Inspirasi

Lari dengan Filosofi Tri Hita Karana

Pelari Astra Green Run Bali 2016 di garis start

Lari kini menjadi bagian dari gaya hidup. Lari tidak hanya dilihat sebagai kegiatan olahraga yang menyehatkan jiwa dan raga. Lari juga menjadi ajang untuk melepaskan stres sekaligus mencari inspirasi. Ada juga lari yang bertujuan “menyatukan” pelari dengan alam, seperti di event Astra Green Run (AGR) Bali 2016 di Desa Taro, Tegallalang, Gianyar.

Desa Taro merupakan salah satu desa tua di Bali. Dalam buku “Eksistensi Desa Adat dan Desa Dinas di Bali” yang ditulis I Wayan Surpha, S.H. dijelaskan Desa Taro merupakan cikal-bakal desa-desa lain yang ada di Bali. Suprha mengutip dari Lontar Markandya Purana yang menceritakan kedatangan Maharsi Markandya ke Bali bersama 8000 pengikutnya untuk membuka ladang pertanian di Desa Taro, Gianyar sekitar abad ke-8 Masehi.  Kedatangan ke Bali ini merupakan hasil pertapaan di Gunung Raung, Jawa Timur. Upaya pembukaan lahan ini gagal karena banyak pengikuti Maharsi Markandya yang sakit dan diserang binatang buas hingga ada yang meninggal dunia.

Maharsi Markandya kemudian kembali ke Gunung Raung untuk bertapa. Dari proses pertapaan ini, ada petunjuk untuk mengadakan upacara keagamaan Hindu sebelum mulai membuka lahan. Setelah itu, Maharsi Markandya bersama 4000 pengikutnya kembali ke Bali melakukan upacara Bhuta Yadnya dan menanam panca datu (lima jenis logam) di kaki Gunung Agung.

Setelah upacara selesai, perjalanan dilanjutkan ke Desa Taro untuk membuka lahan pertanian dan permukiman. Semua perkerjaan untuk membuka lahan ini berjalan lancar. Maharsi Markandya membagikan tanah kepada para pengikutnya. Tempat pembagian itu kemudian dikenal dengan nama Puakan sedangkan tempat Maharsi Markandya beryoga  selama perabasan hutan disebut Taro. Dari Puakan, pengikut Maharsi menyebar dan membuat permukiman baru, diantaranya di Sembiran, Cempaga, Sidatapa, Gobleg, Beratan, Tigawasa, Lampu, Trunyan, Batur, Pelaga, dan yang lain yang kebanyakan berada di pegunungan.

Selain memiliki hutan yang alami, Taro juga dikenal dengan lembu putihnya. Lembu  putih ini dikeramatkan warga Taro. Tempat pemeliharaannya pun khusus dan dikelola desa adat. Taman Lembu Putih ini diresmikan oleh Gubernur Bali sebagai Kawasan Desa Ekowisata pada hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2016 lalu.

Hutan yang terletak di wilayah Puakan ini merupakan hutan binaan PT Astra Honda Motor dan Astra Motor Denpasar sejak tahun 2012. Hutan ini merupakan bagian dari keseluruhan hutan adat di Puakan yang luasnya 67 hektare. Selain penghijauan yang telah dilakukan, Astra berharap ke depan hutan ini bisa mendukung program ekowisata yang akan dikelola oleh Banjar Puakan yang terintregrasi dengan kegiatan UKM, yaitu budidaya pertanian dan perkebunan.

Saat ini program yang sudah berjalan adalah budidaya jamur. Di hutan ini juga sudah dibuka jalur sepeda untuk mengelilingi hutan, sehingga sudah banyak masyarakat yang berolahraga sepeda di sini. Astra sudah menanam lebih dari 1.500 pohon di hutan ini. Ada cempaka putih dan kuning, mahoni, majegau, nangka, sawo kecik, juwet, kelapa gading, kelapa bulan, kelapa hijau, sawo, nangka, manggis dan durian. Selain di Bali, Astra juga secara keseluruhan telah menanam 3.567.237 pohon yang tersebar di beberapa hutan dan area binaan Astra di Indonesia. Pada prinsipnya di mana pun instalasi Astra berada, harus dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi perusahaan Catur Dharma Astra, yaitu Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.

 

SATU PELARI SATU POHON

Untuk menyatukan konsep pelestarian dan melihat tingginya minat orang berlari, diadakanlah AGR di kawasan Desa Adat Taro ini. AGR yang digelar untuk kedua kalinya ini bertemakan lingkungan dengan kategori jarak 6K dan 13K diikuti oleh 750 orang pelari yang berasal dari 17 negara yaitu, Australia, Austria, Belgia, Kanada, Perancis, Jerman, Hungaria, Indonesia, Jepang, Kenya, Belanda, Filipina, Rusia, Singapura, Inggris, Amerika Serikat dan Vietnam. AGR Bali 2016 ini diadakan Minggu (2/10) dengan start dan finish di Elephant Safari Park & Lodge Desa Taro yang satu areal dengan Taman Lembu Putih. Tidak seperti lomba lari pada umumnya, para peserta AGR Bali melintasi rute yang tidak biasa. Mereka akan melewati trek yang naik turun, mulai dari kontur aspal, jalan tanah hingga kerikil berpasir untuk menciptakan suasana seru dan menantang secara bersamaan. Yang lebih menarik lagi, Astra mengajak seluruh pelari untuk mencintai lingkungan, dengan cara setiap satu pelari mewakili satu pohon yang akan ditanam Astra.

Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman mengatakan, AGR Bali bertujuan mengajak para pelari lebih mencintai lingkungan sekaligus melestarikan budaya Bali. “Kami berharap AGR dapat membawa pengaruh positif kepada masyarakat Bali pada umumnya, dan masyarakat Desa Taro pada khususnya. Event ini juga bagian dari  60 tahun Astra yang bertema “Inspirasi 60 Tahun Astra”. Ada empat sasaran CSR Astra, pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan lingkungan. AGR ini masuk dalam program lingkungan. Kami ingin menginspirasi banyak orang, salah satunya dengan berlari plus menyumbang pohon. Kami juga ingin mengajak masyarakat untuk terus menjaga lingkungan,” tegasnya.

Alexandra Dewi, Head of Astra World Denpasar yang juga Ketua Panitia AGR Bali 2016 menambahkan, trail run yang diadakan di Taro ini sangat istimewa. “Kami mengusung nilai Tri Hita Karana (THK), yaitu lari dengan mengutamakan pemandangan alam yang diciptakan oleh Tuhan. Pelari akan memiliki pemikiran tentang bagaimana menjaga kelestarian lingkungan sehingga udara tetap bersih dan sehat. Pelari berlari untuk alam serta tidak sekadar finish dan dapat medali. Ketika budaya, sejarah, alam, dan olahraga menyatu, taksunya beda” jelas Alex yang didampingi Haris Prasetya, Korwil Grup Astra Bali.

Konsep THK merupakan konsep keharmonisan yang muncul dari keselarasan tiga hubungan, yakni hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan).

Implementasi dari konsep keharmonisan itu terlihat ketika pari pelari melintasi Pura Gunung Raung. Ada yang khusus berhenti sejenak untuk berdoa kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Ini menunjukkan rasa bhakti manusia kepada Tuhan. Di beberapa ruas jalan yang dilalui, banyak warga yang memberi dukungan semangat untuk pelari. Hiburan berupa Tari Okokan, Tari Mahardika, dan Tari Kecak juga menjadi pemacu semangat berlari. Tak hanya itu, keramahan warga Taro juga terlihat sepanjang lintasan. “Saking napi (dari mana),” tanya seorang perempuan tua saat pelari melintasi perkebunannya. “Saking (dari) Buleleng,” ujar si pelari.

Made Wisersa, Bendesa Taro menuturkan pelaksanaan AGR Bali 2016 memang sudah dikoordinasikan. Beberapa krama dan pecalang dilibatkan. “Kebetulan saat yang bersamaan kami juga ada kegiatan nglawang atau ngamedalang tapakan Ratu Anom. Jadi suasana membaur antara pelari dan warga dengan pakaian adat Bali sangat terlihat,” ujarnya.

 

FOTO LANGSUNG DI-UPLOAD

Para pelari melintasi jalan di perdesaan, kampung, hutan serta perkebunan yang memiliki kontur lintasan beragam. Mulai dari jalan beraspal landai, jalan menanjak dan menurun, jalan tanah hingga kerikil berpasir, menjadikan AGR Bali unik sekaligus menantang bagi para pelari.

Sampai di finish, pelari diminta untuk menempelkan stiker dan membubuhkan tandatangan. Ini menandakan pelari sudah ikut menyumbangkan satu pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Sendi, salah seorang peserta AGR menuturkan akhir Agustus 2016 ia ikut lomba marathon di Bali. “Kali ini istri yang semangat. Dia mau ikutan lari 6 km sedangkan saya ikut 13 km,” ujar distributor bahan kimia yang berkantor di Surabaya ini.

Lari bagi Sendi sudah menjadi rutinitasnya. Ia mengaku dulu jarang olahraga dan berat badan tidak ideal. Tiga tahun lalu, ia mulai berlari. Latihan rutin itu membuahkan hasil. Badan Sendi menjadi ramping dan sehat. Kini tiap hari ia harus lari, minimal di lingkungan tempat tinggalnya di Sidoarjo. “Kalau tidak lari, saya bad mood,” ungkapnya.

Selain lari untuk menyehatkan dirinya, Sendi juga menguji kemampuannya. Ia menjajal beberapa event lari, mulai dari lari di jalan raya hingga lari lintas alam. “Bagi saya, ikutan event itu untuk have fun. Bonusnya badan sehat dan ketemu teman baru,” ujar pria yang punya catatan waktu 4 jam untuk lari marathon ini.

Susila, pelari dari Denpasar menuturkan ini kali pertama ia mengikuti trail run. “Saya dapat banyak kejutan. Biasanya lari di jalan aspal, atau taman kota yang tentu banyak kendaraan bermotor dan ada polusi. Tetapi di Taro, walau sebagian rute masih aspal, tapi ada rute-rute jalan setapak yang asri bahkan tanjakan yang disebut tanjakan jahanam. Ini surprise yang luar biasa. Suasana sejuk, keramahtamahan masyarakat dan panitia sangat menyenangkan. Apalagi foto-foto di-upload di jejaring sosial. Keren. Setiap ada fotografer, saya selalu bergaya hahahaa..,” ujar pelari yang lari bersama istrinya ini.

Andreas Kansil, Race Director dari Pandara Sport mengatakan event tahun 2016 ini dibuat agak berbeda dengan tahun sebelumnya. Rute dibuat lebih menantang namun tetap mengutamakan keselamatan pelari. “Yang spesial memang adanya kerjasama dengan Pic2Go. Begitu BIB peserta terekam oleh fotografer, langsung ter-upload di Facebook peserta. Jadi tidak perlu repot untuk meng-upload sendiri,” ujarnya. –Ngurah Budi

To Top