Life Story

Lewati Ujian Keikhlasan

“Ikhlaskan semua dan bersujudlah di depan Ka’bah memohon ampun pada Allah,” ujar Reni pada seorang sahabatnya yang hendak berangkat haji pada musim haji tahun 2016 ini. Saat musim haji tiba seperti ini, Reni selalu terharu kala mengingat proses yang luar biasa terjadi dalam dirinya ketika ia berhaji pada tahun 2006. Di depan Ka’bah, dengan jutaan umat muslim dari seluruh dunia yang tengah melaksanakan ibadah Haji, Reni bersujud, menangis dan memohon ampunan atas kesalahan dan dosanya selama ini, termasuk rasa sakit dan dendam pada suaminya.

Perjalanan hidup Reni (58) memang sangat menyakitkan. Namun, ia termasuk yang beruntung karena mengalami proses penyadaran diri di saat yang tepat. Allah memberikannya hidayah ketika ia benar-benar menginginkan untuk melepas rasa dendam dan sakit hati yang menguasai dirinya selama ini. 20 puluh tahun hidup berumah tangga dengan suaminya, Ali, Reni nyaris tak mendapatkan kebahagiaan yang diimipikan oleh semua perempuan terhadap suaminya.

Reni menikah dengan Ali yang berprofesi sebagai pengemudi truk yang melintasi pulau-pulau di Indonesia. Ketika menikah Reni memang tidak “datang” dengan cara yang baik karena ia masuk dalam kehidupan Ali yang telah beristri. Ketegangan dan keributan saat pernikahan mereka itu memang tidak dapat dihindari. Rasa cinta Reni dan Ali justru semakin kuat dan Reni rela dicaci maki istri pertama Ali bahkan dicemooh orang atas pilihannya itu. Ali juga menunjukkan rasa cintanya yang kuat pada Reni bahkan setelah Reni sama sekali sudah tidak bisa menganggapnya sebagai suami kelak.

Atas rasa bersalah pada istri pertama Ali, Reni berusaha keras mengambil hati istri pertama Ali dengan cara mengalah dan bersabar. Ia bahkan selalu melakukan hal-hal baik asalkan istri pertama Ali mau memaafkannya. Dan itu terbukti setelah lama kelamaan istri pertama Ali dapat menerimanya. “Hubungan kami menjadi sangat baik dan terus semakin baik, sampai kami rasanya sudah seperti saudara,” ungkap Reni. Hubungan baik mereka membuat Reni merasa nyaman dalam rumah tangganya bersama Ali. Mereka saling berbagi satu sama lain dalam hubungan yang sangat baik.

Sampai akhirnya Reni melahirkan anak pertamanya yang disambut dengan suka cita oleh istri pertama Ali yang memang tidak bisa memiliki anak karena alasan medis. Sampai pernikahannya dengan Ali berjalan delapan tahun mereka tidak memiliki anak. Karena itu kelahiran anak Reni juga menjadi kebahagiaan bagi istri pertama Ali. “Anak pertama saya sejak bayi baru lahir sampai hari ini berada di dalam perawatannya. Bahkan saat anak pertama saya menikah, yang mengurus pernikahannya adalah dia (istri pertama Ali),” kata Reni yang saat anak pertamanya menikah itu ia tengah menjadi TKW di Saudi Arabia.

Setelah kelahiran anak pertama itu, Reni berturut-turut melahirkan tiga anak berikutnya yang menambah kebahagiaan Reni, Ali dan istri pertamanya. Saking baiknya hubungan Reni dan istri pertama suaminya itu, mereka sampai-sampai tidak hanya berbagi suami dalam damai, mereka berbagi anak. “Saya lahirkan empat anak, dua saya rawat dan besarkan dua lagi saya berikan pada istri pertama suami saya,” ujar Reni tersenyum. Keikhlasan dan kebahagiaan istri pertama Ali merawat dua anaknya itu membuat Reni merasa dua anaknya seperti memiliki dua ibu kandung. “Dia sangat sayang dan perhatian pada anak-anak saya yang dibesarkannya. Bahkan dua anak saya yang lain juga betah bersamanya jika saya tinggal,” kata Reni.

Perjalanan rumah tangga Reni dan Ali serta istri pertamanya yang tinggal di Pulau Sumbawa ini berjalan dengan sangat damai, sampai akhirnya suatu hari Ali membuat masalah dengan menikah lagi. Kedua istrinya ini meradang dan tidak terima dengan pernikahan diam-diam itu. Reni dan istri pertama Ali bahkan datang melabrak perempuan itu dan menjambak rambut Ali secara bersama-sama. Namun entah mengapa, Ali tidak mau menceraikan istri ketiganya yang sedang hamil itu. Reni dan istri pertama Ali terus berusaha keras memisahkan Ali dengan istri ketiganya yang oleh masyarakat di kampungnya dikenal bukan perempuan baik-baik. Semua usaha keduanya itu tidak berhasil. Situasi ini berjalan hingga tiga tahun, sampai akhirnya keduanya sudah tidak tahan lagi dengan situasi tersebut. “Suami kami sepertinya kena guna-guna. Dia jarang pulang kepada kami. Tiap kali pulang dari bekerja ia selalu pulang ke rumah perempuan itu,” ujar Reni.

