain tidak sama. Kemudian, perhatikan juga bentuk puting dan warna kulit. Lakukan hal yang sama dengan posisi tangan yang berbeda-beda (kedua tangan diangkat, tangan diletakkan di pinggang, atau badan sedikit membungkuk). Lakukan hal ini waktu mandi atau sedang bercermin sehingga pasien dapat mengenali bentuk payudara.

Merasakan yang dimaksud dalam Sadari ini adalah dengan cara berbaring dengan bantal di bawah pundak kiri. Letakkan tangan kanan di belakang kepala membentuk sudut 90 derajat. Gunakan 3 jari tangan kiri untuk merasakan benjolan atau penebalan kulit pada payudara. Tekan dengan baik payudara. Pelajari bagaimana rasa payudara pasien sendiri pada biasanya. Pasien dapat memilih pilih arah jelajah 3 jari mereka baik dengan cara melingkar, naik turun, maupun pilah-pilah. Langkah ini memastikan pasien telah menjelajahi seluruh area dan membantu mereka mengingatkan bagaimana keadaan payudara.

Advertisement

Mamogram dapat mendeteksi adanya kelainan pada payudara sebelum terasa oleh pasien. Meskipun beberapa organisasi masih mempertanyakan manfaat mamografi, mamogram masih merupakan alat yang paling efektif untuk mendeteksi dini kanker payudara. “Dari hasil mamogram, dokter dapat melihat adanya ketidaknormalan pada payudara dan juga mengetahui perubahan yang terjadi bila dibandingkan dengan hasil mamogram yang terdahulu. Jika ditemukan sesuatu yang mencurigakan, dokter akan menyarankan untuk melakukan biopsi atau pengambilan sedikit jaringan di wilayah yang dicurigai untuk diteliti apakah terdapat kanker atau tidak,” imbuh dr. Widiyasa.

BACA  Ni Luh Made Milan Megayoni: Taksu Kebaya Bali

 

PEMERIKSAAN LAINNYA

Panitia Baksoskes juga melaksanakan telah membagikan kacamata baca kepada lebih dari 150 orang lansia yang datang ke lokasi baksos. Kacamata baca ini disediakan oleh RS Mata Bali Mandara.

Selain itu, juga telah dilakukan pemeriksaan USG pada daerah perut warga. Dari hasil pemeriksaan ini, beberapa warga ditemukan menderita batu pada saluran kencing, batu empedu, peradangan pada ginjal dan kelainan lainnnya. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dr. Ratih Manuaba SpPD dari RSU Manuaba ini sangat diminati oleh warga.

Advertisement

“Kami berharap dengan kehadiran para dokter di tengah-tengah masyarakat dalam kegiatan baksoskes kali ini dapat bermanfaat bagi warga. Pelayanan kesehatan akan jauh lebih dekat dan mampu menyentuh kebutuhan masyarakat di wilayahnya,” tegasnya. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sehat

Jangan Tunda Vaksinasi Covid-19

Published

on

Vaksinasi Covid-19 untuk warga Badung (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Badung (cybertokoh.com) –

Pengumuman vaksinasi Covid-19 untuk warga yang ber-KTP Badung atau berdomisili di Badung kembali diumumkan di WA Grup Banjar Samu, Desa Mekar Bhuwana. Hal ini untuk memberi kesempatan kepada warga yang belum vaksinasi.

“Vaksinasi dosis II yang dilaksanakan bulan Desember 2021 sudah diinfokan UPTD Puskesmas Abiansemal II yang mewilayahi Jagapati, Angantaka, Sedang, Mekar Bhuwana, dan Mambal. Silakan yang akan vaksinasi dosis II cek jadwalnya. Jangan tunda vaksinasi,” ujar Kelian Dinas Banjar Samu, I Gusti Agung Swadyaya, Kamis (2/12).

Ia berharap vaksinasi dosis II ini bisa berjalan lancar dan semua warga dusunnya mendapat vaksin Covid-19 dosis lengkap. Vaksin yang digunakan buatan AstraZeneca, Sinovac, Corona Vac, dan Biofarma.

