Kolom

JGERR

Gotong-royong sudah kropos. Solidaritas amblas. Persatuan sudah retak. Rasa kebangsaan menipis. Kelompok-kelompok dalam masyarakat kian fanatik dan militan memperjuangkan kepentingannya sendiri. Rakyat selalu dijadikan senjata untuk menang, tapi setelah berhasil, dibiarkan nangis bombay!
“Aku setuju! Tapi aku menangis bukan putus asa! Aku menangis untuk melemparkan kepedihan supaya jangan ngamuk di hatiku jadi penyakit. Kalau tidak menangis bombay, kita akan frustasi. Dan kalau sudah frustasi kita bisa edhan, melakukan tindakan di luar perhitungan!”
“Tidak! Kita tidak boleh frustasi! Seribu satu bencana biasa datang dalam berjuang! Tapi, itu memang dinamika orang berjuang. Dan menangis bombay itu wajar, tanda saraf kita masih peka. Bahkan penting, untuk membersihkan kotoran batin. Jadi terima dulu seluruh kenyataan pahit itu. Menangis bombaylah, tanda kita normal. Setelah itu, jgerr! Baru bangkit lagi, bangkit setelah tahu apa sakit kita! Setelah lebih jelas, apa tujan kita! Jgerr! Jgerr! Teruskan perjuangan! Jgerr!”
Lalu kedua mahasiswa itu berdiri dan mengulurkan tangan kepada Amat. Mereka mahasiswa yang ditugaskan dosennya, Sugi, menantu Amat, mewawancarai beberapa orang tua, tentang bagaimana mengisi kemerdekaan.
Amat bengong. Tapi ia terpaksa menyambut uluran tangan untuk berjabatan itu. Bu Amat, yang muncul terlambat membawa teh, kecewa.
“Kok sudah pulang, Pak?”
Amat masih bingung.
“Iya. Baru sampai nangis bombay, kok mereka merasa sudah cukup. Katanya mau pertandingan futsal. Padahal Bapak mau mengulas tentang interpretasi kebangsaan seperti yang ada dalam berita pertunjuikan lakon Jgerr di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Yah, begitulah anak muda sekarang, futsal lebih penting!”
Bu Amat meletakkan baki minuman di meja.
“Nangis bombay itu apa?”
“Menangis merengek berlebih-lebihan, seperti film Bombay, pendeknya jelek!”
“Kalau jelek kenapa bapak bilang penting?”
“Yang jelek, tapi kalau dipergunakan untuk kebaikan, jadi penting! Seperti WC, itu kan gudang kotoran, jorok, tapi penting, ya, kan?”
Amat ketawa. Bu Amat meringis.
“Hati-hati bicara kepada anak muda. Orangnya tidak sabaran. Sering mereka hanya dengar potongan kalimat. Apalagi bapak suka pakai kalimat majemuk, panjang, di depan mancing-mancing supaya diperhatikan, buntutnya baru isi sebenarnya yang lain. Tapi mereka sudah keburu pergi.”
Amat terkejut.
“Dan Jgerr itu apa lagi?”
“O, itu, judul pementasan drama di TIM. Di situ dikupas gotong-royong sering dipergunakan pemimpin untuk kepentingannya sendiri, akibatnya seruan untuk kerja bakti memperbailki selokan, warga tak ada yang peduli, karena mereka curiga itu hanya untuk mengamankan rumah RW, bukan seluruh warga.”
“Jgerr-nya di mana?”
“Rasa kebangsaan dan persatuan itu bangkit bukan hanya karena ada musuh bersama, yang setelah tak ada musuh lalu menipis. Tidak! Persatuan dan semangat kebangsaan itu ada karena sejarah kita memikul penderitaan bersama selama 350 tahun, karena rasa cinta!”
“Lalu jgerr-nya?”
“Jgerr! Semua orang tersentak-sontak, terkejut,  seperti mendengar ledakan bom, oleh cara menafsir yang baru itu!”
“Pak!”
Bu Amat terkejut. Berdiri, menunjuk ke mahasiswa yang mewawancarai Amat lewat lagi. Keduanya menangis.
Amat langsung menghampiri.
“Ada apa?”
“Kami kalah, Pak!”
“Kalah? Kok cepat sekali?”
“Habis belum sempat main sudah kalah! Pemain andalan kami tidak bisa datang karena ada upacara di rumahnya!”
Keduanya kembali menangis.
“Begitu saja kok nangis?”
“Habis, kan Bapak bilang nangis bombay itu penting!”
Lalu keduanya tertawa dan bergegas pergi.
“Jgerr! Matur suksma, Pak Amat!”

To Top