Buleleng

Buleleng Bali Dive Festival 2016: Berdayakan Masyarakat dalam Promosikan Pemuteran

Untuk menumbuhkan kepedulian terhadap alam, utamanya laut, Kabupaten Buleleng menggelar Buleleng Bali Dive Festival (BBDF) yang ke-2 tahun 2016. Festival yang mengusung tema “Save Our Sea” ini masih mengambil tempat di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak. Event yang diselenggarakan mulai 23 hingga 26 Oktober 2016 tersebut menenggelamkan struktur terumbu karang bernama Bedawang Nala. Bedawang Nala yang berbentuk kura-kura dililit oleh dua ekor naga ini merupakan simbol bumi yang akan tetap menjaga keseimbangan alam semesta.

BBDF ini dibuka oleh Direktur Promosi Wilayah Asia Pasifik Kementrian Pariwisata RI Visensius Jemadu mewakili Menteri Pariwisata Arief Yahya. BBDF juga dihadiri Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST., Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG., Staf Ahli Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Bidang Kemitraan dan Hubungan Antar Lembaga Suseno Suko Yuwono, Sekda Buleleng Ir. Dewa Ketut Puspaka,MP., dan Pimpinan SKPD Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Buleleng.

Visensius Jemadu yang membacakan sambutan Menpar mengatakan, sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ia juga menegaskan festival yang diadakan oleh pemerintah bukan hura-hura. “Festival merupakan ajang untuk mempromosikan potensi daerah, bukan hura-hura. Jadi masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam setiap festival yang diadakan pemerintah,” ujarnya. Vasensius menambahkan, festival ini merupakan kegiatan yang sangat luar biasa karena sangat peduli lingkungan. “Saya yakin Pemuteran akan mendunia dengan festival ini. Ini dikarenakan sinergitas pemerintah daerah dengan masyarakat untuk menjaga lingkungan sangat baik sekali,” imbuhnya.

Bupati Putu Agus Suradnyana mengatakan, juga sangat mengapresiasi partisipasi dari segala pihak yang ikut berperan dalam penyelenggaraan BBDF 2016. Ia berharap, dengan adanya festival ini pariwisata di Pemuteran semakin meningkat. “Saya berharap, vibrasi dari festival ini bisa meningkatkan kunjungan pariwisata di Pemuteran dan Buleleng pada umumnya,” harapnya. Bupati yang akrab disapa PAS ini mengatakan, kedepan untuk pelaksanaan BBDF akan diselenggarakan secara bergilir dengan Buleleng wilayah timur. “Saya memiliki pemikiran untuk mempromosikan potensi alam bawah laut di wilayah timur dengan cara menggilir penyelenggaraannya, nanti kita cari caranya mungkin dengan bekerja sama denga Kabupaten Karangasem juga,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buleleng, Ir. I Made Arnika menegaskan BBDF tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya dari segi anggaran. “Tahun lalu murni dibiayai oleh pemerintah, namun tahun ini sebagai besar merupakan swadaya dari masyarakat,” jelasnya. Hal ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat agar turut secara langsung mempromosikan daerah Pemuteran. Ditambahkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata I Nyoman Sutrisna, MM., perbedaan BBDF kali ini dengan tahun lalu juga dari tempat pelaksanaannya. Jika tahun lalu BBDF hanya menggunakan satu panggung utama namun kali ini dua tempat disediakan untuk mendukung kondusifitasnya acara tersebut. “Panggung utama masih di tempat yang lama sedangkan satu lagi di tanah milik desa adat yang bersebelahan dengan Pura Dalem,” jelasnya. Tujuannya adalah agar di panggung utama terfokus dengan pementasan kesenian dan kebudayaan modern sedangkan di tempat yang baru difokuskan untuk pementasan kesenian tradisional.

BBDF tahun ini diramaikan juga oleh ratusan penyelam dari berbagai negara. Ratusan penyelam mengikuti sejumlah kegiatan berbeda selama festival dilangsungkan, terutama kegiatan-kegiatan bawah air. BBDF memang diklaim sebagai festival selam pertama yang dirangkaikan dengan kegiatan seni budaya di Indonesia. Tak heran jika BBDF mendapat antusiasme tinggi dari wisatawan mancanegara (wisman), utamanya yang berasal dari Benua Australia dan Eropa. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

 

To Top