Advertisement

Di saat pemerintah sudah memfasilitasi warga untuk vaksinasi, ternyata di beberapa daerah lain masih ada yang merasa tidak perlu vaksinasi. Mereka tidak mau vaksinasi dengan alasan sudah tua dan jarang bepergian atau tidak akan kemana-mana. “Tetangga saya bilang orangtuanya tidak perlu vaksinasi karena komorbid, sudah tua, dan jarang keluar rumah. Yang lansia memang jarang keluar rumah, tetapi ada anak dan cucunya yang tiap hari keluar masuk rumah. Siapa berani menjamin, mereka aman dari virus,” ujar Komang Putra, warga Gianyar.

BACA  Tips Seputar Gempa Bumi

Pengalaman Komang Triyanti lain lagi. Ia dan keluarga menunggu vaksin merek tertentu karena sudah mendaftar. Namun, karena vaksin tak kunjung tiba dan Covid-19 merajalela, mereka pun memilih segera vaksin dengan merek yang ada. “Kebetulan waktu itu kami ke mall. Ada vaksinasi Covid-19. Karena berencana liburan ke luar kota, kami ikut saja vaksinasi itu biar saat liburan sudah punya kartu vaksin. Selain itu, lebih baik segera vaksin sebelum Covid-19 menyerang,” ungkapnya.

Pandemi Covid-19 di Indonesia yang melandai menjadi momentum emas mempercepat capaian vaksinasi di berbagai wilayah. Akselerasi vaksinasi juga sangat penting untuk meminimalisasi dampak penyebaran varian baru Covid-19 yang sewaktu-waktu bisa datang ke Indonesia.
Kondisi pandemi yang terkendali saat ini, dianggap menjadikan masyarakat cenderung menunda vaksinasi. Terkait hal ini, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, di beberapa daerah dalam 2 – 3 minggu ini terjadi penurunan jumlah penyuntikan vaksin per harinya.

“Kondisi penularan yang membaik, membuat masyarakat tidak buru-buru divaksin, mereka menunggu-nunggu dan memilih vaksin merek tertentu,” ujar Nadia dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN.

Nadia menekankan, semua merek vaksin yang beredar di Indonesia aman dan berkhasiat, sehingga masyarakat diminta segera melakukan vaksinasi dengan merek yang tersedia. “Semua vaksin sama baiknya, efek samping itu biasa sebagai reaksi tubuh kita saat dilatih vaksin untuk menstimulasi sistem kekebalan tubuh,” papar Nadia.

Advertisement

Mengenai pengaruh vaksin pada varian baru, Nadia mengemukakan, vaksin bisa mencegah kita sakit parah terhadap varian baru tersebut. Walaupun masih banyak yang harus diteliti terkait efikasi, namun efek proteksi vaksin tetap banyak dan manfaatnya lebih besar.
Selain itu, ujarnya, dengan semakin banyak orang divaksin, benteng kekebalan bersama juga akan terbentuk untuk melindungi kita melawan varian baru tersebut. Saat ini capaian vaksinasi nasional adalah sekitar 67% untuk dosis pertama dan sekitar 46% untuk dosis kedua. Sementara vaksinasi lansia masih perlu terus digenjot, karena baru mencakup sekitar 53% untuk dosis pertama.

Guna percepatan vaksinasi lansia ini, dilakukan upaya mendekatkan vaksinasi kepada masyarakat, seperti sistem door to door dan Posyandu lansia. Selain itu, Nadia menekankan pentingnya terus melakukan sosialisasi dan edukasi agar para lansia bersedia divaksin, dengan menggandeng tokoh masyarakat, agama, media, juga memastikan tenaga kesehatan menyampaikan informasi yang benar. Tak kalah penting adalah perlunya inovasi dan pendekatan spesifik lokal sesuai kebutuhan, yang dapat dijalankan tiap daerah.

Nadia juga meluruskan persepsi keliru, lansia yang memiliki banyak penyakit penyerta maka tubuhnya lemah untuk divaksin. Justru sebaliknya, lansia dikatakannya harus dibantu imunitasnya melalui vaksinasi. Bahkan vaksin Covid-19 justru didesain untuk kaum lansia dan penderita komorbid, sehingga vaksin tersebut akan memberikan perlindungan yang diharapkan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Vaksinolog, Dirga Sakti Rambe mengungkapkan, penelitian menunjukkan, saat tingkat penularan di masyarakat rendah, maka efektivitas vaksin pada tingkat optimal. Ini kesempatan baik untuk meningkatkan cakupan vaksinasi karena kasus terkendali.

