Inspirasi

Ratih: Berusaha adalah Kunci Sukses, Juara adalah Bonus

Tidak dapat dimungkiri Bali memang terkenal dengan pariwisata. Banyak turis lokal maupun turis asing berlomba-lomba ingin melihat pesona Bali. Pesona alami Bali itu tentu tidak cukup diketahui melalui internet ataupun brosur pariwisata. Maka dari itu, pemerintah mengupayakan berbagai cara agar pariwisata Bali mampu makin berkembang dan bermanfaat. Salah satu upaya yakni memilih duta pariwiasata. Banyak pemilihan duta pariwisata yang beradasarkan pada 3B brain, beauty, behavior. Sebut saja pemilihan Jegeg Bagus yang diadakan setiap tahun.  Kebanggaan menjadi duta pariwisata Bali tentu diarasakan oleh Putu Ratih Aristia Dewi atau akrab disapa Ratih.

Menjadi duta pariwisata tentu kebanggan semua orang. Terlebih menjadi duta pariwisata di Bali. Kebanggan itu tentu dirasakan oleh Ratih, ketika ia mampu menjadi Jegeg Bali 2016. “Awalnya saya dipaksa untuk ikut pemilihan ini. Lalu saya ikut saja, walau tidak yakin dan tidak percaya diri. Banyak orang-orang terdekat yang mendukung dan percaya saya pasti bisa. Tidak disangka, tahap pertama saya lolos, kemudian tahap kekedua, dan seterusnya hingga menjadi 10 finalis,” lanjutnya. Sebelum pemilihan Jegeg Bali, Ratih mengikuti seleksi pemilihan Jegeg Gianyar terlebih dahulu pada  Maret 2016.

Merasa kurang percaya diri, Ratih menjadi perlu untuk mempersiapkan segala hal. “Persiapan pertama dari belajar jalan, duduk, berdiri, belajar cara menjawab pertanyaan,” tutur siswi SMAN 1 Denpasar tersebut. Berkat persiapan yang cukup matang, Ratih berhasil mengalahkan 200 peserta yang mengikuti seleksi Jegeg Gianyar. “Susah itu untuk tampil percaya diri. Sehingga kita harus tetap stabil agar tidak terlihat kurang oleh peserta yang lain,” lanjutnya.

Ditanya tentang visi misi untuk Kabupaten Gianyar, dara kelahiran 21 Juni 1999 tersebut mengatakan bahwa Gianyar perlu mengatasi pola pikir masyarakat. “Masalah sampah, macet, dan pariwisata di Gianyar masih menjadi topik. Menurut saya, pola pikir masyarakat untuk sadar sampah perlu ditingkatkan. Salah satu solusi yakni buat waktu pembuangan sampah. Selain itu, macet. Macet di Ubud dapat diatasi dengan membuat lapangan parkir. Terakhir tentang pedagang dan pemandu wisata yang “nakal”. Mereka hendaknya perlu arahan agar tidak terkesan memaksakan pengunjung untuk membeli jasanya,” terang buah hati pasangan Ni Wayan Sutari dan Made Gede Sutiawan.

Ratih juga berbagi cerita tentang perasaan ketika dinobatkan sebagai Jegeg Gianyar 2016. “Perasaan ketika dapat selempang, saya berpikir harus banyak memperjuangkan Gianyar untuk tingkat provinsi. Selama 3 bulan saya lumayan tertekan. Tetapi banyak yang mendukung dan membimbing. Saya termasuk finalis termuda. Saya melihat pesaing itu hebat-hebat, saya sempat tidak percaya diri, tetapi saya harus berusaha dulu. Juara hanya bonus jika kita sudah berusaha,” tutur pemilik hobi menyanyi, main piano, dan modeling tersebut.

Setelah berhasil menjadi Jegeg Gianyar, Ratih pun lanjut pada tahap provinsi. Pemilihan Jegeg Bali 2016 pada Juli itu membutanya semakin harus bekerja keras. “Saya didukung penuh oleh orang tua, semeton Jegeg Bagus Gianyar, mereka banyak memberi saya motivasi, arahan, dan yakin saya bisa. Saya pun ingin mempersembahkan juara ini pada orang tua saya. Membuat mereka bangga adalah impian saya,” tutur Juara 1 Fashion Show IWAPI Gianyar 2015 itu.

MENANGIS DI PANGGUNG

Meskipun peserta lain sempat membuatnya tidak percaya diri, Ratih tetap tampil maksimal. “Saya merasa bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Bali. Bisa cerdas menghadapi masalah, membuat solusi, mampu menghadapi diri sendiri dan orang lain, kelakuan yang baik, kebiasaan yang baik dan yang penting untuk menjadi diri sendiri,” tukas Juara 1 Fashion Show Busana Pesta PKB Ke-35 2009 itu. Dengan kepercayaan diri yang sudah Ratih tanamkan, maka tidak salah jika sebutan Jegeg Bali 2016 menjadi identitasnya.

Ratih mengaku kunci utama adalah sabar menghadapi diri sendiri. Baginya, masalah pasti ada. Namun yang penting jangan menyerah terhadap masalah yang diberikan.  Juara 3 Speech Contest se-Kabupaten Gianyar 2012 itu juga menceritakan kendala-kendala yang ia hadapi selama mengikuti Jegeg Bali 2016. “Kendala itu agar kita tetap bagus dengan pasangan. Kita harus jaga sikap dengan panitia, kita harus tahu cara menghadapi perserta lain. Berusaha adalah kunci untuk sukses. Juara adalah bonus,” lanjutnya.

Usaha Ratih tidak saja ketika mengikuti ajang Jegeg Bali. Di balik suka tentu Ratih sempat merasakan duka. Ratih yang bercita-cita menjadi dokter itu mengaku sempat mengalami krisis percaya diri. “Duka saya, ketika saya mengidap sinus 3 tahun lalu. Suatu saat, setelah oprasi sinus, saya kembali mengikuti lomba nyanyi. Ketika menyanyi suara saya tidak keluar lagi. Saya malu di atas panggung. Saya pun menangis dan turun panggung. Dan mama bilang coba lagi, lagi, dan lagi. Walau setiap latihan saya nangis tetapi saya selalu mencoba. Syukur suara saya pulih enam bulan kemudian,” kenang Juara 3 Lomba Lagu Pop Solo se-Provinsi Bali FLS2N Provinsi Bali 2012 tersebut.

Juara 1 Fashion Show IWAPI Gianyar 2015 tersebut menegaskan bahwa segala pengalaman yang ia lalui sungguh berkesan. Baginya yang paling berkasan adalah proses. Proses dari semula tidak percaya diri menjadi percaya diri. “Jangan pernah berhenti berusaha. Kalau tidak optimis kita akan membawa pikiran negatif. Saya harus bisa, walaupun muda saya bisa memberikan yang terbaik,” begitulah prinsip yang dimiliki oleh Duta Gianyar dalam ajang PKB 5 tahun berturu-turut.

Saat ini Ratih ingin fokus belajar walau banyak tugas dan program yang harus dilaksanakan. Ratih yang tengah duduk di bangku XII MIA 6 itu mempersiapkan ujian akhir dengan sungguh-sungguh. Tentu Ratih kini juga membagi waktu untuk tugasnya menjalankan tugas sebagai Jegeg Bali 2016. “ Saya harus menghadiri beberapa acara sosial, selain itu kami akan mengadakan bakti sosial, kami akan menghadiri pesona budaya. Program kami yakni jalan sehat peduli lingkungan dan kerjasama dengan dinas lingkungan,” tuturnya mengakhiri percakapan. (Wulan)

To Top