Kreasi

Wayang Kulit Bali Akan Berjaya Kembali

Sekelompok mahasiswa dari Amerika Serikat mengunjungi rumah seorang dalang wayang kulit di Desa Sukawati, Gianyar, awal Oktober lalu. Lima belas orang mahasiswa jurusan sejarah dan antropologi The College of Wooster, Ohio tersebut, siang itu,  menimba pengetahuan budaya melalui pengamatannya terhadap teater boneka pipih dua dimensi yang dikenal dengan wayang, salah satu kesenian Indonesia yang telah diakui Unesco PBB sebagai warisan budaya agung dunia. Si pemilik rumah, dalang sepuh Sukawati, I Wayan Nartha (74), menyambut dengan senang hati serta dengan penuh kesungguhan meladeni anak-anak muda Negeri Adidaya itu.

Bertempat di bale dangin,  Dalang Wayan Nartha memaparkan segala sesuatu yang berkaitan dengan wayang kulit Bali.  Para mahasiswa AS itu duduk bersila dan dengan tekun menyimak tuturan Dalang Nartha. Diawali dengan penjabaran sumber cerita wayang kulit Bali yaitu epos Ramayana dan Mahabharata. Dilanjutkan kemudian dengan memperkenalkan watak tokoh-tokoh utama cerita. Dicontohkan oleh Dalang Nartha dalam wayang kulit dengan lakon dari epos Mahabharata yaitu tokoh-tokoh protagonis Pandawa yang terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang bermusuhan dengan Duryadana, Drona, Karna, Sakuni dan seratus Korawa lainnyanya sebagai tokoh-tokoh antagonis.

Mahasiswa muda-mudi Negeri Paman Sam itu mencatat dengan serius tutur kata Dalang Nartha. Dijelaskan oleh dalang yang pernah tampil mendalang di Kanada, Jepang, Jerman, dan Australia itu, bahwa dalam wayang kulit Bali ada empat tokoh punakawan yang berfungsi sebagai penerjemah ucapan tokoh-tokoh utama yang menggunakan bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Bali, yaitu Malen dan Merdah di pihak protagonis dan Delem dan Sangut di pihak antagonis.  Ketika Dalang Nartha mencontohkan warna suara dari para punakawan yang berbeda-beda, para mahasiswa itu terkesima dan tampak surprise. Mahasiswi Hope Nelson terperangah kagum dengan kemampuan menyajikan karakter suara yang berbeda-beda oleh seorang dalang Bali itu.

Hope Nelson dan kawan-kawan kian terpana ketika Dalang Nartha, menampilkan sekilas pagelaran wayang saat adegan peperangan. Sembari memainkan beberapa tokoh wayang,  berdialog, menembang, ditimpali dengan aksen-aksen hentakan suara keropak (kotak wayang) dengan menggunakan cepala yang dijepit di jemari kaki kanan, membuat para mahasiswa itu heran. “Wao…wao complicated,” seru mereka hampir serempak. Di akhir ceramah dan demontrasinya, Dalang Nartha juga menabuh gender wayang, memainkan gending-gending yang biasanya dipakai mengiringi pertunjukan wayang kulit Bali. Para mahasiswa AS itu bertepuk tangan ceria mengagumi keserbabisaan seorang dalang. “Wayang Bali berfungsi dalam ritual keagamaan dan sebagai seni tontonan,” pungkas  Nartha.

Banjar Babakan di Desa Sukawati dikenal sebagai kantong seni pertunjukan wayang kulit Bali. Selain Wayan Nartha, sejumlah dalang di sana juga sering didatangi orang-orang asing untuk belajar ngewayang, menabuh gender wayang, membuat wayang, dan tidak sedikit pula yang menyambangi desa ini melakukan penelitian tentang seni pentas wayang kulit Bali.  Dalang I Wayan Wija, I Made Juanda, dan I Wayan Mardika dengan suka cita telah membagikan keterampilan dan pengetahuannya kepada peminat wayang atau peneliti seni dari mancanegara. Maria, seorang wanita pekerja teater dari San Francisco, Amerika, yang dibina Dalang Nartha sejak tahun 1987, kini sering mementaskan wayang kulit Bali di negerinya. Minagawa, seorang profesor musik dari Tokyo, Jepang, yang belajar menabuh gender di Sukawati sejak tahun 1983 pada I Wayan Loceng (almarhum), kini telah mengajarkan gender wayang  di Negeri Sakura.

Eksistensi wayang kulit Bali di Desa Sukawati, kini memang masih melegakan, diwariskan dari generasi ke generasi. Demikian pula popularitas Wayang Cenk Blonk-nya  I Wayan Nardayana kini memang sedang berkibar di tengah masyarakat Bali. Namun, bila dicermati, kini denyut pagelaran wayang kulit secara umum di Bali sungguh memprihatinkan. Di bawah tahun 1980-an geliat pementasan wayang masih sumringah. Dalang-dalang terkenal di masing-masing kabupaten atau desa sering diundang pentas oleh masyarakat.  Sajian wayang kulit menjadi hiburan favorit, tontonan yang memberikan tuntunan.

Pagelaran wayang kulit sebagai tontonan nan menuntun sungguh disadari oleh Presiden I RI, Bung Karno. Pada tahun 1963, presiden berdarah Bali itu secara khusus mengundang seorang dalang masyur Sukawati, I Nyoman Granyam, ke Istana Tampaksiring untuk mementaskan wayang dengan lakon Sutasoma. Ternyata tujuan Bung Karno menonton wayang kulit dengan lakon Sutasoma itu adalah untuk memahami lebih dalam tentang sasanti bhineka tunggal ika sebagai pemersatu kemajemukan Indonesia, yang dalam lakon itu menjadi filsafat perdamaian tanpa kekerasan.

Namun kini, di tengah “kekerasan” kehidupan, sungguh tak gampang memergoki pertunjukan wayang kulit, di desa sekali pun. Jika ada, karismanya sudah melorot dibawah hegemoni televisi yang sudah merasuk menjadi tontonan rumahan. Si cantik Hope Nelson dan kawan-kawannya mungkin belum tahu bahwa wayang kulit yang diamatinya sedang terpuruk, karena Dalang Nartha tentu tak elok mengeluhkannya. Kendati demikian, optimisme terhadap masa depan wayang kulit Bali rupanya masih memercik. Seorang dalang muda Sukawati, Bagus Baratanatya (27 tahun), Juara I Dalang Remaja Pesta Kesenian Bali (PKB) 2013,  berungkap bahwa wayang kulit masih memiliki pontensi kuat untuk kembali berjaya. “Sepanjang nilai estetiknya diasah kreatif dan dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman tentu ia akan berbinar cemerlang,” ujar dosen ISI Denpasar yang pernah mempesona masyarakat Korea Selatan, ketika berkesempatan melawat mementaskan wayang kulit Bali di negeri itu pada tahun 2014 dalam sebuah forum festival seni budaya Asia.

         Kadek Suartaya

To Top