Sudut Pandang

Pahlawan Itu Bawa Dampak Positif

Bicara tentang pahlawan maupun nilai-nilai kepahlawanan tentu saja berbeda masa dahulu dengan sekarang. Jika ada yang bertanya tentang siapa pahlawan bagi seseorang, maka yang terbayang adalah pahlawan kemerdekaan di masa revolusi fisik. Lalu siapa pahlawan masa kini khususnya bagi para seniman?

Ternyata tidak semudah itu menunjuk pahlawan masa kini. Iin Indrawasti tidak langsung dapat menjawab soal ini. “Ketika saya ditanya siapa pahlawan bagi saya, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tokoh-tokoh di zaman revolusi dan tokoh-tokoh yang kiranya bisa menjadi pahlawan di masa depan. Sayangnya saya tidak menemukan,” ungkapnya.

Karena baginya ada seorang tokoh yang begitu dikagumi dan diagung-agungkan oleh sebuah kelompok, tapi di sisi lain tokoh tersebut begitu dibenci oleh kelompok lainnya. Atau juga ketika ia menemukan seorang tokoh yang begitu hebat dan bersih di matanya, sayangnya tidak lama kemudian tokoh tersebut tersangkut masalah korupsi. Sebagai seorang perempuan yang juga menggeluti dunia kesenian, Iin rupanya mengagumi sosok perempuan serupa RA Kartini. “Saya lebih memilih sosok wanita tersebut sebagai pahlawan. Karena dalam keterbatasan yang teramat sangat di zaman ini, ia dapat menjadi sosok wanita yang mampu mendobrak belenggu kebodohan,” katanya. Nilai-nilai kepahlawanan itu ada dalam diri seorang ibu.

Selain itu, Iin juga menunjuk seorang perempuan dalam bentuk yang ada secara nyata saat ini sebagai pahlawan yakni Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. “Bu Risma mampu mampu membawa Surabaya dengan segudang penghargaan bahkan berkelas dunia. Yang paling berkesan karena bisa menghapus lokalisasi Dolly yang fenomenal itu,” ungkapnya.

Lain Iin lain Ana Indriana, seorang guru yang juga gemar bermain teater. Pahlawan itu adalah seseorang yang banyak melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain. “Apa yang dilakukannya itu dapat membawa dampak positif yang besar terhadap perubahan masyarakat,” katanya.

Seorang tokoh ulama kharismatik di Pulau Lombok, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (alm) yang disebutnya sebagai pahlawan karena mampu menanamkan nilai-nilai khususnya pendidikan dalam ceramah-ceramahnya yang perubahan bagi masyarakat. “Saya masih ingat ketika kecil dulu saya sering dibawa untuk mengikuti pengajian beliau. Pesan yang selalu disampaikannya pada orang tua kala itu adalah bahwa orangtua harus menyekolahkan anak-anak mereka dan para orangtua harus saling bantu membantu dalam hal sekolah anak-anak,” katanya.

Bagi Ana yang lahir dan besar di Lombok, pendiri NW tersebut mampu mengubah mengubah pola pikir masyarakat bahwa sesulit apapun hidup itu anak harus sekolah dan harus saling bantu untuk itu. Ia rasakan sendiri ketika orangtuanya tidak punya uang untuk membayar SPP, maka tetangganya sering membantu. Bahkan meski hanya sekilo beras untuk bekal ia merantau di Mataram untuk kuliah, para tetangga peduli untuk membantu saat mereka kekurangan. Begitulah yang dirasakan Ana di kampungnya di Lombok Timur, para orangtua saling bantu untuk hal berkaitan dengan sekolah. “Saya sangat yakin masyarakat terinspirasi dari ajaran beliau,” katanya. (naniek.itaufan@cybertokoh.com)

To Top