Inspirasi

Claire McFarlane: Lari 3.000 Kilometer di 184 Negara

foto: larisa armstrong

Orang yang senang berlari memiliki motivasi yang berbeda. Ada yang berlari untuk dirinya sendiri, ada yang berlari untuk kepentingan orang lain. Berlari sejauh 3000 km di 184 negara merupakan proyek yang dilakoni Claire McFarlane sebagai bentuk kepedulian terhadap korban-korban pemerkosaan.

Perempuan kelahiran Afrika Selatan, April 1978 ini menuturkan pengalaman yang membuatnya peduli dengan korban pemerkosaan. Tahun 1999, saat berusia 21 tahun, Claire kuliah di Paris, Perancis. Selain kuliah, ia bekerja part time di sebuah pub. Suatu malam, pulang dari pub ia disergap pria besar dan bertenaga kuat.

“Aku diperkosa dan disiksa hingga sekarat. Tapi aku masih bisa memohon untuk dilepaskan dan dibiarkan tetap hidup. Akhirnya aku ditinggalkan begitu saja di jalanan. Aku berusaha bangkit dan mencari pertolongan hingga mendapat perawatan di rumah sakit. Perlu waktu tiga bulan untuk pemulihan dengan obat maupun terapi,” ungkap perempuan yang kini menjadi survivor korban pemerkosaan ini

Kasus pemerkosaan ini ditangani polisi Perancis. Dari hasil investigasi, diketahui pelaku sudah sering melakukan aksi serupa. Claire yang sudah pulih memilih untuk pulang ke Australia. Ia berharap bisa melupakan semua kejadian yang menimpanya.

Usaha untuk “move on” hampir gagal karena Claire mengalami fase penolakan. Ia menjadi trauma. Sering mengalami ketakutan dan sulit untuk berkomunikasi. “Aku mengalami fase ini sekitar 10 tahun. Tetapi, aku berhasil mengubah hidupku. Aku konsultasi dengan psikolog dan pulih kembali. Aku kuliah dan bekerja lagi,” kenang perempuan yang bekerja di bidang desain grafis ini.

Setelah benar-benar pulih, Claire kembali ke Perancis, tetapi tak mau tinggal di Paris. Ia memilih bekerja di Lyon. Dari Lyon, ia pindah lagi ke Inggris, kemudian ke Swiss. Tahun 2009, polisi Perancis menghubunginya agar datang ke Paris. Ada beberapa orang yang mirip pelaku yang ditangkap. Peristiwa yang sudah ia lupakan itu muncul lagi. Demi mendapatkan keadilan, ia pun pergi ke Paris dan membantu polisi menangkap si pelaku.

“Dari tahun 2009 hingga 2011, aku bolak-balik untuk mengurus kasus ini. Sistem hukum yang berlaku di Perancis sangat beda. Korban harus membayar untuk menjebloskan pelaku kejahatan ke penjara. Karena sudah telanjur, akhirnya aku lakukan segalanya agar pelaku di penjara. Sidang berakhir tahun 2011. Pelaku terbukti bersalah dan dihukum 12 tahun penjara. Tetapi, ia hanya menjalani 3,5 tahun saja. Aku sangat kecewa. Tahun 2015 baru selesai semua urusan. Kasusku ini karena yang pertama, menjadi jurisprudensi di Perancis,” jelas Claire.

 

BICARA KEPADA DUNIA

Tahun 2014, Claire mulai mempublikasikan apa yang dia alami kepada media massa di Australia. Ternyata banyak yang merespons. Beberapa orang yang pernah menjadi korban pemerkosaan pun menjadi menghubunginya. Dari situ, Claire yakin, jika korban hanya diam, akan berbahaya bagi hidupnya. Ia pun menyarankan mereka untuk berbicara dengan orang-orang yang tepat seperti psikolog serta bergabung dalam support group. Sebagai langkah yang lebih luas, Claire memilih berbicara kepada dunia dengan membuat program Beach Run for Awareness (BRA). Di tiap negara yang ia kunjungi, ia berlari di pantai sejauh 16 kilometer.

“Aku menghabiskan waktu 16 tahun, dari 1999 hingga 2015 untuk kasusku. Inilah alasan aku berlari 16 kilometer di pantai di tiap negara yang aku kunjungi. Untuk Indonesia, selain di Bali aku juga akan berlari di Nanggroe Aceh Darussalam. Total 3000 kilometer yang akan aku tempuh selama tiga tahun. Start pertama sudah dilakukan 18 Juli 2016 di Afrika Selatan,” ujar pecinta kopi pahit dan penganut pola hidup sehat ini.

Dari Afsel, Claire berlari di Australia, Selandia Baru, Fiji,  Papua Nugini, Solomon, Indonesia (Bali), Sri Lanka, India, Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia (NAD) dan terus keliling hingga mencapai 184 negara. Ia mengaku banyak dibantu teman-temannya untuk menyukseskan program ini. Di Bali, Claire berlari Pantai Sanur, Sabtu (22/10).

Penyuka yoga dan meditasi ini menuturkan dirinya memilih lari karena lari bagus untuk kesehatan. Dengan lari, stres menjadi hilang, membuka wawasan baru, serta mengalahkan diri sendiri. Selain lari sendiri, lari bersama akan menginspirasi orang lain untuk ikut. Di Papua Nugini, ada 2000 pelari yang ikut berlari bersama Claire dan ini membuatnya terharu. Di negara-negara yang sudah dilalui, ia menemukan berbagai cara untuk menunjukkan kepedulian.

Dari programnya ini, ia menemukan korban-korban pemerkosaan yang akhirnya mau bercerita setelah diajak berlari. “Dari penelitian yang pernah aku baca, 1 dari 4 perempuan pernah mengalami kekerasan seksual dan 1 dari 6 laki-laki juga pernah mengalami kekerasan seksual saat berusia dibawah 18 tahun. Di beberapa tempat, korban pemerkosaan juga dianggap aib bagi keluarga atau kelompoknya. Hal inilah yang harus disikapi. Perlu ada peningkatan kepedulian terhadap korban pemerkosaan,” tegas perempuan yang fasih bahasa Inggris, Perancis, dan Afrikaans ini

Impian Claire adalah membuat buku yang merangkum semua perjalanannya dan menjadi pembicara yang tampil di TEDx di Amerika Serikat. Ini adalah forum penting dimana orang bisa berbicara selama 15 menit. Satu hal yang juga ia impikan adalah membuat event BRA tiap tahun. “Aku ingin mengumpulkan dana melalui BRA dan menyumbangkan untuk orang-orang yang memerlukannya,” tegasnya. –Ngurah Budi

To Top