Inspirasi

Khairul Pulungan: Produk Bambu Kurang Diminati di Indonesia

Pohon bambu yang oleh sebagian masyarakat kita, khususnya di perkotaan,  hanya ‘dipandang sebelah mata’ , bahkan produknya pun  kurang diminati, di tangan Khairul Pulungan justru disulap menjadi furniture  nan  eksotis dan sangat disukai pasar Eropa. Saking sukanya, meski dunia sempat berkali-kali kena krisis ekonomi, Khairul tetap bisa survive mempertahankan bisnisnya ini.

“Saya sudah hampir 20 tahun bisnis furniture bambu, berkali-kali didera krisis ekonomi, bahkan Eropa yang menjadi pasar utama saya pun berkali-kali dihantam krisis, namun usaha saya ini bisa tetap bertahan. Tren memang menurun ketika krisis, tapi tetap masih bisa eksis karena di Eropa, meski krisis, permintaan akan furniture bambu Indonesia, tetap tinggi,” ungkap Khairul yang menjalankan bisnis furniture bambu ini bersama istrinya, Sundari Pulungan.

inspirasi-bambu2

Buyer asing, tuturnya, sangat suka produk bambu Indonesia, salah satunya karena ketahanannya yang bisa sampai puluhan tahun, harganya pun relatif jauh lebih murah dibanding kayu. “Saya punya aneka produk, tapi yang paling disukai masyarakat Eropa adalah tempat tidur,” ucapnya.

Anehnya, kata Khairul, justru masyarakat dalam negeri kurang menyukai furnitur bambu. Di dalam negeri, produk bambu hanya dipandang ‘sebelah mata’ karena sebagian orang belum paham tentang bambu. Masyarakat berpikir produk bambu cepat rusak, mudah reyot, dll. Padahal tidak demikian.  Dengan pembuatan yang benar, produk bambu bisa tahan puluhan tahun.

“Kalau produk bambu saya cepat rusak, pastilah buyer komplain, orang Eropa tidak mau membeli.  Dan yang pasti bisnis saya ini tidak akan sampai bertahan sampai sekarang. Justru karena awet dan harganya murah, perawatan mudah, maka mereka suka. Desainnya pun menarik. Pengetahuan tentang itu yang dikurang dimiliki masyarakat kita, sayang sekali,” katanya.

Karena kurangnya minat di dalam negeri   maka katanya,  lebih memfokuskan penggarapan pasar luar negeri. “Selama hampir 20 tahun saya menggeluti usaha ini, minat masyarakat kita pada produk bambu tidak ada kenaikan yang berarti, masih biasa saja,” tambahnya.

TINGGALKAN PROFESI WARTAWAN

Perjalanan Khairul menjadi pengusaha furnitur bambu, boleh dibilang tidak sengaja. Karena sebelumnya lelaki usia 52 tahun ini adalah seorang  wartawan sebuah media cetak nasional.  Kariernya di bidang  jurnalistik lumayan moncer, bahkan dia sempat meraih penghargaan  ‘Adinegoro’, sebuah penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik yang diberikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia.

Namun ketika terjadi perubahan manajemen di kantornya, Khairul pun mengundurkan diri. “Nah saat itu saya jadi sering ke kampung istri saya di Rangkasbitung, Jawa Barat. Di sana saya melihat begitu banyak pohon bambu, namun kurang dimanfaatkan menjadi sebuah produk yang bernilai lebih. Entah bagaimana lalu muncul ide membuat furniture dari bambu,” tutur alumi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, ini.

Walhasil, dia pun mulai mempelajari tentang bambu lewat literatur-literatur yang ada.  “Uang pesangon yang saya dapat, saya gunakan sebagian untuk memulai bisnis ini. Kebetulan di Rangkas ada beberapa pengrajin bambu, maka saya ajak kerja sama.Saya mencari tahu bagaimana caranya menjadikan  furniture bambu ini berkualitas, awet dan menarik (desain). Itu semua saya pelajari,” paparnya.

Ia juga melakukan pembinaan dan pelatihan secara khusus kepada pekerja juga petani-petani bambu di sana. Semuanya bersemangat karena bukan hanya mendapat lapangan pekerjaan tapi secara penghasilan mereka mendapat lebih. “Bambu petani saya beli lebih mahal dibanding harga yang dia jual ke tengkulak. Karenanya mereka semangat,” tambahnya.

