Sehat

Pilih Jajanan Sekolah yang Sehat

Jajanan anak sekolah adalah makanan dan minuman yang dijual sebagai makanan siap santap di lingkungan sekolah. Seringkali, jajanan yang dijual di sekolah tidak sehat dan tidak aman. Bagaimana sebaiknya para orangtua membekali diri untuk mengenal jajanan yang sehat.

Putu Sri Sugiani, M.Kes.

Putu Sri Sugiani, M.Kes.

Menurut dosen Poltekkes Denpasar, Pande Putu Sri Sugiani, M.Kes.,  jenis jajanan sekolah, makanan jajanan yang berbentuk panganan seperti kue-kue kecil, pisang goreng, kue putu, kue bugis, dan sebagainya. Selain itu, ada juga, makanan jajanan yang diporsikan menu utama seperti mi bakso, nasi goreng, mi goreng, mi rebus, dan sebagainya. Ada juga, makanan jajanan yang berbentuk minuman seperti es minuman seperti es krim, es campur, jus buah, dan sebagainya.

Kebiasaan makanan di Indonesia,  makanan utama dua kali atau tiga kali dan disajikan  jajanan diantara waktu makan.  “Jajanan disajikan antara waktu makan utama sebagai pengganti zat gizi saat beraktivitas  sebelumnya dengan kandungan kalori 10-15% (200 kalori) dari total  kebutuhan serta aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Ia menambahkan, makanan selingan  diantara makan utama dianjurkan pada anak karena dua sampai tiga jam setelah makan, zat gizi di dalam makanan akan berkurang akibat pengurangan aktivitas tubuh. “Sebagian besar waktu anak ada di sekolah, maka makanan jajanan sangat berkontribusi dalam menjaga kebutuhan gizi selama anak beraktivitas di sekolah,” ucapnya.

Menurut Sugiani, dampak negatif jajanan sekolah;  nafsu makan  menurun, makanan yang tidak higienes akan menimbulkan berbagai penyakit,  menyebabkan obesitas pada anak, kurang gizi karena kandungan gizi pada jajanan belum tentu terjamin, dan menyebabkan gangguan pada kesehatan gigi. “Pemberian makanan anak sekolah yang sehat dan aman adalah jajanan  dengan nilai gizi harus berkisar 200-300 kalori dan protein 5 s.d. 8 gram,” ujarnya.

Ia mengatakan, sebaiknya jajanan  menggunakan bahan makanan setempat diperkaya protein nabati/hewani, serta dipersiapkan, dimasak, dan dikemas dengan baik. Jajanan juga aman memenuhi syarat kebersihan serta kesehatan bebas dari penggunaan bahan makanan berbahaya.

Keamanan pangan adalah usaha untuk menjaga makanan agar aman dikonsumsi. “Secara fisik makanan dengan sifatnya,  merupakan tempat yang baik untuk tumbuhnya bakteri. Disamping itu,  penggunaan bahan-bahan yang tidak alami dapat menyebabkan makanan terkontaminasi sehingga berbahaya untuk dikonsumsi,” ujarnya.  Selain itu, keamanan pangan akan  menjamin tersedianya makanan yang sehat untuk mencegah konsumen dari penyakit, menjaga kemurnian dan mencegah pemalsuan makanan, dan mengurangi pemborosan makanan.

Ia menegaskan, makanan sehat bagi anak merupakan  suatu kewajiban agar anak tumbuh-kembang dengan maksimal. Sayangnya, kadang anak sangat sulit makan sehat sesuai anjuran.  “Anak-anak suka memilih dan membeli makanan tidak sehat, baik minuman maupun makanan ringan.  Anak-anak mengutamakan rasa dan penampilan dalam memilih makanan,” kata Sri Sugiaini.

Menurutnya, tumbuh-kembang anak dipengaruhi oleh pola konsumsinya. Makan sehat akan memberikan efek positif terhadap tumbuhkembangnya. Orangtua sering memperhatikan menu makanan dan minuman utama anak, namun, acapkali melalaikan kualitas jajanan anak dimana sering jajanan anak mengandung zat aditif atau bahan tambahan makanan yang tidak aman bagi anak.

Zat aditif merupakan bahan yang ditambahkan dalam makanan, yang bertujuan untuk meningkatkan citarasa, menambah ketahanan, meningkatkan efek warna menjadi menarik sehingga meningkatkan nilai dari produk pangan.

Ia menyatakan, memberi anak makanan yang mengandung zat aditif berbahaya sama dengan meracuni anak. Efek yang muncul dalam jangka pendek seperti gangguan pada saluran pencernaan, sakit kepala, gejala alergi, bahan menjadi lemas. Sedangkan jangka panjang, penurunan konsentrasi anak, perubahan sikap, menurunkan sistem imun tubuh,  menghambat perkembangan otak serta berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, kardiovaskuler, dan  hipertensi.

Jenis-jenis zat aditif seperti pewarna buatan, antara lain rhodamin B, metanil yellow. Perasa vitsin/MSG, pengawet seperti boraks, formalin, dan pemanis sakarin dan siklamat.

Ia menyarankan, penting mengetahui jajanan berbahaya, dan mengenali  makanan dan minuman yang berbahaya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan dan diperhatikan, warna mencolok dan menarik, misalnya saus yang membekas di tangan mungkin memakai  warna tekstil yang menyebabkan kanker. Melihat kekenyalan dari makanan yang dikonsumsi, misalnya bakso seperti karet berarti mengandung boraks, makana terlalu keras misalnya tahu yang keras dan kenyal mungkin mengandung formalin. Minuman yang encer tapi sangat manis menunjukkan penggunaan sakarin atau siklamat yang berlebihan. Rasa gurih makanan ringan menunjukkan penggunaan penyedap MSG. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

To Top