Connect with us

Sudut Pandang

Jangan Terpaku di Satu Pasar

Published

on

Hery Angligan

Perajin Bali seharusnya tidak perlu mematok target produknya harus masuk hotel bintang internasional.  Tiap produk punya klasifikasi masing-masing.  Turis yang datang ke hotel bintang 5, belum tentu akan belanja. Bisa saja mereka hanya ingin menikmati keindahan hotel dan  makanan.  Perajin punya pasar tersendiri berdasarkan level produknya. Perajin kelas biasa punya pasar tersendiri, seperti dari Cina, Hongkong,  Taiwan, termasuk pasar domestik, mereka lebih suka datang ke Pasar Sukawati.  Beda dengan tukang pahat kayu yang sudah  punya nama, produknya terpajang di gallery. Demikian diungkapkan mantan Presiden Direktur Hotel Indonesia  Natour, Hery Angligan  di Kuta, pekan lalu.

Dalam pandangannya, perajin dari  Guwang dan Sukawati selalu laku.  Namun, banyak perajin sering mengeluh, produknya tidak bisa masuk ke jaringan hotel internasional.  Menurutnya, kalau mau masuk langsung memang tidak bisa. Tapi, di dalam hotel internasional, biasanya ada  drugstore. Perajin bisa menitip produknya di sana, dengan sistem konsinyasi.

Ia menilai, produk lokal Bali sangat  diminati para tamu, seperti  lukisan dan  patung.  Apalagi, yang sekarang sedang ngetop, perak, hanya saja,  kalah dalam urusan desain.  “Banyak desain perak dari luar, sehingga perajin lebih banyak hanya berproduksi.  Misalnya, artis Happy Salma, dia suka mendesain produk, sementara, proses produksinya  dikerjakan para perajin,” ujar praktisi pariwisata ini.

BACA  Makin Kepo makin Penasaran

Ia menegaskan, perajin jangan hanya bisa mengeluh, tapi tidak bisa memproduksi yang bagus. “Ada perajin yang bisa memproduksi bagus tapi tidak mau membuat  banyak.  Kalau sudah  berhubungan dengan pasar, ketersediaan bahan dan hasil produksi harus terjaga.  Sekali dia menerima order 10, besok dia tidak bisa mengatakan, waduh saya sibuk, banyak upacara adat, tidak bisa produksi sebanyak itu. Nah, kalau sudah begini,  ini yang bahaya,” ujarnya.

Advertisement

Menurutnya, pemikiran untuk memasukkan produk ke hotel internasional atau  bintang 5, juga terlalu  klise. “Mengapa kita terpaku pada satu pasar, yang notabene  turisnya belum tentu belanja.  Hal ini, tentu tidak fair untuk perajin. Hotel bintang 5 hanya ada di Nusa Dua.  Kalau ada perajin dari Laplapan dan Bone, masa mereka harus  ke Nusa Dua. Mengapa pemerintah tidak buat sistem agar turisnya langsung  datang ke tempat asalnya,” sarannya.

Ia mencontohkan, misalnya, kecak jangan dibawa ke hotel, tapi bawa turis datang justru ke tempat asal kecak itu berada. Pemerintah yang harus menyiapkan  infrastruktur dan pemetaan masing-masing unggulan, supaya pemandu wisata membawa turisnya  langsung ke sana.  “Misalnya Gianyar. Sekarang, kalau turis datang belanja langsung ke tempatnya, siapa  yang mendapat income,  tentu Gianyar,” katanya.

BACA  Makin banyak Kegiatan makin banyak Olahraga

Yang perlu juga diperhatikan, kata dia, soal teknologi. Buatlah website dan terus update di media sosial.   “Coba kita lihat toko-toko yang ada di areal Kuta atau Seminyak. Sedikit yang belanja, karena sebagian besar hanya showroom. Mereka mainnya grosiran whole selling, karena mereka punya website.  Kembali kepada pemerintah dalam artian pemkab, PHR dapat 10%, pakai itu untuk memberikan pelatihan dan bantuan  website kepada perajin.  Kemudian,  siapkan wifi di masing-masing kecamatan, sehingga ada koneksi internet sehingga perajin bisa browsing,” imbuhnya.

