Bunda & Ananda

Nebeng Menambah Keakraban

Jeni Adhi

Kesibukan orangtua bekerja kadang berimplikasi terhadap urusan anak. Salah satunya urusan mengantar-jemput anak sekolah. Beragam upaya dilakukan, seperti menggunakan jasa ojek, menggunakan sopir, atau nebeng dengan teman. Pilihan untuk ojek dan sopir tentu perlu biaya. Yang tidak perlu biaya adalah nebeng. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin nebeng.

Tama dan Yoga satu sekolah dan satu kelas. Tempat tinggal mereka berada di wilayah Denpasar Utara. Hal ini membuat orangtua Tama dan orang Yoga berkolaborasi. Kadang mereka berangkat bersamaan atau pulang bersama kalau ada salah satu orangtua yang sibuk.

“Kalau ada diantara kami yang tidak bisa mengantar atau menjemput, biasanya komunikasi via telepon atau sms. Kami sama-sama bekerja, jadi kadang suatu ketika, ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Mau tak mau, anak harus dititipkan. Saling komunikasi ini sangat penting,” ujar orangtua Yoga.

Jika sudah ada komunikasi yang baik, tentu urusan menjadi mudah. Anak pun merasa nyaman karena dia berangkat atau pulang sekolah dengan orang yang sudah dikenal.

“Kesibukan orangtau menjadi alasan untuk tidak bisa menjemput anak sehingga anak mesti nebeng mungkin masih bisa diterima. Namun, jika ada unsur orangtua memanfaatkan situasi, ada yang ditebengin, nah itu yang perlu dicermati. Mungkin ada beberapa orangtua yang sejalur dengan tempat tinggalnya sehingga saat tidak bisa menjemput karena kesibukan, minta tolong untuk nebengin anak itu hal yang wajar,” ujar Ni Ketut Jeni Adhi, M.Psi. Psikolog
Menurut psikolog dari Tema Insan, Tabanan ini, yang penting komunikasi dengan orangtua tetap baik, sopan dan tidak memaksa. Akan lebih baik orangtua yang akan menitipkan anaknya bertanya lebih dulu. Misalnya, “ibu, pulang sekolah saya gak bisa jemput Ana (nama anak), jika ibu bisa saya titip Ana ya”. Atau, “jika pulang sekolah ibu masih ada waktu buat antar Ana, saya titip Ana ya bu”. Ucapan terima kasih mesti selalu diingat dan sampaikan jika memang kita betul-betul merasa terbantu.
Kepada anak juga mesti dipesankan untuk bersikap sopan, ucapkan terima kasih dan tidak boleh rewel. Misalnya ada anak yang terlalu berani karena saking akrabnya, misalnya sepulang sekolah minta dibelikan jajan, dll.
“Sebagai orangtua pastilah kita juga perlu mengenal orangtua yang akan di-tebengin, bagaimana sikap dan kebiasaan berkendara karena ini berhubungan dengan keselamatan anak kita sendiri. Orangtua perlu juga mencermati hal trsebut,” ujar pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini.
Jika komunikasi berjalin baik dengan orangtua yang ditebengi tentu tidak akan ada masalah, sesuatu yang masih dimaklumi, sangat manusiawi kita masih membutuhkan bantuan orang lain.
Sisi positif dari saling nebeng ini keakraban anak-anak semakin baik, komunikasi dan penegertian antar orangtua semakin terjalin,  anak semakin tahu alamat temannya, mendidik anak bahwa jika saat ini kita membantu suatu ketika mungkin saja kita yang akan membutuhkan bantuan orang lain. Sisi negatifnya, yang pasti akan lebih merepotkan dari sisi yang ditebengi, butuh waktu jika mungkin jaraknya cukup jauh.
“Pesan untuk anak, jika orangtua tidak bisa menjemput, pastikan orangtua betul-betul tidak bisa sehingga anak tidak merasa dirinya diabaikan. Anak diminta untuk bersikap sopan, wajar dan ucapkan terimakasih kepada bapak atau ibu yang mengantar pulang. Pesan untuk yang ditebengi, jika memang tidak bisa ditebengi lebih baik jujur, misalnya karena terburu-buru, karena alasan waktu dan kesibukan yang tidak bisa dihindari. Belajar lebih berempati, memahami saat ini tenaganya benar-benar dibutuhkan,” jelas dosen Ilmu Psikologi Universitas Dhyanapura ini.
Pesan untuk orangtua yang menebeng, permintaan untuk titip anak hendaknya disampaikan dengan sopan, tidak memaksa, ucapkan terima kasih, selalu jalin komunikasi yang baik, tidak hanya bertanya atau kontak saat membutuhkan saja. Suatu ketika saat kita bisa jangan pula menolak jika mau ditebengi.
“Intinya adalah take and give, suatu ketika kita membutuhkan bantuan orang lain, dan di saat tertentu kita mesti bersedia membantu orang lain. Nilai-nilai yang ditanamkan adalah saling menghargai, saling membantu, saling berterimakasih, sampaikan maaf karena sudah merepotkan serta belajar untuk bersikap asertif (berkata jujur) terhadap orang lain,” tegas ibu dua putri ini. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top