Bunda & Ananda

Mengalah bukan Berarti Kalah

ilustrasi anak-anak bermain

Bagi orangtua yang memiliki anak lebih dari satu, memiliki kewajiban untuk bertindak adil. Namun, ada kalanya muncul persepsi tidak adil, pilih kasih, dan rasa lain yang kurang mengenakkan. Ada juga anak yang merasa diperlakukan tidak adil dan selalu harus mengalah. Bagaimana solusinya?
Bu Ayun memiliki dua anak. Anak pertama perempuan sedangkan yang kedua laki-laki. Mengasuh dua anak ini membuat Bu Ayun harus pandai-pandai bersikap. “Saya tidak ingin membeda-bedakan anak laki dan anak perempuan. Kalau membeli mainan, barang, atau makanan, keduanya mendapat bagian yang sama.

” Beberapa hari lalu, anak saya yang pertama mengeluh dengan mengatakan saya pilih kasih. Saya lebih memprioritaskan adiknya. Kalau ada masalah, kakak selalu disuruh mengalah. Saya kaget dengan keluhan itu,” ujar perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta ini.
Bu Ayun mengaku selama ini, ia sudah bersikap adil. Urusan ponsel, kakak yang lebih diprioritaskan. Kalau kakak beli ponsel baru, ponsel yang lama dihibahkan untuk adiknya. Kalau urusan mengantar ke sekolah, kakak yang didahulukan. Bu Ayun pun bingung, dari sisi mana ia dianggap berlaku pilih kasih dan selalu menyuruh kakak untuk mengalah.

Pengalaman Bu Ayun mungkin bisa jadi dialami orangtua lain. Seringkali orangtua mengambil “jalan pintas” dengan meminta anak yang lebih tua untuk mengalah. “Anak yang menyimpulkan dirinya terlalu sering disuruh mengalah pasti punya alasan. Minimal ia pernah mendapat perlakuan dibedakan baik secara verbal atau fisik sehingga membekas di memorinya,” ungkap Luh Kadek Pande Ary Susilawati, S.Psi. M.Pi., Psikolog.

Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini bisa terjadi karena orangtua tidak sengaja atau tidak sadar melakukannya. Misalnya, ketika anak rebutan mainan, orangtua cenderung meminta anak yang lebih tua untuk mengalah. Kalau hal ini terus-menerus dilakukan, bisa menjadi beban psikologis bagi anak yang lebih tua. Orangtua “memaksa” anak yang lebih tua untuk mengerti kondisi.

Seharusnya, jika anak rebutan mainan, orangtua harus bisa menjadi penengah. Orangtua harus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjelaskan kronologisnya. “Berikan kesempatan kepada anak untuk berargumentasi dan menyatakan pendapatnya. Setelah semua memberikan pendapat, barulah orangtua memberikan pendapat atau perlakuan yang sesuai. Orangtua juga harus tegas. Ingatkan anak untuk minta izin kalau meminjam mainan dan berterima kasih setelah menggunakan. Ini merupakan proses pembelajaran bagi anak dan orangtua,” ujar Pande Ary.
Ia juga menjelaskan peran keluarga sangat penting dalam mendidik karakter anak. Keluarga merupakan tempat pertama untuk belajar. Pondasi pendidikan budi pekerti anak mulai dari rumah. Karena itu, orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anak. Sikap orangtua sering menjadi “role model” bagi anak dalam melakoni hidupnya.

Dalam proses tertentu, bisa jadi muncul kesan orangtua pilih kasih dan anak merasa dipaksa mengalah. Bagi Psikolog yang juga pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini, mengalah tidak berarti kalah. Misalnya, ketika ada dua anak sedang bermain kemudian, si adik minta tidur ditemani bunda, si kakak harus memahami situasi tersebut. Bisa jadi, kondisi adik sedang tidak fit dan perlu istirahat. Kakak yang mengalah dalam situasi ini tidak berarti dia diabaikan. Setelah adiknya tertidur, permainan bisa dilanjutkan dengan bunda.

Jika terjadi permasalahan di antara anak-anak, secepatnya harus diselesaikan. Jangan menimbun permasalahan, apalagi jika salah satu anak selalu merasa tertekan. Hal ini bisa mengendap dalam memorinya dan suatu saat akan meledak.

“Dalam kasus yang dialami Bu Ayun, pasti ada penyebab sehingga anak pertamanya merasa selalu disuruh mengalah. Mungkin secara tidak sadar ada perlakuan baik verbal maupun fisik yang dialami anaknya sehingga hal itu memunculkan kesimpulan dari sisi anak atas perlakuan orangtua kepadanya. Orangtua juga harus peka dengan respons yang ditunjukkan anak. Segera selesaikan masalahnya. Ajak anak untuk bicara dan berikan dia kesempatan mengungkapkan pendapatnya,” ujar Pande Ary.

Ia juga menyarankan perlunya menggali informasi dari pihak orangtua untuk mencari akar penyebab masalah antar anak mereka. Seringkali orangtua mengabaikan sehingga menganggap sepele permasalahan antara anak. Untuk menghindari terjadinya hal serupa, orangtua harua membuat aturan yang tegas dalam pengasuhan anak. Selalu membuka ruang dialog dengan anak jika terjadi masalah. Pola “problem solving” harus menjadi acuan. Ada masalah, ada klarifikasi, ada solusi.

Anak juga harus paham kapan saatnya mengalah karena situasi dan kondisi serta kapan saatnya harus menunjukkan sikap yang mengalah tidak melulu yang lebih tua. Orangtua pun harus menjadi penengah yang adil bagi anak. Semua proses ini harus dijalankan secara sadar sehingga menjadi pembelajaran bersama. -Ngurah

To Top