Mengingat saat ini vaksin Covid-19 dicari banyak negara, Dirga mengatakan, kita harus bersyukur Indonesia dapat memastikan ketersediaan vaksin meski bukan negara produsen vaksin. Maka dari itu, ia mengajak masyarakat segera vaksinasi, jangan pilih-pilih vaksin, sehingga jangan sampai ada stok vaksin yang terbuang.

Advertisement

“Di Indonesia saat ini pandemi terkendali, tapi selalu ada potensi timbulnya lonjakan kasus, terutama terkait mobilitas pada liburan Natal dan Tahun Baru, juga varian-varian baru yang menyebar di berbagai negara. Karena itu, masyarakat harus selalu terapkan prokes, patuhi aturan level PPKM di daerah masing-masing, dan optimalkan proteksi dengan vaksinasi,” tandas Dirga. (Ngurah Budi)

BACA  Badung Siapkan Hotel Berbintang untuk Karantina Pekerja Migran

Continue Reading

Sehat

Hadapi Gelombang Ketiga Covid, Indonesia Siapkan Molnupiravir

Published

on

Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers usai mengikuti Ratas mengenai Evaluasi PPKM, Senin (15/11/2021) siang, di Istana Merdeka, Jakarta. (Foto: Humas Setkab/Agung)

Jakarta (cybertokoh.com)-

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta agar semua pihak mewaspadai libur Natal dan Tahun Baru 2022. Jangan sampai terjadi terjadi lonjakan kasus. Monitor ketat harus terus-menerus dilakukan. Berdasarkan observasi Kementerian Kesehatan minggu lalu, terdapat 126 Kabupaten/Kota yang mengalami peningkatan kasus. Bahkan ada yang mengalami kenaikan hingga tiga minggu berturut-turut.

Dalam Ratas, Senin (15/11), perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia juga termasuk yang dibahas. “Dalam Ratas, Presiden menyampaikan, alhamdulilah kasus sudah menurun. Tapi, kita harus ekstra waspada terutama menghadapi Nataru,” ujar Budi Sadikin mengutip pernyataan Presiden yang juga meminta dilakukan montor ketat terhadap daerah-daerah yang mengalami kenaikan.

Dalam kesempatan itu, Menteri Budi juga menyinggung tentang obat Molnupiravir yang diharapkan tiba di Indonesia pada akhir tahun ini.
Molnupiravir merupakan salah satu obat antivirus yang semula dikembangkan untuk penyakit influenza, namun kemudian obat ini diperkirakan efektif dalam penanganan Covid-19. Cara kerja obat ini adalah dengan memicu kesalahan dalam proses perbanyakan virus di dalam tubuh.

Advertisement

Mengutip website resmi WHO, Molnupiravir merupakan obat antivirus oral yang berdasarkan hasil penelitian dapat mengurangi risiko rawat inap pada pasien Covid-19 bergejala ringan hingga sedang sebesar 50%. Jika nantinya obat ini disetujui penggunaannya, maka Molnupiravir akan menjadi obat oral pertama untuk pasien Covid ringan dan sedang. Saat ini Molnupiravir sedang menunggu emergency use authorization (EUA) dari FDA (Food and Drug Administration) atau BPOM Amerika Serikat.

BACA  Ayu Laksmi : Berkesenian di Ranah Tradisi

“Mudah-mudahan tidak ada gejolak. Tapi kalau pun ada gelombang baru, kita sudah siap dengan obat-obatannya. Kita sedang menunggu terbitnya EUA yang diharapkan akan keluar diawal Desember ini,” jelas Budi.

Selain Molnupiravir, lanjutnya, Pihak Kemenkes dan BPOM juga terus mengkaji obat-obatan lainnya yang bisa mengurangi risiko untuk masuk rumah sakit bagi orang-orang yang terkena Covid-19.

Vaksinasi Covid-19 dan Prokes
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Budi juga menjelaskan tentang capaian vaksinasi Covid-19. Pihaknya menyambut gembira dengan capaian saat ini yakni sudah 216 juta suntikan yang diberikan kepada 130,6 juta rakyat Indonesia, 84,5 juta sudah mendapat vaksin dosis lengkap.

