Life Story

Suamiku Jadi Suami Keempat

Ketika sepuluh tahun yang lalu memutuskan menikah dengan kekasihnya yang seorang aparat penegak hukum, Marina (38), begitu bahagia. Selain karena cinta yang telah ia jalin dengan kekasihnya itu selama empat tahun sebelumnya, ia juga gembira mendapatkan suami seorang penegak hukum. “Saya merasa aman hidup bersamanya. Sebagai penegak hukum ia tidak mungkin dengan mudah melanggar hukum karena tentu ia paham benar konsekuensinya bagi pelanggar hukum,” ungkap Marina.

Pernikahan meriah menjadi awal kebahagiaan Marina. Manisnya madu berumah tangga begitu membahagiakannya. Bertahun-tahun ia mengecap indahnya kehidupan berumah tangga sampai ia memiliki tiga orang anak. Ia begitu bangga dengan pakaian organisasi istri para penegak hukum. Selain ia bekerja, ia juga mendukung karier suaminya dengan aktif dalam organisasi istri penegak hukum di mana suaminya bertugas.

Sampai pada tahun keempat pernikahannya, suaminya pindah tugas ke Nusa Tenggara Barat. Begitu mendapat kabar suaminya pindah setelah menyelesaikan pendidikannya, hati Marina sempat berdegup. Ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskannya kala itu. Namun, ia tidak ingin larut dalam kekhawatiran, tidak pula ingin terlalu memikirkannya meski ia sedikit resah tapi ia abaikan perasaan itu. “Saya hanya diam sejak mendapat kabar itu,” ujarnya.

Suaminya sendiri sempat bertanya kenapa ia terlihat murung belakangan itu. Ia hanya menjawab singkat, ia baik-baik saja. Sebelum kepindahan suaminya ke NTB, mereka pun berdiskusi. “Saya tidak mungkin ikut suami karena pekerjaan saya tidak bisa pindah. Kantor saya hanya ada di Pulau Jawa dan tidak ada di NTB. Saya juga memikirkan sekolah anak-anak. Jadi kami memutuskan sementara saya tidak ikut pindah sembari berpikir ulang,” ungkap Marina.

Ia dan anak-anaknya ikut mengantar suaminya pindah ke NTB. Setelah semua beres, mencari kontrakan dan mengatur rumah dan berkenalan dengan ibu-ibu di organisasi tempat suaminya bertugas, Mariana dan anak-anaknya kembali ke Pulau Jawa. Masih jelas diingatnya ketika mata suaminya itu merah menahan sedih saat melambaikan tangan di bandara ketika ia meninggalkannya. Tidak lama setelah itu, suaminya kemudian mendapatkan jabatan yang bagus. “Sempat terpikir oleh saya untuk mendampingi suami, tapi kantor berat melepas saya karena keahlian saya yang masih belum ada penggantinya,” katanya.

Marina tetap tidak bisa pindah ke NTB. Mereka akhirnya hidup terpisah. Marina tetap mengunjungi suaminya dua bulan sekali ke NTB. Itu berlangsung selama setahun. Karena kesibukan Marina dan suaminya mereka kemudian jarang punya waktu saling berkunjung. “Kalau sebelumnya dua bulan sekali saya datang, setahun kemudian saya hanya bisa datang tiga bulan sekali,” katanya.

Rupanya masalah ini menjadi pemicu suaminya tidak setia. Tanda-tanda bahwa suaminya itu memiliki wanita idaman lain, sudah terbaca oleh Marina sejak kunjungan terakhir Marina ke NTB di tahun 2010. Saat ia mengunjungi suaminya, ia melihat tingkah suaminya mulai lain. “Dia banyak alasan sampai selalu pulang malam ke kontrakan. Padahal saya hanya sekali-sekali saja datang. Saya maklum kalau ia memiliki jabatan kemudian pulangnya selalu malam namun saya sudah mulai curiga ada hal lain,” katanya. Selain itu banyak alasan lain yang membuat Marina patut menduga suaminya sudah jauh melangkah.

Sampai akhirnya ia tahu bahwa suaminya memiliki istri simpanan. “Katanya menikah siri,” ujarnya singkat. Pertengkaran demi pertengkaran mulai mewarnai obrolan lewat telepon maupun saat Marina datang ke NTB. Hubungan mereka mulai renggang dan terus merenggang. Sakit hati Marina bagai tersayat sembilu.

 

PAMER KEMESRAAN DI MEDIA SOSIAL

Suaminya semakin terang-terangan memperlihatkan istri sirinya itu. “Bahkan dalam kegiatan organisasi istri sirinya itulah yang secara legal masuk dan bergabung dengan ibu-ibu di sana,” ujarnya. Yang lebih mengecewakan lagi bahwa perempuan itu bukan perempuan baik-baik yang dipandang umum karena pernah kawin cerai sudah tiga kali. “Suami saya adalah suami keempatnya,” kata Marina. Perempuan itu di mata Marina tidak lebih dari perempuan penghibur.

Ada apa dengan suaminya sehingga begitu jauh jatuh dalam pelukannya. “Dia pakai guna-guna,” ujarnya menduga. Namun, ia tidak sepenuhnya meyakini itu karena tidak mungkin mereka sampai menikah siri jika suaminya juga tidak menginginkannya. Suaminya bahkan mengumbar foto-foto kemesraan dengan istri sirinya di media sosial. Sementara itu ia terus berusaha memperbaiki hubungan dengan suaminya namun gagal. Hingga tiba pada titik di mana ia tidak lagi bisa menerimanya. “Saya hanya ingin minta keadilan saja,” katanya.

Ia pun melaporkan suaminya pada petinggi di institusi tempat suaminya bekerja. Lagi-lagi ia mengalami rasa kecewa berat. “Tidak ada tindaklanjut dari institusi tersebut dan saya sudah berulang-ulang memohon agar kasus ini diperhatikan,” katanya. Usaha-usaha itu gagal semua sampai Marina capek berusaha. Maka jalan terakhir baginya adalah menggantung perkawinannya dengan tidak memberikan sikap apa-apa. “Saya biarkan semua berjalan seperti ini. Sampai dimana ia mau menyakiti saya akan saya jalani,” katanya. Meski kasusnya sudah beberapa tahun berjalan, Marina tidak menggugat cerai suaminya. Suaminya sendiri seperti tidak berani menceraikanya. “Saya tunggu dia mengajukan cerai pada saya, maka disanalah akan saya buka semuanya,” ujar Marina dengan nada kesal. Entah sampai kapan kasus tersebut usai, Marina siap menantinya. -naniek. itaufan@cybertokoh.com

 

To Top