Sudut Pandang

Sebelum Pulang Nyanyi Lagu Daerah

TIA Kusuma Wardhani

Banyak hal yang menyangkut  kebijakan di  masing-masing  satuan pendidikan sudah berubah, salah satunya, penyelenggaraan ujian nasional (UN). Kalau dulu berlomba-lomba mengejar kelulusan dengan segala cara, supaya mendapatkan nilai terbaik.  Sekarang kebijakan pemerintah secara nasional,  pelaksanaan UN  tetap  dilaksanakan tapi tidak sebagai penentu  kelulusan. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Bali, TIA Kusuma Wardhani.

Saat ini, kata dia, tingkat korupsi ada di  semua lini. “Hampir  di semua sektor kehidupan korupsi itu ada.  Salah satu upaya yang dipakai pemerintah untuk mengurangi korupsi melalui dunia pendidikan. Sehingga  semua satuan  pendidikan dituntut bisa mengubah apa yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Caranya, dengan penyelenggaraan UN yang  berintegritas, yakni pelaksanaan UN dengan jujur, adil, dan bertanggungjawab. “Kalau  dulu dalam UN, nilai yang dipakai ukuran, sekarang diberikan  indeks integritas sekolah.  Artinya apa, pemerintah menaruh harapan besar, agar dunia pendidikan memberi kontribusi yang besar meminimalisir korupsi Ini salah satu cara penerapan nilai Sumpah Pemuda dalam bidang pendidikan,” ujarnya.

Implementasi lain,  dalam keseharian yang terjadi di semua satuan pendidikan. Ia menyatakan, ada pemikiran besar dari  pemerintah menumbuhkan cinta tanah air kepada generasi muda.   Saat ini,  dirasakan  ada sesuatu yang berubah.  “Sekarang ini  kalau  mendengar  lagu daerah, sepertinya anak-anak  tidak terlalu tertarik.  Beda sekali dengan dulu, lagu daerah selalu didengungkan di mana-mana. Sekarang ini nilainya sudah berubah,” ujarnya.

Ia menilai,  dengan adanya  fasilitas IT dan  perkembangan teknologi yang semakin canggih banyak memberi dampak. “Untuk mengembalikan suasana kebersamaan dan ada rasa persatuan  antar anak-anak,  ada satu aturan dibuat, 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai,  setelah  berdoa, siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian,  10 menit berikutnya, siswa  bisa membaca buku apa saja, setelah itu bercerita. Ini memang protap, tapi di masing-masing sekolah tentu berbeda atau ada tambahannya Tapi ini adalah hal yang mendasar untuk menyadarkan para generasi muda, kita ini satu nusa satu bangsa,” kata TIA Kusuma Wardhani.

Kemudian, menjelang pulang, siswa  diminta lagi menyanyikan lagu daerah. Kalau dulu, sistemnya, siapa yang menjawab betul boleh pulang.   Ia menyebutkan, ada satu hasil penelitian, kalau  yang ditunjuk satu anak, prestasinya  tidak baik tapi dia betul menjawab,  bagi  anak-anak yang punya kemampuan lebih tapi tidak ditunjuk gurunya,   akan merasa marah. “Kalau anak marah saat pulang, sampai di rumah anak ini akan melampiaskan  kepada  orang-orang terdekat. Dia bisa marah dengan ibunya, kakak atau adiknya. Sehingga kalau sistem ini  dilaksanakan serentak di Indonesia,  berapa banyak anak yang  marah. Kalau sudah marah,  pikiran tidak sehat.  Sehingga pemerintah  berharap itu tidak boleh lagi dilakukan,” ucapnya.

Ia berharap, saat jam pulang sekolah, anak-anak dibuat  nyaman. “Kalau mereka nyaman,  sampai di rumah mereka pun gembira. Caranya,  anak-anak diminta menyanyikan lagu daerah, misalnya,   Meong-meong.   Ketika sampai di rumah, anak pun masih gembira. Ketika ditanya ibunya, ayo makan dulu, anak akan menjawab iya bu,” katanya memberi contoh.

Ia menegaskan,  kita tidak perlu mempertentangkan apa yang sudah terjadi,   tapi itu adalah upaya  yang  bisa dilakukan. Memang, ia mengakui, peran ini tidak bisa hanya dilakukan dunia pendidikan, karena  peran orangtua juga penting. Ibarat sebuah pohon, yang menanam orangtua tapi yang menumbuhkan sekolah. Para orangtua  selamanya menanam, merawat, dan menjaga.-wirati.astiti@cybertokoh.com

To Top