“Vaksinasi kita terus bertengger antara 1,6 hingga 2 juta suntikan per-hari. Diperkirakan, sampai akhir tahun mungkin bisa mencapai total sekitar 290 juta sampai 300 juta suntikan,” jelasnya.

Advertisement

Secara detail berdasarkan data Kementerian Kesehatan, per 15 November 2021, cakupan vaksinasi dosis pertama telah mencapai 130,62 juta orang (62,72%) dari 208,2 juta orang. Capaian vaksinasi dosis kedua telah mencapai lebih 84,55 juta (40,6%). Dosis ketiga atau booster bagi tenaga kesehatan telah diberikan pada sekitar 1,19 juta orang (81,11%).

BACA  Ini Risiko Banyak Mengonsumsi "Fast Food"

Jika melihat target WHO yang menyebut setiap negara untuk memvaksinasi sekurangnya 40% dari populasi pada akhir 2021 dan 70% pada pertengahan tahun 2022 maka Indonesia menjadi salah satu negara yang mencapai target (akhir tahun) lebih cepat. Namun begitu ada hal yang harus diingat bahwa cakupan vaksinasi bukan solusi tunggal untuk menekan kasus Covid. Tanpa dibarengi dengan pelaksanaan Protokol Kesehatan yang ketat, kasus Covid tetap berpotensi meningkat.

Hal tersebut juga disampaikan Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers perkembangan Covid-19 yang digelar WHO akhir pekan lalu. Ia mengingatkan tentang tengah melonjaknya kasus Covid di sejumlah negara, baik itu negara dengan tingkat vaksinasi rendah maupun negara-negara yang cakupan vaksinasi-nya tinggi.

“Ini adalah pengingat, seperti yang telah kami katakan berulang kali, bahwa vaksin tidak menggantikan kebutuhan akan tindakan pencegahan lainnya. Vaksin mengurangi risiko rawat inap, penyakit parah, dan kematian, tetapi tidak sepenuhnya mencegah penularan,” ujarnya.

Beberapa negara di Eropa, paparnya, saat ini memulai lagi dengan pembatasan-pembatasan guna menekan penularan dan mengurangi tekanan pada sistem kesehatan mereka. “Kami terus merekomendasikan penggunaan masker, jaga jarak yang disesuaikan dan proporsional. Juga pencegahan kerumunan, dll. Dan tentunya, mendapatkan vaksinasi bagi yang belum vaksin,” jelasnya.

Advertisement

Setiap negara, tegasnya, harus terus-menerus memonitor perkembangan situasinya dan mengambil langkah-langkah yang disesuaikan dengan keadaannya. Dengan tindakan yang tepat, setiap negara akan bisa menjaga keseimbangan antara menjaga transmisi tetap rendah dan menjaga masyarakat dan ekonomi mereka tetap terbuka.

BACA  Tips Seputar Gempa Bumi

Dr Maria Van Kerkhove, yang merupakan Pimpinan Teknis Covid-19 juga mengingatkan tentang pentingnya disiplin Prokes, bukan hanya vaksin. “Kami melihat di seluruh Eropa, di seluruh dunia, penularan meningkat. Transmisi didorong oleh begitu banyak faktor saat ini. Variannya, peningkatan pergaulan sosial yang dimulai beberapa bulan lalu,” ujarnya.

Pola yang kita lihat terjadi di seluruh Eropa, jelasnya, sama dengan yang terjadi di seluruh dunia. “Jadi, jika Anda mencabut aturan seputar penggunaan masker, menjaga jarak, menghindari keramaian, dll, maka Anda akan melihat virus berkembang dan itulah yang terjadi sekarang,” tegasnya.

Ingat, varian Delta masih ada. Varian ini 100% lebih mudah menular daripada varian sebelumnya. “Ini adalah virus paling menular yang pernah kita lihat sejauh ini,” ujar Maria. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Sehat

Vaksinasi Lindungi Diri, Keluarga, dan Masyarakat

Published

on

Suasana vaksinasi Covid-19 untuk warga Badung (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Badung (cybertokoh.com) –

Vaksinasi menjadi salah parameter dalam pengendalian Covid-19. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam menyukseskan vaksinasi. Sinergi dengan TNI/Polri, berbagai organisasi kemasyarakatan, serta instansi swasta pun digencarkan.

