Sudut Pandang

Lembut belum tentu Lemah

Tidak semua orang memiliki kepercayaan diri untuk tampil di depan khalayak, dan tidak dimungkiri juga bahwa setiap orang harus memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi. Apalagi jika profesi atau pekerjaan yang menuntut seseorang untuk  berinteraksi dengan orang banyak. Hal ini disampaikan oleh Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Buleleng Luh Hesti Ranitasari.

luh-hesti-ranitasari1

Luh Hesti Ranitasari

Menurutnya, sebagai seorang wakil rakyat sangat wajib memiliki kemampuan public speaking yang baik dalam berkomunikasi dengan masyarakat (audiens). “Secara sederhana saya mengartikan public speaking itu berbicara di depan publik atau khalayak banyak. Penting sekali karena tidak mungkin saya berbicara tanpa menyiapkan struktur kata-kata dan kalimat terlebih dahulu,” paparnya.

Perempuan kelahiran desa Tamblang 8 Maret 1985 tersebut mengatakan, masyarakat sebagai pendengar memiliki latar belakang yang berbeda, sehingga perlu bagi public speaker untuk menentukan topik yang dibicarakan. Ia menambahkan, public speaker juga harus mampu menempatkan situasi dan kondisi dirinya berbicara.  “Saya sering turun ke masyarakat jadi bahasa yang digunakan sederhana saja. Begitu juga ketika rapat dengan anggota dewan yang lain, penggunaan bahasa agak berat,” jelas Ketua HIPMI Buleleng tersebut.

Perempuan yang akrab disapa Rani ini juga mengungkapkan bahwa dalam public speaking tidak hanya menuntut kemampuan berbicara saja melainkan juga kemampuan untuk memengaruhi para audiens. “Tidak hanya menyusun kata-kata, tetapi juga harus membuat pendengar tertarik dengan apa yang dibicarakan,” tambahnya.

Rani menyebut bahwa ia mempelajari public speaking dengan masuk disalah satu sekolah kepribadian di Bali. Pentingnya kemampuan tersebut dalam pekerjaanya saat ini membuatnya selalu belajar berkomunikasi yang baik di depan banyak orang. “Seorang wakil rakyat salah satu modal utamanya adalah kemampuan berbicara. Saya harus pelajari itu karena pergaulan saya tidak hanya ke atas atau ke bawah sehingga saya harus fleksibel,” jelasnya. Selain belajar kemampuan public speaking di sekolah, ia juga tidak henti-hentinya membaca. Dengan membaca ia dapat memperbarui informasi yang akan berimbas pada meningkatnya kepercayaan diri. Hal ini tidak terlepas dari keinginannya untuk memperbaiki kualitas diri.

Ketua Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) tersebut juga mengatakan jika dirinya sedang fokus membangun personal brand di masyarakat. Sebab ia yakin jika dirinya memiliki personal brand yang baik maka kariernya akan mampu bertahan. “Ketika masyarakat mampu membedakan saya dengan orang lain itu artinya saya telah membentuk brand image dan itu bisa dibentuk dari bahasa yang digunakan, bahasa tubuh, dan wawasan yang dimiliki,” paparnya. Menurut Wakil Ketua Lemkari Buleleng ini bahasa dan nada bicara yang digunakan sangat berpengaruh dalam membentuk personal brand seseorang. “Berbicara lembut belum tentu lemah, berbicara keras belum tentu galak,” pungkasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

 

To Top