Sudut Pandang

Berjuang Melalui Media Sosial

I Made Pageh dan Made Teja Artha Sakti Sukma

 Sumpah Pemuda adalah salah satu tonggak sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Ada tiga hal penting dalam Sumpah Pemuda, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Sesuai namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda. Mereka kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme pemuda Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Buleleng, Made Teja Artha Sakti Sukma.

Menurutnya, banyak hal yang melandasi pemuda untuk mendeklarasikan sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Salah satunya bertujuan untuk bersatunya rakyat untuk mencapai kemerdekaan. Semangat persatuan para pemuda dulu harus diikuti semangat juang pemuda masa kini. “Caranya ya, mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif dan berguna,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Teja ini juga mengatakan sebagai generasi muda seharusnya  meneruskan kembali perjuangan para pemuda agar tidak kehilangan identitas sebagai pemuda yang cerdas, kritis, kreatif dan inovatif. Wujud nyata yang harus dilakukan pemuda adalah merealisasikan dharma agama dan dharma negara. “Misalkan saja melakukan pengawasan terhadap pemerintah agar roda pemerintahan berjalan dengan baik dan bersih,” ucapnya.

Selain itu, pemuda sebagai agen perubahan juga harus mampu menjadi pembela dan memperjuangkan keadilan. Dalam era perkembangan teknologi seperti ini, salah satu bentuk perjuangan yang dapat dilakukan oleh pemuda adalah melalui sosial media. Media sosial saat ini sebagai penunjang untuk dapat menyuarakan aspirasi melalui media sosial dari FB, twitter, blog dan lain sebagainya. “Itu menunjukkan hal positif yang bisa kita lakukan selain turun ke jalan seperti era 1998-an dahulu, di mana pemuda atau mahasiswa Indonesia menyuarakan aspirasinya di jalanan,” paparnya.

Pria kelahiran 21 Desember 1993 tersebut itu mengaku tidak sedikit juga pemuda yang memanfaatkan sosial media secara negatif. Pemuda yang awalnya diharapkan sebagai agen perubahan telah terombang-ambing dalam krisis identitas tanpa tahu arah dan tujuan. Sudah sepantasnya, seorang pemuda menggali potensi diri untuk mewujudkan cita-cita bangsa dari sekarang. “Kemajuan bangsa bukan hanya dilihat dari pembangunan saja, melainkan dari perubahan sosial yang lebih baik dari kesenjangan yang terjadi di masyarakat,” pungkas mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Elektro Undiksha tersebut.

 

DIGITALISASI MENGUATKAN NARASI

Sementara itu Ketua Pusat Kajian Budaya Undiksha Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum. mengatakan sejarah begitu penting bagi sebuah bangsa dan negara tanpa bermaksud mengabaikan arti pentingnya masa depan. Kesadaran akan sejarah hanya dimiliki oleh manusia yang berbudaya karena hanya manusia yang berbudayalah yang dapat  mengenal waktu. Ketika berbicara sejarah berarti berbicara tentang hal yang telah berlalu namun ketika tidak dibarengi dengan bukti autentik tentu akan hanya menjadi sebuah opini yang tidak didukung oleh fakta.

Terkait dengan waktu dan peristiwa yang terjadi di masa lalu, Pageh sapaan akrabnya mengaku seorang guru harus memiliki bukti sejarah. “Agar dalam bercerita tidak sekedar bercerita seperti fiksi,” jelasnya. Cerita sejarah yang diharapkan adalah cerita yang berfakta dan penuh dengan kesadaran waktu. “Sehingga anak-anak bisa mengerti bahwa bangsa ini telah mengalami perkembangan secara dinamik mengikuti lintas waktu hingga sampai saat ini,” imbuhnya.

Perkembangan zaman yang diikuti oleh perkembangan elektronik seharusnya mampu meningkatkan kesadaran sejarah masyarakat utama anak-anak. “Di zaman tehknologi bahkan serba materialistis, tidak seharusnya jika anak-anak hanya disuguhkan bacaan tentang sejarah,” ungkapnya. Dosen Pendidikan Sejarah FHIS Undiksha tersebut juga mengungkapkan perlu dilakukannya digitalisasi untuk menarik minat anak-anak mempelajari sejarah. Hal kecil yang pernah ia lakukan sebagai seorang dosen sejarah adalah membuat film dokumenter mengenai Puputan Jagaraga bersama mahasiswa pada tahun 2002. Ini merupakan salah satu cara untuk menyadarkan anak-anak bahwa sejarah bukanlah cerita masa lalu yang tidak bisa diaktulisasi dimasa kini.

Pria kelahiran 31 Desember 1962 tersebut menjelaskan jika perang Jagaraga telah terjadi menjelang abad XX sehingga tentu tidak bisa mencari peristiwa persis pada waktu itu. Oleh karena itu, agar peristiwa tersebut dapat disaksikan kembali maka disajikan dalam bentuk film dokumenter yang berdurasi pendek. Untuk dapat menyajikan kejadian sejarah dalam bentuk video tentu tidak terlepas dari jejak dokumen tulis yang ada. “Mahasiswa mencoba gambarkan dengan cat air kemudian dituangkan dalam animasi sederhana yang menggambarkan sari pati dari peristiwa sejarah tersebut,” jelasnya.

Melalui cara digitalisasi itu, Pageh meyakini dapat mengaktualisasi kembali nilai-nilai kepahlawanan. “Kalau hanya ngomong saja akan lebih menarik mendengarkan cerita yang lain,” tuturnya. Meskipun dengan digitalisasi yang sederhana, namun ia percaya dengan begitu dapat menguatkan narasi yang disampaikan. “Narasi yang diikuti dengan bukti-bukti akan menguatkan ingatan anak-anak mengenai suatu peristiwa,”pungkasnya. –wiwinmeliana22@cybertokoh.com

To Top