“Saya sudah tidak sabar untuk vaksinasi. Setelah proses transfusi darah selesai, barulah bisa vaksinasi Covid-19,” ungkap Iga Ardhini, warga Badung. Ia menuturkan dirinya sangat ingin vaksinasi, namun karena harus menjalani kemoterapi dan transfusi, vaksinasi pun tertunda.

Karena belum vaksinasi, aplikasi PeduliLindungi yang sudah diunduh di ponsel pun belum bisa dimanfaatkan. Jika harus bepergian, pengusaha tanaman hias ini harus membawa surat keterangan dokter.

Advertisement

Tak sabar ingin segera vaksinasi juga diungkapkan Mahendrayana. “Dosis kedua dijadwalkan Desember. Karena dosis belum lengkap kadang ada rasa khawatir. Inginnya cepat-cepat vaksin dosis kedua,” ungkap pria yang gemar bersepeda ini.

Ia pun disiplin menerapkan protokol kesehatan jika harus keluar rumah. Memakai masker medis, membawa hand sanitizer, serta selalu menjaga jarak menjadi standarnya. Ayah satu putra ini juga memilih bersepeda sebagai olahraga untuk menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.

“Di masa pandemi ini penting bagi kita untuk melindungi diri, melindungi keluarga, dan melindungi masyarakat. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah disiplin prokes dan ikut vaksinasi yang sudah disediakan pemerintah,” ujarnya Minggu (14/11).

Terkait vaksinasi, Indonesia kedatangan dua tahap sekaligus vaksin guna mendukung
program vaksinasi nasional. Dalam dua hari kedatangan tahap ke-121 dan ke-122 ini, sebanyak 8 juta vaksin Sinovac dalam bentuk jadi tiba di tanah air.

Menurut Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, vaksin tahap ke-121 tiba pada Jumat, 12 November 2021 dalam jumlah 4 juta dosis dan tahap ke-122 dalam jumlah yang sama tiba di tanah air pada Sabtu, 13 November 2021. “Lancarnya kedatangan vaksin membuat upaya percepatan dan perluasan program vaksinasi jadi lebih optimal,” ujar dr. Nadia.

Advertisement

Dia mengatakan, dengan kedatangan 8 juta vaksin ini ketersediaan vaksin aman. Hal ini sudah menjadi komitmen pemerintah untuk terus mendatangkan vaksin dalam rangka mengamankan ketersediaan vaksin di Indonesia untuk melindungi rakyatnya. Nadia menyebut, jumlah penduduk Indonesia yang telah divaksinasi terus bertambah. Pemerintah menargetkan sampai akhir tahun ini, setidaknya 123 juta penduduk Indonesia telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap.

BACA  Tips Seputar Gempa Bumi

Menurutnya, vaksinasi bukan sekadar upaya melindungi diri, melainkan juga untuk melindungi keluarga dan seluruh masyarakat.
“Segera lakukan vaksinasi untuk melindungi kita dari risiko sakit berat jika terinfeksi Covid-19 dan juga mencegah terjadinya lonjakan kasus,” tegasnya.

Ia mencontohkan, di banyak negara Eropa telah terjadi lonjakan kasus Covid-19. Seperti
yang terjadi Rusia dengan lonjakan lebih dari 35.000 kasus baru terdeteksi dalam 24 jam.
“Belajar dari situ, kita harus disiplin prokes dan segera lakukan vaksinasi. Ketersediaan vaksin aman. Pemerintah telah dan terus berupaya keras untuk memenuhi ketersediaan vaksin untuk seluruh sasaran,” ujarnya.

Selain itu, dr. Nadia mengajak seluruh pimpinan daerah harus bergerak lebih aktif dalam memantau setiap parameter penanganan pandemi secara berkala agar bisa mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi lonjakan kasus. Parameter yang dimaksud seperti jumlah kasus aktif, positivity rate, dan Bed Occupancy Ratio (BOR). Pemda juga harus memperkuat cakupan vaksinasinya, 3T (testing, tracing,dan treatment), dan penggunaan PeduliLindungi di berbagai tempat, seperti mal, kafe, pasar, dantempat wisata. “Semua pihak harus berperan dalam penegakan protokol kesehatan sebagai bentuk antisipasi penularan Covid-19,” tegas dr. Nadia. (Ngurah Budi)

BACA  Ini Risiko Banyak Mengonsumsi "Fast Food"

Advertisement
Continue Reading

Tren