“Tugas pemerintah hanya membuka jalan. Jangan hanya memberi pelatihan,   tapi siapkan infrastruktur , akses IT dan dan kendaraan gampang.  Para pengusaha kecil  sulit cari KUR. Banyak peminat KUR, tapi karena syaratnya begini begitu. Diminta rekening bank,bla-bla. Akhirnya, perajin UMKM tak bisa mendapatkan tambahan modal.  Pemerintah ambil pajak dari rakyat, memang sudah sewajarnya kewajiban pemerintah untuk memfasilitasi,” kata lelaki yang kini lebih banyak berperan sebagai konsultan di bidang pariwisata dan pertanian ini.  –Wirati Astiti

Advertisement
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sudut Pandang

Cara dan Strategi Perlindungan dan Kesejahteraan Perempuan saat Pandemi Covid-19

Published

on

Jakarta (cybertokoh.com) –

Pandemi Covid-19 yang tengah melanda Indonesia menimbulkan dampak yang luas pada berbagai aspek terutama terhadap kelompok rentan seperti bayi, balita, anak-anak, ibu mengandung atau menyusui, penyandang disabilitas, dan lansia. Untuk itu, KemenPPPA tidak tinggal diam dan terus memastikan terpenuhinya perlindungan dan kesejahteraan pada kelompok rentan termasuk, perempuan dan anak.

Dalam live streaming bersama BNPB Indonesia , Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Menteri PPPA Bintang Puspayoga, berbicara mengenai “Cara dan Strategi Perlindungan dan Kesejahteraan Perempuan pada Masa Pandemi Covid -19”. Dampak dari pandemik ini memiliki pengharuh yang berbeda untuk perempuan karena memiliki kebutuhan khusus yang harus dipenuhi.Selain melakukan refocusing anggaran dan Kemen PPPA telah melakukan upaya untuk mendorong terwujudnya keadilan gender di masa pandemik Covid-19 saat ini. Diantaranya memastikan agar protokol dan strategi penanganan Covid-19 menjadi lebih responsif gender dan ramah terhadap anak serta mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak.

Selain itu, Kemen PPPA juga telah menyusun Program Gerakan Bersama Jaga Keluarga Kita (Berjarak) sebagai upaya bersama untuk memastikan bahwa perempuandan anak aman bersama keluarga dalam menghadapi bahaya paparan Covid-19. Program berjarak ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, desa/kelurahan, para pemangku kepentingan lainnya termasuk PKK, lembaga masyarakat, dunia usaha, akademisi, lembaga keagamaan dan lain-lain.

Advertisement

Kemen PPPA telah mengumpulkan data terpilah perempuan dan anak dari 21 Provinsi yang memudahkan untuk memantau kondisi kelompok rentan terdampak, untuk kemudian menindaklanjuti sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Saat ini, untuk jumlah pasien positif dirawat sebanyak 26 anak dan 94 perempuan, pasien positif sembuh sebanyak 9 anak dan 27 perempuan, dan untuk pasien positif meninggal ada sebanyak 6 anak dan 141 perempuan. (Data Pokja Berjarak, 20 April 2020).

BACA  Makin Kepo makin Penasaran

Menteri Bintang juga terus berkoordinasi dengean berbagai K/L organisasi, tokoh masyarakat, pemangku kepentingan lainnya untuk terus bersinergi dan saling mendukung hingga melewati kondisi ini. Harapannya, semoga semua upaya yang telah dilakukan oleh seluruh pihak baik pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat demi melindungi dan meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak di masa pandemi Covid-19 ini, dapat terus menjaga perempuan dan anak-anak Indonesia agar tetap sehat, bahagia, dan sejahtera serta bisa melewati masa pandemi dengan kuat.

“Ayo kita bersama-sama menjadi bagian dari solusi dan mengambil peran dalam melawan Covid-19. Satu hal yang harus kita perhatikan bersama, tetap di rumah, gembira bersama keluarga di rumah,” katanya. (Sri Ardhini)

Advertisement
Continue Reading

Sudut Pandang

Pesanan Sepi, Manfaatkan Waktu untuk Bercengkrama

Published

on

cybertokoh.com – Banyak pelaku UKM yang terdampak penyebaran virus korona. Salah satunya yang bergerak di bidang fashion di Bali. Biasanya menjelang Hari Raya Nyepi permintaan busana adat mengalami peningkatan dan mereka bisa tersenyum.

“Namun saat ini, suasananya tergolong kategori prihatin. Kami para UKM sedang bokek. Sepiiiiiii sangatttt, termasuk online juga tak digapai pembeli,” ujar Dewi Anyar, pemilik “Anyar Butik” di kawasan Jalan Sutomo, Denpasar. Dikatakannya semua pameran yang biasa diikuitnya, kali ini juga ditunda sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. “Saat ini orang-orang lebih memikirkan isi perut dan virus,” katanya lebih lanjut.

Dewi Anyar juga mengatakan, dampak virus korona terhadap industri fashion terlihat jelas. Dunia juga terkena imbasnya. Berbagai perhelatan fashion dan pekan mode yang sudah dijawalkan pun tidak jadi digelar dan harus ditunda bahkan dibatalkan. “Jadi saat ini sebaiknya kita semua di Bali khususnya, mari ikuti anjuran pemerintah. Karena, tujuannya demi pencegahan semakin menjalarnya wabah korona ini,” ungkapnya.

