Kolom

ANJING-ANJING LAPAR

Sekelompok anjing lapar berkeliaran mencari makan di pinggir sungai. Tak sekerat tulang pun yang diperolehnya. Dalam putus asa, mereka beristirahat dengan merebahkan diri. Tiba-tiba mereka melihat sekarung tulang tersangkut di tengah-tengah sungai. Tulang-tulang itu baru saja dibuang oleh keluarga yang memasak makanan pesta. Anjing-anjing itu serempak bangkit. Mereka berusaha menggapai tulang-tulang segar itu. Namun arus air sangat deras, apalagi tulang-tulang itu berada di air sungai yang dalam. Tentu saja mereka takut hanyut. Anjing-anjing lapar itu hanya mampu mencium baunya yang sedap sambil menjulur-julurkan lidahnya.

“Kawan-kawan!” seru seekor anjing tua. “Ayo kita bergotong-royong! Kita minum air sungai itu sebanyak-banyaknya, sehingga sungai itu menjadi dangkal. Setelah itu kita seret tulang-tulang itu ke tepian. Tulang-tulang sebanyak itu cukup untuk pesta tiga hari.”

Guk, guk, guk…!” demikian gonggong anjing-anjing lainnya, tanda setuju.

Mereka lalu serempak menuju ke pinggir sungai, dan mulai minum air sebanyak-banyaknya. Satu teguk, dua teguk, lima puluh teguk, …. entah berapa teguk lagi.

Apa yang terjadi? Sebagian anjing itu sesak napas, sebagian tak berdaya karena menahan perut gembung, dan sebagian lagi muntah-muntah.

Sambil terbengong-bengong, anjing-anjing itu merasakan tak ada gunanya minum air sungai sebanyak-banyaknya. Arus air itu bahkan tambah deras dan permukaannya tambah naik. Karung tulang itu sedikit robek. Air sungai yang mengalir tak henti-hentinya membersihkan tulang itu sehingga tampak putih. Lama-kelamaan karung tulang itu hanyut dan meluncur sangat cepat.

“Kawan-kawan!” seru seekor anjing tua yang lain. “Sebesar apapun semangat gotong-royong kita, tak mungkin mengalahkan kekuatan alam yang jauh lebih besar.”

Guk, guk, guk…!” demikian gonggong anjing-anjing lainnya, mengiyakan. (Aesop)

To Top