Kolom

BOB DYLAN

Sudah larut malam, Ami menggedor pintu. Amat gelagapan bangun. Istrinya menyusul.
“Ada apa Ami?”
Ami diiringi suaminya suaminya menggendong Kadek yang sudah tertidur.
“Kenapa Kadek? Sakit?”
Ami tersenyum lebar dan mengangkat dua bungkus mie rebus.
“Masih hangat! Ini kesukaan Bapak!”
“Tapi Kadek sakit?”
“Tidak. Dia kekenyangan. Kami bertiga baru saja pesta makan bakmi tadi merayakan Bob Dylan!”
“Kenapa?”
” Dapat hadiah Nobel Sastra 2016!!”
“Siapa dia?”
Ami langsung menggiring orang tuanya ke meja makan. Suaminya menidurkan Kadek di kursi panjang. Anak itu terbangun, lalu diusap-usap agar meneruskan tidur.
“Tapi Bapak tidak lapar Ami.”
“Tidak apa! Makan tidak harus lapar dulu. Ini merayakan Bob Dylan!”
“Kenapa?”
Masak Bapak tidak tahu?”
“Tidak!”
Ami kelihatan kecewa. Bu Amat cepat memotong sambil makan.
“Ibu tahu Pak Bob!”
“Siapa dia?”
“Itu yang dapat hadiah Nobel Sastra tahun ini.”
Amat tercengang.
“Kan tadi ada tulisannya di televisi!”
“Ya, tapi kenapa mesti kita rayakan?”
Ami menjawab bernafsu seakan-akan dia yang ketiban Nobel.
“Sebab dia itu bukan pengarang tapi penyanyi. Tapi lirik-lirik lagu ciptaannya diakui dan dipuji sebagai puisi hebat.  Dia menyuarakan kemanusiaan, perdamaian dan menentang kekerasan. Dalam musik dia seperti seorang nabi. Pengaruhnya merebak ke seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Seperti Iwan Fals juga bagian dari riaknya. Dan ini untuk pertama kalinya hadiah Nobel Sastra diberikan kepasa penyanyi yang pengarang lagu meskipun tak pernah menerbitkan novel atau kumpulan puisi!”
Bu Amat bertepuk tangan dan menghabiskan mienya dengan bersemangat. Amat terpaksa mulai ikut menyedok mie dengan perasaan kesal.
Setelah Ami sekeluarga pulang, baru Amat menumpahkan rasa kesalnya.
“Ibu sejak kapan tahu Bob Dylan?”
“Baru tadi.”
“Kenapa tadi sampai tepuk tangan?”
“Ya supaya Ami senang!”
“Ibu tahu siapa Bob Dylan?”
“Tidak.”
“Ibu tahu dia penyanyi homo?”
Bu Amat terperanjat.
Ah masak?”
“Ya, kata media, begitu!”
“Kenapa dapat hadiah Nobel?”
“Karena komite pemberian hadiah Nobel menganggap dia melakukan pembaruan dalam penulisan puisi seperti tradisi yang pernah dilakukan penyair Homerus di masa Yunani kuno. Protes-protes di dalam lirik lagunya dipujikan semua orang, ya seperti kata Ami tadi, dalam musik jenisnya dia seakan-akan seorang nabi, karena pengaruhnya ke seluruh dunia.”
“Kalau begitu, Bapak setuju dia dapat Nobel?”
Amat tak menjawab.
“Setuju tidak?”
Amat tak menjawab.
“Kalau setuju kenapa tadi  marah-marah?”
Amat menjawab lirih:
“Bagaimana tidak marah, kalau anak-anak sekolah kita mau dihajar ‘full day schooling’, kalau si Muklis gembel mengantongi 90 juta, kalau si Dimas Kanjeng ngaku bisa menggandakan uang miliaran  tapi masih minta uang mahar sampai 200 miliar, dan ribuan pengikutnya kok mau, lalu … .”
Bu Amat tidur sementara Amat terus sambat.

To Top