Inspirasi

Leke Galleria: Step by Step

Namanya unik, Leke Galleria. Awalnya pengunjung stannya tidak tahu kalau itu adalah nama gadis cantik ini. Pengunjung itu bertanya  apakah yang tertera di kartu nama itu adalah brand produknya. Leke sambil tertawa pun menjelaskan bahwa itu adalah namanya.

“Hehhe iya orang suka keliru. Nama saya dikira brand produk kerajinan,” ucapnya sambil tertawa. Dan ia pun menyebut nama brand produk kerajinan ketak miliknya ‘Tao Natural Craft’. Menurut Leke, namanya diambil dari nama desa asalnya yakni Desa Bekele yang terletak di Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, NTB.

inspirasi2Bisnis kerajinan ketak dan rotan yang kini ditanganinya, ujar Leke, adalah warisan orangtuanya. Dulu, katanya, ayahnya termasuk salah satu yang ikut mengembangkan kerajinan tersebut dan menjadi pengusaha pertama di desanya yang berhasil mengekspor kerajinan ketak ke berbagai negara di era 90-an. Akhirnya, kerajinan ketak dan rotan pun berkembang di desanya.

“Desa kami Bekele merupakan sentra kerajinan ketat dan rotan di Lombok. Di desa kami ketak dan rotan melimpah. Orang dari mana-mana yang ingin mengembangkan bisnis kerajinan ketak dan rotan atau ingin menjual produk  kerajinan ini, datang ke desa kami,” ungkapnya.

Di desanya, lanjut Leke, warga desa seolah ‘membagi tugas’. Ada yang pengrajin, pengusaha, juga ada kelompok-kelompok yang khusus menyediakan bahan baku ketak dan rotan, juga ada kelompok yang memasarkan baik ke buyer dalam negeri maupun keluar negeri. “Jadi kami pengusaha tidak perlu susah-susah mencari bahan baku di hutan karena sudah ada yang menyediakan,” tutur sulung tiga bersaudara ini.

Leke sendiri mulai meneruskan usaha ayahnya pada tahun 2009 lalu, ketika itu ia masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Mataram. Namun waktu itu ia masih mendapat pendampingan dari sang ayah, setelah dirasakan sudah mampu barulah ayahnya melepaskan dia untuk mengelola secara penuh bisnis tersebut.

Hanya saja uniknya, ketika akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, Leke justru tidak memilih bidang ekonomi atau bisnis atau manajemen bidang yang akan dipelajarinya, melainkan bidang hukum. “Ya karena sejak dulu saya bercita –cita ingin menjadi notaris. Untuk itu kan saya harus kuliah S2 di Universitas Diponegoro  hukum mengambil  jurusankenotariatan. Saya sudah selesai S2, namun karena usia saya masih 23 tahun, saya belum bisa membuka kantor sendiri. Saya harus menunggu usia 27 tahun untuk membuka kantor notariat. Jadi sekarang saya menunggu sampai cukup umur untuk buka kantor,” jelasnya.

Nah sambil menunggu, ia pun membimbing adiknya Lakon Surya Putra untuk menekuni bisnis kerajinan ketak dan rotan. “Dulu saya dibimbing ayah, sekarang giliran saya membing adik, dia juga masih kuliah sekarang. Nanti ketika saya membuka kantor, dialah yang meneruskan. Tapi saya tetap akan mengawal bisnis ini, termasuk ikut terjun jika ada event-event besar,” paparnya.

PERSAINGAN KETAT DAN RAJIN INOVASI

Ia bercerita UKM kerajinan ketak dan rotan berkembang pesat di Lombok. Hal ini karena tingginya permintaan baik dari dalam negeri maupun luar biasa. Apalagi kerajinan ketak ini pun juga semakin berkembang menjadi aneka produk bukan hanya aksesoris rumah tangga tapi juga produk-produk fashion, di antaranya aneka model tas-tas unik. Desain-desain menarik, produk-produk unik, membuat kerajinan ketak makin banyak diminati. Itu sebabnya jumlah UKM yang ‘bermain’ di ‘lahan’ ini pun makin banyak.

Di satu situ, katakan, ini merupakan hal yang menggembirakan karena kerajinan ini diterima oleh berbagai lapisan masyarakat hingga konsumen luar negeri, namun di sisi lain, persaingan menjadi semakin ketat. Menurut Leke, menyikapi persaingan yang semakin ketat, tidak ada lain selain tetap mempertahankan mutu, juga rajin berinovasi.

