Sehat

Minimal Tiga Kali Seminggu

Program  pemberian makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS)  memiliki dampak luas,   tidak saja pada aspek kesehatan, gizi, dan pendidikan masa kini, namun secara langsung  juga mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.  Demikian disampaikan ahli gizi,  Ida Ayu Eka Padmiari, M.Kes.  “Anak sekolah merupakan sasaran strategis dalam perbaikan gizi masyarakat.  Anak sekolah sedang mengalami pertumbuhan secara fisik dan mental yang sangat diperlukan guna menunjang kehidupannya di masa mendatang. Anak sekolah memerlukan kondisi tubuh yang optimal dan bugar sehingga memerlukan status gizi yang baik,” ujar dosen Poltekkes Denpasar ini.

Menurutnya,  anak sekolah  juga dapat dijadikan perantara dalam penyuluhan gizi pada keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Program PMTAS diluncurkan dalam rangka percepatan pencapaian tujuan pembangunan nasional yang terkait dengan pengentasan gizi buruk dan pengentasan  masyarakat dari kemiskinan.

Sasaran PMT-AS adalah peserta didik, orang tua peserta didik, guru, dan komite sekolah. Ruang lingkup PMT-AS meliputi pemberian makanan tambahan kepada peserta didik dan kegiatan pendukung lainnya. Kegiatan pendukung lainnya  meliputi penganekaragaman pangan, pendidikan gizi dan kesehatan, pemanfaatan pekarangan rumah dan sekolah, pemberian obat cacing bagi peserta didik, dan pola hidup sehat dan pendidikan.

Ia mengatakan, makanan tambahan   dapat berupa jajanan atau kudapan yang berbahan pangan lokal atau hasil pertanian setempat dan  penyediaan air minum. Makanan tambahan  dapat juga diberikan berupa makanan lengkap.

Padmiari menegaskan, makanan tambahan  harus memenuhi persyaratan yakni,  beragam, bergizi seimbang, dan aman mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Makanan tambahan diberikan paling sedikit tiga  kali seminggu selama kegiatan belajar mengajar dalam  setahun. Pemberian makanan tambahan dilakukan pada waktu istirahat pertama.

Ia menilai, penganekaragaman pangan  yang diberikan sangat perlu,  dan proses pemilihan pangan yang dikonsumsi tidak tergantung kepada satu jenis pangan. Selain pemberian makanan tambahan, pendidikan gizi dan kesehatan dapat dilaksanakan bersamaan.  Misalnya, pemanfaatan pekarangan rumah dan sekolah, termasuk pemberian obat cacing bagi peserta didik dilaksanakan satu kali dalam jangka waktu enam bulan. “Pola hidup sehat dan pendidikan merupakan cara mendidik dan membiasakan anak berprilaku sehat,” ujarnya. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

 

To Top