Sehat

Tiap Orang Punya Hak Reproduksi

dr.Ayu Witriasih, M.Kes.

Kesehatan reproduksi atau  disingkat kespro tidak hanya urusan remaja  namun, kespro merupakan urusan kita sepanjang hidup.  Mengapa remaja menjadi ujung tombak karena dialah yang akan melanjutkan untuk menjadi generasi yang berkualitas. Demikian diungkapkan dr. Ayu Witriasih, M.Kes, Kabid Binkesmas Dinas Kesehatan Kota Denpasar, saat menyampaikan materi kespro di depan anggota WHDI  Kota Denpasar.

Saat ini, usia mulai berpacaran dan mulai berhubungan seks bebas sekitar 15-19 tahun.   Ironisnya,  Indonesia menduduki prosentase pernikahan usia muda  nomor  dua  di ASEAN. Angka kematian bayi dan balita lebih banyak terjadi pada   ibu yang  berusia  di bawah 20 tahun. Pengetahuan remaja tentang kespro belum memadai.   Di Jawa Tengah  sebanyak  60 ibu tiap bulannya melakukan aborsi, dan sekitar 15-30%  adalah  usia remaja.

Ia menilai, kesehatan reproduksi merupakan isu penting yang kini dihadapi masyarakat. Angka kematian ibu melahirkan, kekerasan seksual, hamil di luar nikah merupakan kejadian-kejadian yang sering ‎mengancam masyarakat.  Oleh sebab itu, masyarakat harus memahami seperti apa persisnya persoalan kesehatan ‎reproduksi tersebut. ‎

Perubahan psikologis remaja,  masa storm dan stress, sensitif (tersinggung, marah), irasional, nekad, takut, ingin mandiri, ekspresif, rasa ingin tahu, sifat membangkang.Masa remaja  merupakan masa pancaroba, masa kritis, dan masa pencarian identitas.

Remaja pubertas mengalami pematangan  fungsi organ yang membuat  dorongan seksual, coba-coba rasa ingin tahu. “Bentuk prilaku seksual yang dilakukan pelajar, pegang tangan, ciuman, cumbu, senggama.   Yang dimaksud seks pranikah, pelukan, ciuman,   raba bagian tubuh yang sensitif,  peting, oral genital seks, dan senggama,” ujarnya.

Mengapa remaja mau melakukan hubungan seks pranikah?  Ia mengatakan, hal ini disebabkan dua faktor, dari dalam,  dorongan seksual dari otak, rasa ingin tahu,  dan kurang pengendalian diri. Faktor dari luar karena informasi  kurang dan  pergaulan.

Menurutnya, yang menjadi faktor risiko,   mobilitas  penduduk tinggi dengan berbagai budaya berkumpul,  teknologi canggih sehingga mudah mengakses gambar atau film porno, alat kontrasepsi mudah dibeli di toko/supermarket,  pacaran  bebas, pengendalian diri kurang, dan pengawasan orangtua yang terlalu  longgar.

Hubungan seks pranikah akan mengakibatkan  hilang keperawanan, kehamilan tidak diinginkan,  aborsi, dll.

Dampak media dan psikososial, infeksi menular seksual dan hamil.  Aborsi akan mengakibatkan   kerusakan rahim, pendarahan, kemandulan, komplikasi bahkan kematian.Ia menilai, alasan remaja aborsi, untuk  melanjutkan sekolah, takut ketahuan,  malu,  dan belum siap ekonomi.

Menurutnya,  risiko seks bebas dapat diminimalisir dengan pendidikan agama, pendidikan orangtua, dan pendidikan kespro.  “Setiap anak diupayakan menyadari tangungjawab sebagai generasi menerus  yang membawa karma keluarga, generasi penerus bangsa,  dan negara,” ujar mantan Kepala Puskemas IV Denpasar Selatan ini.

Untuk membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera, seorang calon suami atau istri usianya harus cukup dewasa, sehat jasmani rohani serta sudah mempunyai kemampuan mencari nafkah.  Pendewasaan usia perkawinan ini bertujuan,  memberikan pengertian dan kesadaran generasi muda agar di dalam merencanakan keluarga calon suami atau istri benar-benar mempertimbangkan: kesiapan fisik, mental, dan sosial ekonomi dharma agama, mempersiapkan masa reproduksi seorang ibu, meningkatkan kesejahteraan/kesehatan ibu dan anak.Ia menyebutkan usia terbaik melangsungkan perkawinan,  wanita usia 20 tahun ke atas sedangkan pria 25 tahun  ke atas.

Upaya yang dilakukan mendewasakan usia kawin,  adalah dengan meningkatkan kesempatan pendidikan baik formal maupun nonformal, memperoleh pekerjaan, meningkatkan kemandirian dan kesiapan bekal memasuki perkawinan,  memberikan peran dan kegiatan kemasyarakatan dalam organisasi kepemudaan seperti STT, memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang bahaya negatif yang dapat ditimbulkan dari perkawinan pada usia muda, memberi penyuluhan terhadap tokoh masyarakat agar mendukung upaya pendewasaan usia perkawinan.

Ia menyebutkan, usia terbaik bagi perempuan untuk hamil pertama adalah usia 20 tahun karena  rahim sudah siap menerima kehamilan, secara mental dan sosial telah siap menjadi ibu.

“Tiap orang memiliki hak reproduksi. Artinya, setiap orang baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab kepada diri, keluarga,  dan masyarakat  mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta untuk menentukan waktu kelahiran anak dan dimana akan melahirkan.  Tiap orang berhak memperoleh standar pelayanan kespro yang terbaik. Perempuan dan laki-laki berhak memperoleh informasi lengkap tentang seksualitas, kespro, manfaat dan efek samping obat-obatan dan tindakan medis. Memperoleh pelayanan KB yang aman dan efektif terjangkau, dapat diterima sesuai dengan pilihan, tampak paksaan tidak melawan hokum,” kata dr. Ayu.

Selain itu, hubungan suami istri didasari penghargaan terhadap pasangan masing-masing dan dilakukan dalam situasi dan kondisi yang diinginkan bersama. -wirati.astiti@cybertokoh.com

To Top