Sudut Pandang

Belajar dari Pengalaman

Hj. Putu Selly Andayani dan Ir. Husnanidyati Nurdin

Kemampuan berkomunikasi di depan umum (public speaking) menjadi suatu keahlian yang wajib dimiliki khususnya oleh seorang pejabat atau pun pimpinan. Ini menjadi penting mengingat banyak kebijakan yang harus disampaikan dengan tepat dan benar agar mudah diterima dan diserap oleh para stafnya terutama lagi saat penyampaian kebijakan di muka umum. Kemampuan berbicara di depan umum bagi seorang pejabat juga diperlukan untuk menghindari kesalahan penyampaian maksud dalam suatu forum, baik formal mau pun informal.

Untuk bisa bicara di depan umum, tentulah dibutuhkan kematangan sikap dan mental dalam menghadapi audiens. Hal inilah yang kerapkali membuat banyak orang gugup saat pertama kali bicara di depan umum. Salah satunya yang pernah dialami oleh Ir. Husnanidyati Nurdin, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jika sekarang ia dapat bicara berjam-jam di depan umum meski tanpa teks, namun ada sebuah peristiwa yang tidak akan bisa dilupakannya berkaitan dengan berbicara di depan umum ini adalah kegugupannya saat pertama kali diminta bicara di depan umum dalam sebuah penatarn.

“Saya ingat tahun 1980, saya gugup ketika diminta bicara di depan umum ketika menjadi penatar,” ungkapnya. Momen tampil sebagai penatar yang memberikan materi dalam penataran P4 bagi para pengurus organisasi pemudan dan wanita kala itu, adalah yang paling tidak terlupakan. “Waktu itu saya dikasih waktu satu setengah jam untuk bicara, tapi karena baru pertama kali bicara di depan umum, saya jadi gugup dan hanya bisa bicara 15 menit saja tanpa slide,” ungkap Eni panggilan akrabnya. Akibatnya penatar yang lain akhirnya membantunya meneruskan materi tersebut hingga tuntas.

Tapi itu masa lalu bagi perempuan yang sejak SMP sudah giat berorganisasi ini karena sekarang ia bisa bicara berjam-jam tanpa slide apalagi jika dibantu dengan slide. Eni yang pernah menjadi Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi NTB dan memimpin Bakorluh NTB ini memang tidak pernah belajar secara khusus mengenai public speaking ini, melainkan ia belajar dari pengalamannya berorganisasi selama ini.

Selain Eni, ada pula pejabat perempuan NTB Hj. Putu Selly Andayani yang juga tidak pernah belajar secara khusus untuk berbicara di depan umum. Semua mengalir dari pengalamannnya selama ini. Yang menarik adalah ketika Selly menjadi Panjabat Walikota Mataram beberapa waktu lalu yang mengharuskannya banyak berbicara di depan umum dalam pidato-pidato resmi maupun tidak resmi. Rupanya selama ini ia belajar banyak dari suaminya yang tokoh partai, H. Rahmat Hidayat, Ketua Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia Nusa Tenggara Barat.

“Saya tidak pernah belajar khusus public speaking tetapi belajar banyak untuk bicara di depan umum itu dari Bapak (H. Rahmat Hidayat),” ungkap Selly yang pernah menjadi Kepala Biro Keuangan Provinsi NTB dan Kepala Dispenda NTB ini. Menurutnya, suaminya itulah yang mengajarinya menjadi percaya diri untuk bicara di depan umum. Kemauan keras dari dirinya jugalah yang membantunya untuk bisa bicara di depan umum dengan santai dengan maksud dan tujuan yang tersampaikan. Bagi kedua pejabat perempuan ini, bicara di depan umum itu akhirnya memberikan mereka banyak pengalaman. Makin hari, kemampuan berbicara di depan umum itu semakin terasah karena tugas-tugas dan tanggung jawab yang mengharuskan mereka banyak bicara di depan umum. (naniek.itaufan@cybertokoh.com)

To Top