Hal inilah yang membuat istri pertama Ali memilih tegas menceraikan Ali dan Reni pergi meninggalkannya. “Saya berangkat jadi TKW ke Arab Saudi. Anak-anak saya membutuhkan biaya sekolah, penghasilan suami saya sebagai supir truk hanya untuk istri ketiganya,” kata Reni yang mengaku beruntung memiiki seorang madu yang baik dan mau mengurus keempat anaknya saat ia tinggal. Namun sesungguhnya sebelum berangkat sebagai TKW, Reni yang memilih tidak menceraikan suaminya itu masih mengalami hal-hal yang menyakitkan. Dua kali suaminya menikah lagi dan kerapkali perempuan-perempuan mendatanginya mengaku sebagai kekasih suaminya. Semua itu menumpuk rasa sakit dalam diri Reni.

 

NGOBROL DI RUMAH ANAK

Tahun 2006 saat ia menjadi TKW, Reni berkesempatan melaksanakan ibadah haji. Rasa sakit yang teramat mencabik-cabik hati dan rasa cinta pada suaminya yang sempat begitu luar biasa menyimpan rasa dendam dalam dirinya tiba-tiba lenyap ketika ia memandang Ka’bah dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. Peristiwa itu dimulai ketika ia salat di depan Ka’bah. Ia menyimpan dompet dan telepon genggamnya persis di depannya, dimana ia dapat melihatnya dengan jelas. “Tiba-tiba di depan saya seperti ada seseorang yang rasanya ingin mengambil dompet dan HP saya tapi saya tidak berusaha menghalanginya,” katanya.

Di sanalah ia merasa ikhlas jika pun HP dan dompet tersebut diambil orang maka ia merasa begitulah jalannya dan ia tidak ingin membatalkan salatnya hanya untuk menyelamatkan hartanya itu. “Saya sama sekali tidak akan merasa khawatir dengan hal itu dan saya terus melanjutkan salat,” kata Reni yang merasa bahwa HP dan uang dalam dompet miliknya itu ia dapatkan dengan cara yang halal. Benar saja, orang di hadapannya itu pergi sampai Reni menyelesaikan salatnya. Bagi Reni yang merasa peristiwa dan orang tersebut sesungguhnya simbul bahwa ia tengah diuji, antara ibadah, keihklasan dan harta. Ia beruntung telah memilih hal yang tepat melanjutkan salat dan tidak peduli dengan harta benda. Dari sana jugalah ia lalu mengingat suaminya.

“Meski dia sudah sangat menyakiti saya, tapi saya merasa mungkin pernah bersalah tanpa saya sadari. Saya lalu mengambil HP dan meneleponnya untuk meminta maaf,” ungkapnya. Sayangnya telepon dari Mekkah itu dijawab oleh istri ketiga suaminya yang kemudian memaki-makinya. “Saya tidak marah tapi saya minta ia menyampaikan salam permintaan maaf saya,” ujarnya. Tampaknya suaminya tahu telepon itu dan meneleponnya balik. “Suami saya menangis meraung-raung, memohon saya juga memaafkannya,” kata Reni. Itulah titik balik rasa cinta Reni pada suaminya yang tadinya cinta sebagai suami istri lalu berubah menjadi seperti saudara.

Sepuluh tahun sejak peristiwa itu, beberapa kali Reni bertemu suaminya yang masih sangat mengharapkannya kembali, ia menjadi biasa saja. “Saya sudah tidak punya rasa sama sekali padanya. Dia sudah seperti saudara saja bagi saya. Saat ketemu saya dia selalu ingin menyentuh saya sebagai istri, tapi saya tidak bisa,” ungkapnya. Sejak Reni menjadi TKW beberapa kali pulang ke Indonesia namun sudah tidak bertemu suaminya itu dalam waktu yang lama. “Ada jarak lima tahun, dua tahun lalu pulang sebentar dan tak bertemu lagi dua tahun. Itu yang membuat saya merasa bahwa meski kami tidak bercerai secara resmi, tapi saya merasa sudah tidak sah melakukan hal-hal sebagai suami istri,” katanya.

Reni memang tidak pernah menceraikan Ali, begitu pun sebaliknya. Ia juga tidak ingin mengonsultasikan hal ini dengan siapa pun. Waktu dan peristiwa telah membuat perasaan Reni berubah terhadap suaminya yang kini dianggapnya sebagai saudara, sudah cukup baginya menganggap bahwa pernikahannya telah berakhir dengan cara yang tidak biasa. Bahkan setelah tiga tahun kembali pulang ke kampung halamannya, Reni menghindar untuk bersama dengan suaminya dalam suasana yang layaknya sebagai suami istri. Ia hanya nyaman bertemu suaminya dalam situasi biasa. “Ketemu ngobrol di rumah anak kami untuk melihat cucu kami. Selebihnya saya tidak mau bersamanya seperti suami istri,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan

 

 

 

To Top