“Saya juga ikut terlibat dalam pembuatan desain produk. Kadang ayah juga ikun bantu desain. Kadang saya sampai tidak tidur memikirkan desain produk  yang akan dibuat. Ya maklum kami bersaing ketat, jadi harus selalu menghadirkan produk-produk baru,” ujarnya.

Kadang sudah berpikir susah payah melahirkan produk baru, ketika barang ini laris maka banyak yang meniru. Tapi itu memang konsekuensinya jika barang di lihat orang lain. “Ya memang begitulah realitanya, mau bagaimana lagi. Ya tidak apa apa lah, dimana mana juga seperti itu,” tambahnya seraya menambahkan setiap kali pameran ia pasti membuat produk-produk baru.

Lalu dia pun menunjukkan tas kerajinan ketak yang bahannya full ketak. “Ini harganya Rp1 juta. Kalau full ketak memang pengerjaannya lebih sulit karena kecil, halus, dan ini pun memiliki motif songket Lombok. Pengerjaannya harus teliti dan hati-hati, memerlukan waktu relatif lama. Tas ini dikerjakan 1 bulan. Jadi saya kira harga segitu wajar lah karena memang tidak mudah. Beda dengan rotan, ya, karena ukurannya lebih besar, karena itu harganya pun di bawah harga produk yang full ketak,” jelasnya.

Dan ini, ujarnya, sambil menunjukkan replika bunga, biarpun kecil harganya lumayan lho karena proses pembuatannya rumit dan membutuhkan ketekunan tinggi. “Replika bunga ini disukai oleh turis mancanegara, khususnya dari Hong Kong,” tambahnya. Harga setangkai bunga ukuran kecil Rp135.000. “Model ini belum ada yang punya. Ini juga pengerjaannya rumit karena kecil. Mengayam daunnya satu-satu kemudian dirangkai,” tambahnya.

Dulu, tambahnya, ketika sang ayah berjaya dengan bisnis kerajinan ketak, mereka secara rutin setiap bulan mengekspor produk ke berbagai negara di Asia, Australia dan Eropa. Tahun 1997, ungkapnya, ayahnya sudah berpameran kerajinan ketak dan rotan hingga ke Spanyol,  Belanda, Perth Australia dan Singapura. Mereka juga memiliki buyer di Amerika.  “Jadi dulu itu bagus sekali, persaingan pun belum seperti sekarang,” tambah Leke.

Tapi kejayaan itu sempat terputuk  gara-gara peristiwa Bom Bali I tahun 2002. Baru mau   pulih, dihantam lagi dengan peristiwa Bom Bali II tahun 2005. Ini benar-benar luar biasa pengaruhnya bagi para UKM di Bali termasuk Lombok. Karena banyak dari mereka cukup mengandalkan pembelian dari buyer asing ataupun turis asing. “Namun gara-gara peristiwa bom itu, turis tidak ada yang berani datang, paling hanya satu-dua.  Kami cukup lama terpuruk, kemudian akhirnya bisa bangkit berkat bantuan program pemerintah. Akhirnya tahun 2007 kami bisa ekspor lagi antara lain ke Australia,” ujarnya.

Menjawab pertanyaan apakah situasi lemahnya perekonomian Indonesia, cukup berdampak pada omzet penjualan kerajinan ketak miliknya, Leke menjawab,  kalau dari sisi ekspor dia merasakan ada penurunan. Meskipun demikian ia masih tetap mendapat permintaan dari Jepang dan Malaysia, sekalipun tidak rutin setiap bulan.  Sedang untuk penjualan dalam negeri, menurutnya, sejauh ini tetap bagus.

Meski tidak ‘sedahsyat’ sang ayah dalam mengembangkan bisnis kerajinan ketak&rotan, Leke mengaku di tangannya ada sejumlah kemajuan yang dicatat. “Memang saya belum sehebat ayah tapi saya sudah lumayan, step by step lah. Alhamdulilah ada pemasukan. Saya juga mengembangkan pemasaran lewat media online sehingga jangkauannya bisa lebih luas,” ucapnya.-dianaruntu@cybertokoh.com

To Top