Buleleng

Buleleng Mekorot Festival: Bertarung di Udara Bersahabat di Darat

Di Bali, permainan layang-layang menjadi kegemaran mulai dari anak-anak, dewasa, hingga yang tua.  Ada berbagai jenis macam permainan layang-layang khas di Bali bahkan tidak jarang permainan tersebut diperlombakan dalam sebuah festival. Jika di Bali Selatan ada perlombaan layang-layang indah, maka di Bali Utara ada mekorot. Mekorot merupakan permainan layang-layang khas Buleleng. Untuk menentukan pemenang, para pemain mengadu ketangkasan di udara dengan saling mengalahkan atau saling memutuskan benang layang-layang satu sama lain.

Adu layang-layang (mekorot) tidak hanya melibatkan kelihaian fisik dan strategi untuk menarik ulur layang-layang, tetapi juga mengasah karakter pemainnya sehingga mampu menumbuhkan karakter khas masyarakat Buleleng yang kompetitif, pantang menyerah, sigap, cekatan, objektif dan tentu saja sportif. Mengusung tagline “Bertarung di Udara Bersahabat di Darat”, festival mekorot ini diharapkan menjadi sarana untuk melestarikan budaya sekaligus olahraga tradisional adu layang-layang.

Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pendidikan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerjasama dengan Junior Chamber International (JCI) Singaraja menyelenggarakan lomba mekorot dengan tajuk Buleleng Mekorot Festival (BMF) tahun 2016. BMF yang merupakan gelaran ketiga ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG di Lapangan Mayor Metra, Singaraja, Kamis (27/10).

Ditemui usai pembukaan, Wabup Sutjidra mengungkapkan mekorot ini hanya ada di Buleleng. Permainan mekorot ini mencerminkan bagaimana dinamika masyarakat Buleleng. Mekorot juga menurutnya adalah sesuatu yang sangat luar biasa. “Kita bisa lihat hari ada 500 peserta. Masing-masing peserta membawa tiga layang-layang. Akan ada 1500 layang-layang menghiasi langit Singaraja,” ungkapnya.

Dirinya berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut. Pihak pemerintah juga sangat mendukung kegiatan-kegiatan seperti BMF ini karena merupakan suatu kegiatan yang positif. Masyarakat juga sangat merindukan bermain layang-layang mekorot sehingga bisa terus diselenggarakan. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta dari kaum pemuda. “Saya berharap kegiatan ini bisa terus dilanjutkan karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang positif dan sangat dirindukan masyarakat,” harapnya.

Melalui tema  “When The Champion Continues”, BMF akan melibatkan pemuda dari berbagai sekaa adat teruna teruni, siswa SMA/SMK, komunitas dan masyarakat umum yang akan diselenggarakan selama 2 hari yaitu 27-28 Oktober 2016. Pertarungan BMF terdiri dari 2 round, yaitu Elimination Round dan Final Round. Pada Elimination Round, seluruh peserta dibagi ke dalam beberapa sesi pertandingan. Pemenang disetiap sesi pada Elimination Round adalah tim yang berhasil mengalahkan semua peserta disesi tersebut. Sehingga, disetiap sesi akan terpilih 1 pemenang yang akan lolos ke babak berikutnya (Final Round).

Local President JCI Singaraja Anak Agung Gede Agung Wedhatama P, mengatakan, tahun ketiga penyelenggaraan BMF bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda. Ritme pertarungan bebas diseleksi berdasarkan kemampuan bertanding di udara dan dipilih pemenang di setiap sesi di Quarter Final untuk mencari satu pemenang melawan raja mekorot tahun 2015. “Hadiah ditawarkan uang pembinaan, sertifikat dan sebuah cincin mekorot yang berbahan dasar platina dan mas kuning,” ucapnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top