Sudut Pandang

Selipkan Humor agar Materi Sampai

Endrawati dan Liswiniarti

Menjadi seorang guru tentunya tak cukup bermodalkan penguasaan materi pembelajaran, namun juga perlu keterampilan berbahasa untuk mengomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal maupun non verbal. Hal ini diakui Dra. Liswiniarti, guru Bahasa Inggris di SMAN 7 Denpasar.

Dulu, ia pernah mengikuti pelatihan-pelatihan komunikasi maupun kepemimpinan saat menjadi mahasiswi. “Dulu saya ditempatkan di bidang pengabdian masyarakat, disana saya diberikan pelatihan-pelatihan, kemudian saya memberikan pelatihan-pelatihan dan penataran kepada mahasiswa. Kami dilatih untuk memberikan pelatihan. Jadi secara tidak langsung kami juga belajar berkomunikasi. Selanjutnya, mahasiswa diajak ke desa-desa untuk menyampaikan materi-materi tersebut,” ujar Liswiniarti yang juga sempat aktif sebagai ibu-ibu Bayangkari.

Ia mengaku, apa yang didapatnya dulu itu masih membekas dalam dirinya dan kini dipraktikkannya dalam proses belajar mengajar di sekolah. Tentunya ada beberapa trik dirancangnya agar materi sampai kepada anak didiknya. “Agar materi sampai dan tidak membosankan, biasanya saya selipkan humor, istilahnya ice break, dan memakai bahasa yang mudah dipahami anak,” ujarnya.

Untuk membangkitkan rasa ingin tahu mereka, secara teori menggunakan alat peraga, dan IT (power point), selain mendengar anak-anak juga melihat. Karena itu, guru harus bersuara keras dan jelas agar didengar, intonasi suara divariasikan, dan diselingi dengan latihan-latihan. Apalagi sekarang pembelajaran dipusatkan pada siswa (student center), siswa lebih aktif dan guru hanya sebagai fasilitator. Trik lain yang kerap diterapkannya adalah mengajak anak didik menyanyikan lagu barat, baru kemudian dilanjutkan dengan mengintepretasikan lagu tersebut.

Karena itu, ia mengatakan pelatihan public speaking ini penting, apalagi bagi seorang guru. “Karena, tak semua guru juga pintar berkomunikasi di depan siswa. Ini menurut cerita anak-anak yang kadang mengeluh tidak enak diajar guru A, dan ini pasti karena cara komunikasinya yang kurang bagus,” ucapnya.

 

Nyanyi Dulu Sebelum Masuk ke Materi

Hal senada disampaikan Dra. Ni Ketut Endrawati. Meski guru Bahasa Inggris yang mengajar di kelas XII SMAN 7 Denpasar ini mengaku tak pernah ikut pelatihan public speaking, namun ia setuju bahwa keterampilan komunikasi sangat penting bagi semua orang di semua lini, termasuk guru.

Endra sangat merasakannya saat dulu menggerakkan ibu-ibu PKK di kompleks perumahannya. Sebagai Ketua PKK Padang Galeria di Padang Sumbu Kaja, Padangsambyan Kelod saat itu, tentunya keterampilan komunikasi diperlukan untuk bisa mengomunikasikan program-program dan meyakinkan para ibu PKK untuk mau bergerak.

Demikian halnya ketika berdiri di depan kelas mengahadapi anak-anak. Guru harus bisa membaca kondisi audience agar apa yang disampaikan benar-benar sampai dengan baik. “Ada kontak mata, ekpresi, dan volume suara yang jelas yang berhubungan dengan apa yang akan kita bicarakan,” ujarnya.

Di kelas XII khususnya, anak-anak dikatakannya lebih serius belajar karena akan melangkah ke jenjang perguruan tinggi. Di tingkat ini mereka tak hanya sekadar mengejar nilai tapi mereka juga ingin meningkatkan keterampilan berbahasanya. “Jika disini basic kurang kuat harus mengulang lagi. Dalam proses pembelajaran, paling kami hanya bisa mengelompokkan (klasikal) anak, mana yang kemampuannya rendah, sedang atau tinggi. Berbeda denga di luar negeri yang sistem pengajarannya individual,” ucapnya.

Tak berbeda jauh dengan Liswiniarti, agar anak didik fokus, Endrawati biasanya mengajak anak didik berdoa dulu. Sebelum masuk ke materi, anak diajak menyanyikan lagu yang mereka suka atau yang lagi hits. “Setelah terbuka matanya baru ke materi,” ucapnya.

Terkait pelatihan public speaking, Endrawati sepakat semua orang memerlukannya. “Makin terampil orang berbicara, akan lebih menarik sehingga tersampaikan dengan baik apa yang ingin disampaikan. Dalam setiap bahasa pasti ada  listening, speaking, reading, writing. Public Speaking adalah keterampilan berbicara, tapi semua itu tak bisa dipisahkan,” pungkas Endrawati yang kerap menjadi pembina dan juri debat Bahasa Inggris di tingkat kota hingga nasional ini. –inten.indrawati@cybertokoh.com.

To Top