Berkat ketekunan dan keuletannya dalam memasarkan produknya, akhirnya Khairul  pun berhasil menembus pasar ekspor, padahal boleh dibilang dia adalah seorang pemula yang belum sampai dua tahun menekuni bisnisnya. Tak tanggung-tanggung,  dia mendapat kontrak pengiriman 11 kontainer furnitur bambu dari Spanyol.

“Itulah awalnya saya akhirnya memutuskan untuk fokus di pasar luar negeri. Tahun 1999 saya dapat order 11 kontainer ke Spanyol, padahal waktu itu saya belum lama menekuni bisnis ini. Nah sejak itu, buyer saya di Eropa terus berkembang. Setiap bulan saya ekspor ke berbagai negara di Eropa tak penah putus. Buyer saya di Perancis, Italia, Jerman, Austria, Yunani, dll,” ungkap Khairul yang kini tengah giat mengembangkan ‘rumah bambu’ dan interior bambu.

Tren bisnisnya terus menanjak , tahun 2003 hingga 2008  adalah tahun keemasan baginya dimana bisnisnyabooming. Kala itu Khairul mengaku sempat kewalahan karena begitu banyaknya permintaan dari pasar Eropa. Rata-rata setiap bulan dia mengekspor 15 kontainer furniture bambu ke berbagai negara, yang terbanyak adalah Perancis dan Jerman.

“Waktu booming, orderan yang datang melimpah setiap bulannya, sampai-sampai kala itu saya punya karyawan 400 orang, hampir semuanya orang Rangkasbitung.  Bagi saya ini sungguh membahagiakan karena selain produk saya digemari juga karena bisa memberi masyarakat setempat lapangan pekerjaan,” ungkap peraih penghargaan ‘Primaniyarta 2013’, penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah kepada eksportir yang dinilai paling berprestasi di bidang ekspor dan dapat menjadi teladan bagi eksportir lain.

Namun masa keemasan itu akhirnya terhenti lantaran negara-negara di Uni Eropa terhantam krisis pada 2008 yang dipicu oleh krisis perekonomian di Yunani. “Saat itu banyak buyer saya menghilang, tren ekspor menurun drastis. Hanya Jerman yang masih bertahan meski pesanan tidak sebanyak sebelumnya,” kata pemilik usaha ‘Shaniqua Bamboo’ ini.

Tahun 2016 ini, lanjutnya, dia merasa ada perbaikan perekonomian di sejumlah negara di Eropa. Hal itu terlihat dari sejumlah buyer yang menghilang,  menghubunginya. “Baru-baru ini buyer lama saya dari Italia datang ke saya dan berencana bisnis bambu kembali. Ia bilang kondisi di negaranya sudah mulai membaik. Saya berharap ke depannya perekonomian benar-benar pulih,” ungkap Khairul yang kini setiap bulan menangani ekspor ke Jerman dan Perancis.

PERLU KETELATENAN DAN KESABARAN TINGGI

Kembali ke masalah dalam negeri. Menurut Khairul,  meski prospek furniture bambu memiliki prospek yang bagus di pasar ekspor, namun di Indonesia sedikit sekali pemainnya. Dia sendiri sangat heran dengan keadaan ini.  “Pasar furnitur bambu di luar negeri bagus, tapi entah kenapa tidak banyak orang kita yang tertarik,” ucapnya.

Hanya saja, mungkin, karena mengerjakan furniture bambu butuh ketelatenan dan kesabaran yang tinggi, menyebabkan pengusaha lain menjadi tidak tertarik. “Mengerjakan produk bambu itu memang banyak masalahnya, namun bukan berarti tidak terpecahkan. Asalkan kita mau bersusah-susah dan tekun mencari solusi, pasti bisa. Saya pun menggeluti usaha ini bukannya tanpa masalah. Ada banyak masalah dari yang ringan sampai yang berat dan jelimet. Tapi saya tetap berjuang untuk mencari solusi, itu makanya usaha saya bisa bertahan.  Dan saya konsisten tidak berpindah ke produk lain selain bambu,” katanya.

Terkait dengan mulai membaiknya pasar ekspor furniture bambu, menurut Khairul, salah satunya bisa dilihat dari tren transaksi akhir-akhir ini. Di pameran ‘Trade Export Indonesia 2016’ di Kemayoran baru-baru ini, dia mendapat cukup banyak transaksi, di antaranya beberapa buyer dari Irak, juga Republik Senegal, Afrika Barat. “Ini perkembangan yang sangat menggembirakan, saya dapat sejumlah buyer. Semoga tren naik terus berlanjut,” ucapnya.-Diana runtu@cybertokoh.com

To Top