Kolom

MENGHITUNG KOIN EMAS

Pak Tregor orang kaya di desa itu. Tanahnya ratusan hektar. Kerbau dan sapinya lebih dari tujuh ratus ekor. Ia terkenal bukan karena kekayaannya, tetapi karena sifat kikirnya. Ia jarang bergaul dengan masyarakat, karena khawatir, kalau-kalau orang-orang minta sumbangan atau meminjam uang kepadanya.

Walaupun tanahnya luas, ia hanya punya sepetak rumah. Rumah itu terletak di pinggir desa yang dikelilingi pohon-pohon lebat. Dalam rumah itu ia dilayani oleh lebih dari limabelas  pembantu.

Pada suatu hari ia menjual 200 ekor kerbau dan 150 ekor sapi kepada saudagar kota. Hewan-hewan itu dibayar lunas dengan koin emas. Ia belum pernah membayangkan akan memiliki beribu-ribu keping koin emas. Bersama istrinya, seharian mengurung diri di dalam kamar. Menghitung koin emas.

Tok, tok, tok …!” Seorang pelayan memanggil Pak Tregor dan istrinya untuk makan siang.

“Tunggu sebentar! Aku belum selesai menghitung koin emas,” jawabnya dari dalam kamar.

Tak lama kemudian ketukan pintu itu terdengar lagi. Suami-istri kaya itu segera menuju ruang makan. Tentu ia tidak lupa mengunci pintu kamar tempat bertimbunnya koin emas. Aneh! Di ruang makan itu mereka berdua tidak melihat hidangan makan, tetapi koin emas. Mereka tumpahkan koin emas itu dari baskom nasi, lalu sibuk menghitungnya.

“Cita-cita kita kesampaian!” seru Pak Tregor riang-gembira. “Kitalah orang terkaya di desa ini! Bahkan kekayaan kita melebihi kekayaan Raja. Kita harus merayakan rezeki ini dengan mengundang seluruh warga desa dan pejabat kerajaan,” katanya lagi sambil menghitung koin emas yang berserakan di atas meja.

“Hai, pelayan! Siapkan segala keperluan untuk pesta itu!” kata Pak Tregor sambil menarik tangan istrinya. Mereka berdua menuju dapur.

“Wah, wah, wah…! Koin emas lagi, koin emas lagi!” teriak majikan kaya itu sambil berjingkrak-jingkrak

Suami-istri itu sibuk mengangkut koin emas itu ke dalam kamar. Semua pelayan terheran-heran. Mereka tidak melihat sang majikan mengangkut koin emas, tetapi perabotan dapur. Namun pelayan-pelayan itu tidak berani membantah. Pelayan-pelayan itu terpaksa ikut pula mengangkut berkarung-karung koin emas itu ke dalam kamar. Setelah usai, pelayan-pelayan itu diharuskan keluar dari kamar. Mereka berdua, Pak Tregor dan istrinya kembali sibuk menghitung koin emas.

Semua pelayan bertanya-tanya heran bercampur khawatir. Sampai larut malam, sang majikan belum juga makan.

Tok, tok, tok…!” Keesokan paginya, seorang pelayan mengetuk pintu. “Makan pagi sudah siap, Tuan!” katanya.

Tak ada jawaban. Pelayan itu mengetuk pintu kamar itu satu kali lagi, lima kali, sepuluh kali. Kemudian datang pula pelayan lainnya. “Tok, tok, tok,…, tok, tok, tok …!”

Pelayan-pelayan itu curiga, lalu bersama-sama mendobrak pintu. Braaak….!

Mereka semua terkejut. Mereka dapati Pak Tregor dan istrinya terbaring kaku. Kedua tangannya menggenggam koin-koin emas. (Filipina)

To Top