Selain itu, berbicara mengenai imbauan pemerintah, salah satunya bekerja di rumah saja, dikatakannya agar tidak gabut, Dewi Anyar memilih untuk memanfaatkan waktu lebih banyak bercengkerama dengan keluarga, terutama menjadikannya quality time dengan dua anaknya yang tengah menginjak remaja. “Kami juga berdoa bersama agar keadaan segera membaik kembali,” ucapnya sambil menambahkan ia juga mengisi waktu dengan corat-coret membuat desain dan memasang payet untuk memperindah kebaya-kebaya kreasinya yang belum terjual. (Sri Ardhini)

Advertisement

BACA  Pengalaman Adalah Guru Berharga
Continue Reading

Sudut Pandang

Antisipasi Korona, Hindari Keramaian

Published

on

cybertokoh.com – Berbagai imbauan dikeluarkan pemerintah terkait pencegahan perkembangan dan penyebaran virus korona. Salah seorang warga Kota Denpasar, Anak Sagung Sagung Inten, yang lebih dikenal dengan nama Byang Mangku Hipno, mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan segala upaya agar kita aman. Jadi  anjuran apapun itu sepanjang dapat menyelamatkan kita dari bahaya virus korona  patut ditanggapi dengan positif.

Dikatakannya kita sebagai warga , tak perlu panik apalagi menambah kisruh keadaan. “Yang terbaik adalah mentaati dan melakukan tindakan sesuai anjuran pemerintah seperti mencuci tangan yang bersih dan lebih intensif, menjaga pola makan atau pola hidup sehat. Begitu juga dengan kondisi tubuh harus dijaga tetap fit, agar segala penyakit tidak mudah menghampiri,” ujar pemilik Rumah Boneka di kawasan Jalan Kebo Iwa, Denpasar ini.

Mengenai langkah lainnya yakni, tidak melakukan jabat tangan saat bertemu seseorang untuk sementara waktu menurut Byang Mangku juga masuk akal. Nanti jika keadaan aman dan kita berada di lingkungan yang sehat, tradisi kita bersalaman bisa dilakukan lagi. Kami saat ini menyambut tamu cukup dengan  tersenyum dan hati yang gembira,” ungkapnya.

BACA  Dua Proyek Tertunda

Sementara mengenai imbauan untuk selalu menjaga kesehatan, kebersihan , olah raga, menjaga pikiran untuk tidak stres, juga pola hidup sehat, sepatutnya memang sudah menjadi bagian dari keseharian kita, untuk tidak mudah terserang penyakit bukan hanya pada saat adanya virus corona. Hal ini dikatakan pula oleh Putu Rupani, S. E., seorang Konsultan Retail dan Kemasan Produk UMKM Bali, yang berkantor di Jalan Sari Gading Denpasar  dan Yanni Handayani, pemilik  Cosmic Reflexology di Jalan Pulau Tarakan, Denpasar.

Advertisement

Menurut Rupani, jika saat ini kita tidak lagi bersalaman dan cukup dengan mencakupkan tangan, tentu satu sama lain pada maklum. “Ketika kita merasa lebih sreg dan harus berjabat tangan, maka sebaiknya bekali diri  tisu basah, karena didalamnya mengandung sanitizer. Jadi sehabis bersalaman, usap tangan menggunakan tisu basah, setelah itu, untuk lebih yakin cuci tangan memakai sabun. “Namun. semua kembali kepada kita, asal kita tahu bagaimana mengantisipasi. Jangan sampai karena ketakutan dan kepanikan  kita tak bisa beraktivitas ujung-ujungnya kita yang rugi ,” tandas Rupani.

Untuk menjaga kesehatan, Yanni Handayani mengatakan selama ini dilakukan dengan mengonsumsi makan yang sehat dan rutin olahraga. “Selain itu saya juga tetap mengikuti perkembangan terkini mengenai virus korona ini dari sumber yang dapat dipercaya. Jangan sampai kita terpengaruh mitos yang tidak ilmiah dan tidak terbukti, termasuk tidak membeli suplemen sembarangan ” katanya.

BACA  Makin Kepo makin Penasaran

Sedangkan tambahan imbauan untuk menghindari tempat keramaian serta menghindari untuk bepergian jauh juga ketiga ibu ini setuju. Dan bersama pula mereka mengajak kita semua berdoa agar kondisi ini segera berakhir, melihat dampak yang ditimbulkan sangat luas.

Jika dampak akibat adanya virus korona, juga diakui Byang Mangku berimbas  pada usahanya. Produk karya tangannya yang penjualan dilakukan di beberapa lokasi wisata omzetnya turun drastis.  Hanya untuk pembeli lokal hingga saat ini masih jalan meski ada penurunan dari biasanya. (Sri Ardhini)

Advertisement
Continue Reading

Tren