Sudut Pandang

Jaga Spirit Sumpah Pemuda dengan Aksi Sosial

Peringatan Sumpah Pemuda setiap bulan  Oktober adalah sejarah penting yang harus dimaknai sebagai bersatunya para pemuda Indonesia dengan dasar bangsa, bahasa, dan tumpah darah yang satu tanpa mempedulikan  latar belakang suku, agama, ras, ataupun keyakinan kita. Meskipun sudah 88 tahun berlalu, spirit atau semangat Sumpah Pemuda tetap perlu digelorakan karena kolonialisme yang dulu dihadapi para pejuang kita telah berganti menjadi neo-imperialisme sebagai efek domino dari globalisasi dan dunia.

Lantas bagaimana agar spirit atau semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda ini tetap bergelora ? Salah satunya hal yang paling mudah serta efektif adalah  memaknainya dengan aksi nyata. Bukan hanya menghapal isi dari Sumpah Pemuda, tetapi juga memaknainya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Karena kita hidup adalah untuk memberi sebesar-besarnya manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Begitu disampaikan  IGN Erlangga Bayu  Rahmanda P, yang saat ini diantaranya tercatat aktif di Purna Paskibra Indonesia Bali, JCI Denpasar, HIPMI Denpasar, PCMI Bali, Komunitas Wirausaha Denpasar dan Leo Club Bali Shanti.

Sebagai seorang Purna Paskibra, Angga begitu panggilannya mengaku sangat merasakan arti dari persatuan serta nasionalisme. “Kami 70 orang pemuda dari berbagai latar belakang digojlok  ala militer selama hampir sebulan hanya untuk satu tujuan, mengibarkan bendera Merah Putih. Setelah sekian tahun berlalunya kerja keras untuk pengibaran bendera itu, kini saya serta teman-teman dari beragam bidang mengambil kesempatan untuk Indonesia yang lebih baik melalui Leo Club Bali Shanti,” tutur mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unud ini.

angga2Dikatakannya Leo Club adalah komunitas pengabdian masyarakat bagi anak muda yang berada di bawah naungan Lions Club International. Untuk Bali sendiri, Leo Club Bali Shanti sudah terbentuk sejak 7 Mei 2013. Berbagai kegiatan yang biasanya mereka lakukan seperti renovasi sekolah di daerah terpencil, pemeriksaan gigi gratis, pembagian susu ataupun alat belajar; volunteering untuk penyandang disabilitas baik itu tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, hingga tuna grahita. Selain itu mereka juga melakukan kunjungan ke yayasan yang menampung bayi terlantar, panti asuhan hingga panti jompo; atau kegiatan bidang lingkungan seperti penanaman mangrove, aksi bersih pantai; ataupun kegiatan intern seperti tirtayatra, melukat, dan ngayah membersihkan Pura, hingga pemberdayaan anak muda seperti Leo Leadership Camp.

Terkadang, lanjut Angga mereka mengadakan penggalangan dana bagi daerah-daerah yang terkena musibah seperti meletusnya Gunung Kelud, gempa Nepal, ataupun korban asap di Sumatera dan Kalimantan atau bahkan penggalangan dana bagi saudara –saudara yang menderita sakit keras tapi tidak mampu secara finansial.

“Dalam kegiatan-kegiatan tersebut seringkali pula kami mendapatkan cibiran seperti misalnya, mengapa kami melakukan penggalangan dana untuk orang-orang di luar Bali (Hindu) atau sekadar ikut tren mencari popularitas. Disinilah kami merasakan semangat persatuan sebagai pemuda Indonesia, karena kami membantu bukan atas dasar suku ataupun agama, bahkan kenal pun kami tidak dengan orang yang kami bantu. Semua hanya karena kami merasa mendapatkan bahagia yang sebenarnya ketika juga bisa membuat orang lain bahagia. Kata Guru Gede Prama, compassion healing..We Serve ,” ujarnya

Selanjutnya untuk bisa terus menjaga spirit sosial bersama teman-temannya, Angga ingin bisa mengembangkan usaha yang dijalaninya saat ini ini agar mampu mendukung kegiatan sosialnya, Selain itu, sebagai pemuda Indonesia, untuk jangka panjangnya  ia juga ingin memiliki usaha ekonomi berbasis masyarakat dan pastinya akan terus mengembangkan Leo Club Bali  Shanti. – -sri. ardhini@cybertokoh.com

To Top