Kolom

KANJENG

Nampaknya 2016 menjadi tahun emas media sosial. Siapa yang tak penasaran ingin lebih tahu tentang kasus Mirna, perkosaan/pembunuhan anak di bawah umur, pembunuhan dosen, mahasiswi, kecelakaan pesawat, gunung meletus, banjir, penyanderaan pelaut, persiapan pemilihan gubernur DKI, vaksin palsu, pengampunan pajak, mutilasi bayi oleh ibu sendiri dll.nya. Terutama  kasus  Dimas Kanjeng Taat  Pribadi.
“Ya, rezekinya koran dan TV, Pak. Tapi kalau tidak ada mereka susah juga. Mana kita tahu, banyak yang aneh-aneh terjadi di negeri kita yang sekarang seperti negeri dongeng ini.”
“Tapi jangan lupa, itu berkat adanya kebebasan dalam memberitakan. Kalau dari dulu kebebasan media sudah seperti sekarang, siapa tahu dongeng-dongengnya di masa lalu, lebih seru!”
“Tapi kalau betul duit bisa digandakan, Pak Kanjeng, apa tidak malah ribet, Pak?”
“Ribet bagaimana?”
“Kalau semua pada kaya punya uang triliunan, nggak ada yang bakal mau jadi rakyat. Semua pasti mau jadi pemimpin. Pasti akan berkelahi terus kita. Ujung-ujungnya yang tidak mau ribut, atau ngambul, akan lari hidup di luar negeri. Satu trilyun saja kan sudah cukup hidup enak sampai anak cucu!”
Amat ketawa.
“Bu, penggandaan atau pengadaan uang itu, hanya boleh dilakukan oleh BI, Bank Indonesia. Kalau dilakukan oleh yang lain, biar bernama Kanjeng Maha Diraja Dewa-Dewa Antah-Berantah sekalipun, itu tindakan kriminal. Bisa diseret ke meja hijau! Itu pengacau! Kalau rakyat kecil terlibat, itu pasti karena kurang paham hukum. Tapi kalau sampai oramg pinter terlibat, tidak boleh diampuni, itu sudah subversif!!!”
“Jadi bapak tidak setuju, kan?!”
“Kalau setuju, sudah lama Bapak bergabung ke Probolinggo!”
“Tidak setuju atau karena tidak tahu?”
Amat terdiam.
“Tidak setuju atau karena tidak tahu? Jujur saja, Pak, masak tidak ngiler kalau betul uang bisa digandakan 1000 kali, masak tidak terpikat? Doktor lulusan Amerika saja begitu kepincut! Coba hanya satu juta bisa jadi satu M!”
Amat termenung. Kemudian menjawab lirih.
“Itulah sihirnya. Siapa tidak akan rontok pertahanan jiwanya kalau bisa melipatgandakan uang seribu kali. Ya terus-terang bukan yang menipu saja sakit, kita juga semua sedang sakit. Ini PR semua agama dan pendidikan nasional untuk memperkuat ketahanan moral dan mental bangsa kita, Bu!”
Amat lalu keluar karena ada yang mengetok pintu. Ternyata ada tamu yang ia belum kenal.
“Maaf, Pak, ibu ada?”
“Maaf, Ibu siapa?”
“Saya Raden Ajeng Ratu Siti Kridit.”
Amat terkejut.
“Ibu mau ketemu siapa? Ini rumah saya, Amat.”
“Saya ingin berkenalan dengan ibu.”
“Maaf, soal apa, Bu, kalau boleh saya tahu?”
“Itu, soal uang mahar yang dikirim. Karena bulan depan akan diturunkan hasilnya, mohon supaya didorong sedikit lagi supaya jangan berbelok. Ya sekitar 100 juta lagi, saja. Supaya cepat bisa diserahkan ke saya saja.”
Amat bengong. Ia cepat memutar otak. Pasti itu salah satu sultannya Pak Kanjeng yang belum sempat nonton TV, tidak tahu bosnya sudah diamankan.
“Silakan duduk dulu, Bu, saya panggilkan, silakan.”
Begitu ibu itu duduk, Amat langsung masuk, tapi terus menyelinap keluar. Mau mengerahkan pemuda untuk menangkap.
“Siapa itu, Pak?”
Amat tak menjawab. Langsung ke tetangga, menggaet dua pemuda yang mau berangkat main futsal.
Tapi begitu kembali ke rumah. Ternyata tamu itu tak ada. Bu Amat sendiri heran melihat suaminya datang bersama kedua pemuda itu.
“Lho, Bapak mau ikut main futsal?”
Amat bingung. Akhirnya menjelaskan yang terjadi. Bu Amat ketawa.
“Berarti dongeng dan kenyataan sekarang sudah mulai mau nyambung. Apa kita sudah siap jadi warga dongeng, Pak? Itu tadi bu Siti, tukang kredit, orangnya kan memang suka bercanda!”
Amat terdiam malu.

To Top