Nine

Aweng, “Ujian” Tiga Bulan Pertama

Aweng saat kembali dari Arab Saudi

Jika selama ini banyak kejadian menyedihkan yang menimpa Tenaga Kerja Wanita asal Nusa Tenggara Barat, maka tidak begitu dengan Aweng (52) yang sempat empat tahun bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Ia memang tidak membawa uang yang banyak dari Arab Saudi, namun ia membawa pulang kenangan baik. Kenangan akan hubungan yang dengan orang-orang di tempatnya bekerja yang memperlakukannya dengan sangat baik.

Hubungan yang baik itu membuat majikannya bahkan tidak menganggapnya sebagai seorang pembantu melainkan ia dianggap dan diperlakukan sebagai keluarga. Suasana yang ramah dari seluruh keluarga tempatnya bekerja itu memang tidak langsung ia dapatkan begitu saja, melainkan ia juga berusaha keras untuk bekerja dengan baik dan bertanggung jawab. Setidaknya pada tiga bulan pertama Aweng harus mengalami situasi yang bahkan sempat membuatnya menangis karena demikian beratnya pekerjaan yang harus ia tanggung. “Tapi itu hanya tiga bulan pertama. Saya kemudian tahu bahwa tiga bulan pertama itulah para majikan di Arab Saudi menguji para pembantu barunya,” kata Aweng.

Aweng beruntung mampu melewati semua masa itu dengan kesungguhan dan kegigihannya meski dengan begitu berat. Atas keinginannya untuk bisa membiayai sekolah tiga dari lima anaknya, tahun 2002 Aweng memutuskan untuk menjadi TKW ke Arab Saudi. Dari kampung halamannya di Lenangguar Sumbawa, Aweng berangkat ke penampungan TKW di Jakarta sebelum melanjutkan ke Arab Saudi. Di penampungan itu Aweng belajar Bahasa Arab dan belajar hal lain yang dibutuhkan selama menjadi TKW termasuk belajar memasak.

Aweng bukanlah sembarang perempuan yang memutuskan berangkat bekerja sebagai TKW jika bukan karena keadaan yang terpaksa. Perjalanan hiduplah yang membuatnya sampai ke negeri orang itu. Meski ia tidak memegang ijazah, Aweng pernah bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Sumbawa. Tapi karena satu dan lain hal, tiga bulan sebelum ujian akhir, Aweng tidak dapat mengikuti ujian sehingga ia tidak sampai memegang ijazah SPG. Namun meski tanpa ijazah, waktu belajar selama tiga tahun di sekolah pendidikan guru itulah yang membuatnya menjadi TKW yang berbeda dan memiliki kelebihan dibandingkan yang lainnya. Ia merasakan benar manfaat ilmu yang pernah diperolehnya, khususnya ilmu psikologi. “Saya tidak sempat lulus di SPG karena kesalahan saya sendiri,” katanya.

Latar belakangnya yang pernah bersekolah SPG membuat ia juga terkadang sesekali diminta menjadi pengajar di tempat penampungan TKW. Ia mengajar anak-anak muda yang menurutnya kondisi pendidikannya kurang memadai. “Kadang banyak yang tidak mengerti dan lamban,” katanya sembari mengungkapkan hal semacam itulah yang kemungkinan besar menjadi salah satu faktor mengapa banyak TKW yang disiksa majikan. Ia mengatakan hal tersebut karena akhirnya ia mengalami sendiri bagaimana menjadi seorang TKW.

Latar belakang pendidikan dan kemampuannya itulah yang membuatnya akhirnya diberangkatkan lebih lekas dari waktu yang sebenarnya masih beberapa bulan lagi ia harus berada di penampungan untuk belajar. Ia dianggap telah mampu untuk mulai bekerja di Arab Saudi. “Saya diberangkatkan lebih cepat dari yang seharusnya,” katanya. Tampaknya karena latar belakang pendidikan dan kecekatannya itu pula yang membuatnya ditempatkan di rumah pensiunan pegawai tinggi kerajaan Arab Saudi yang kerap disebutnya Baba.

DIPANGGIL NUR

Tiba di Arab Saudi ia dijemput langsung oleh keluarga majikannya. Sejak itulah ia mulai bekerja. Tiga bulan pertama adalah tiga bulan yang paling menyedihkan baginya. Belum ada keramahtamahan dari siapa pun sehingga ia merasa benar sebagai seorang pembantu. Di samping itu ia juga harus mengerjakan sendiri seluruh pekerjaan rumah yang memiliki tiga lantai itu. Dalam tiga lantai tersebut, dihuni oleh tiga istri Baba di masing-masing lantai yang berbeda. “Itu saya urus semua awalnya sebelum akhirnya datang lagi seorang pembantu dari Tailand,” katanya.

Ia mengenang saat ia harus mengangkat sendiri tabung-tabung gas ukuran sangat besar. Ia juga harus mengangkat belanjaan seperti deterjen seberat 50 kilogram maupun belanjaan lainnya yang rata-rata berat karena dibeli masing-masing dalam jumlah yang banyak. “Meski ada supir atau orang laki lainnya, tidak boleh membantu saya, harus saya kerjakan sendiri,” ujarnya.

Belum lagi tiap hari ia harus membersihkan semua perabot rumah tangga dan lainnya dengan klorok yang membuat kaki dan tangannya luka karena melepuh. “Sakitnya luar biasa,” katanya mengenang. Namun ia tetap bersabar menjalankan semua itu. Di masa-masa itulah ia masih dipanggil pembantu. Dua hal inilah yang sempat membuat air matanya menetes karena sedih. Tetapi ketika ia membayangkan anak-anaknya, semangatnya pun bangkit kembali.

Aweng yang rajin dan pandai memasak lamban laun mampu menarik hati majikannya yang selalu memanggil namanya dengan sebutan Nur karena lidah mereka tak bisa menyebut Aweng. Sejak itu ia dipanggil Nur. Tidak hanya karena rajin dan pandai memasak, Nur yang akhirnya menjadi kesayangan majikannya tergolong TKW yang jujur. Beberapa kali Nur menemukan emas-emas kecil di atas tempat tidur dan uang di saku majikannya selalu ia kembalikan. Itu terjadi dalam empat bulan pertama. “Kalau saya mau mencuci baju sering menemukan uang dan emas-emas kecil di atas seprai, tapi saya kembalikan” katanya. Majikannya selalu berterima kasih tiap kali ia mengembalikannya.

Rupanya itu salah satu bagian ujian yang sengaja diberikan majikannya. Karena itulah semakin hari ia semakin disayang majikannya. Uang-uang dan emas yang saya kembalikan itu, rupanya dikumpulkan oleh Baba dan istrinya yang kemudian semuanya diberikan pada saya saat lebaran tiba. “Ini rezekimu semua, ambillah,” kata Baba padanya. Hal inilah yang membuat Baba dan keluarganya sayang kepadanya. Ditambah lagi keikhlasan Nur merawat Baba yang sudah sepuh dan istrinya yang cacat dan kesehariannya di kursi roda.

Segala urusan keduanya tiap hari hanya diurus oleh Nur. Bahkan sampai memandikan suami istri tersebut. Meski memiliki dua istri lain yang masih sehat dan muda, tapi Nur jugalah yang menemani Baba belanja bulanan dan bahkan saat mengambil gaji pensiun. Di saat mengambil gaji itulah Nur tahu kalau majikan itu mantan pejabat negara yang masih tetap dihormati meski telah sepuh seperti itu. Begitulah keseharian Nur selama di Arab Saudi. Ia dianggap keluarga bagi majikannya. “Mereka suka bilang kalau saya ini anak mereka. Mereka juga kerap meminta saya bersabar mengurus Baba dan istrinya,” kata Nur.

Namun semua itu tidak abadi. Nur hanya empat tahun bekerja di sana dan pulang ke Indonesia setelah merampungkan kontraknya. Ia menyayangi keluarga majikannya namun ia lebih sayang lagi pada anak-anaknya. “Sudah cukup saya bekerja di negeri orang, karena sekolah dua anak saya telah selesai waktu itu. Hanya tinggal yang bungsu saja, saya rasa bisa saya urus selanjutnya,” ujarnya. Saat ia pulang bahkan telah diberikan tiket PP ke Arab saat ia ingin kembali. Namun Nur memilih tinggal bersama anak-anaknya. Begitulah, sebagai TKW Nur meninggalkan kesan dan kenangan yang baik bagi keluarga majikannya dan begitu pula dirinya, pulang kampung dengan bahagia. Ia memang tidak membawa pulang uang dalam jumlah yang banyak, namun ia mampu membuktikan bahwa menjadi TKW tidak melulu membawa kisah sedih dan buruk. “Asal ada kemauan, kerja keras dan keikhlasan, pasti pulang dengan bahagia,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan

 

To Top